Tradisi ADU KEPALA di Bima Ternyata Tidak Untuk Saling Membunuh, Melainkan Untuk Mengobarkan Jiwa Patriotisme

AKURAT BANTEN - Indonesia kaya dengan tradisi dan budaya, di Kabupaten Bima, tepatnya di kecamatan Wawo, memiliki kesenian yang menjadi budaya yaitu Ntumbu (Adu Kepala). Ntumbu ini merupakan satu atraksi seni budaya tradisional Bima yang cukup unik namun berbahaya bagi orang awam. Atraksi Ntumbu ini hanya ada satu-satunya didunia, yakni di desa Ntori dan Desa Maria Kecamatan Wawo.
Atraksi ini merupakan salahsatu kekayaan budaya lokal milik Bima yang dapat dikemas menjadi atraksi yang dapat menrik wisatawan. Desa Maria yang merupakan salah satu desa wisata yang telah ditetapkan dalam 99 desa wisata oleh Pemerintah Provinsi NTB, pemudanya juga memiliki pemain Ntumbu. Yang senantiasa belajar warisan leluhur ini.
Atraksi seni Ntumbu biasanya dipentaskan saat menerima tamu istimewa saat berkunjung di kecamatan Wawo dan di Bima pada umumnya. Ntumbu ini dimainkan berpasangan. Ada 2 atau 4 pasangan lelaki dan 1 orang sang guru yang akan mengendalikan para pemain ntumbu.
Baca Juga: Menurut Penelitian, Asam Amino Esensial Dalam Protein 'ULAT SAGU' Dapat Mencukupi Kebutuhan Tubuh
Dalam permainan dan atraksi ntumbu diselingi dengan usik tradional dari gendang, serone dan gong. Seorang pemain berdiri menunduk mengarahkan kepalanya kea rah lawan, saat sudah siap lawan akan berlari dengan jarak 10-15 meter menabrak kepala lawan, atau mengadu kepala. “Duk” bunyi seperti ini biasanya akan terdengar disekitar penonton.
Bagi para pemain yang melakukan atraksi ntumbu, bukan sembarangan orang. Ada satu orang guru pengendali yang berfunsi sebagai tetua yang selalu mengawasi dan memberikan instruksi kepada para pemain. Namun yang berbahaya bila pemain Ntumbu ini tidak puas melakukan atraksi, maka tembok, pagar, tiang listrik akan ditubruknya menggunakan kepala.
Setelah itu bagaikan orang yang keserupun ia berdiri sambal menggerakan kepala seakan sadar. Salah satu pemain Ntumbu Ali (47) asal Desa Ntori, mengaku sebelum melakukan antraksi mereka berdoa untuk suksesnya atraksi Ntumbu ini.
“Saat atraksi Ntumbu, seakan-akan kami menabrak bayangan kami.” Jelasnya.
Baca Juga: Perbedaaan Rasa 'ULAT SAGU' Mentah Dan Matang, Ternyata Memiliki Sensasi Rasa Yang Berbeda!
Menurut Ali, atraksi Ntumbu ini di era tahun 80-90 kerap dipentaskan di situs Uma Lengga. Biasanya 3-4 kali dalam 1 Minggu parawisatawan datang dengan menggunakan bis wisata, untuk melihat atraksi Ntumbu.
“Semoga dengan Ditetapkan Desa Maria sebagai Desa Wisata, bisa berkolaborasi dengan sanggar dari Desa Ntori untuk mementaskan atraksi Ntumbu,” tuturnya.
Di Desa Ntori kecamatan Wawo Bima, Ntumbu diwariskan turun temurun oleh satu keluarga atau keturunan. Dan jarang bisa dimainkan oleh orang lain di luar lingkungan keluarga itu. Sebelum bertanding (Beradu Kepala), salah seorang yang tertua di antara mereka memberikan air doa dan mantera-mantera kepada seluruh anggota pemain.
Mantera itu adalah ilmu kebal sehingga ketika mereka melakukan adu kepala tidak merasakan sakit dan tidak benjol atau berdarah akibat benuran kepala itu. Atraksi Adu Kepala diiringi oleh alunan musik tradisonal Bima yaitu dua buah gendang, satu serunai, gong, dan tawa-tawa.
Baca Juga: 48 Tahun Membangun, Summarecon Serpong Tumbuh Jadi Kota Metropolitan Baru
Ketika musik dimainkan, beberapa orang berlaga di depan seperti gaya pencak silat lalu saling menyerang dengan kepala. Menurut para tetua di Desa Ntori Ibrahim Abu, menceritakan bahwa Atraksi Adu Kepala ini sempat juga dilarang karena ada pandangan bahwa atraksi ini bertentangan dengan ajaran Islam.
Karena kepala adalah simbol kehormatan seseorang jadi alangkah hinanya jika diadu. Namun ada juga kalangan yang berpendapat bahwa hal itu adalah bagian dari tradisi untuk menggugah semangat patriotisme membela Kerajaan.
Atraksi Ntumbu telah ada pada zaman kesultanan Bima pada abat ke 17. Hampir 90 porsen atraksi kesenian tradisional Bima didominasi oleh atraksi ketangkasan yang menggambarkan semangat patriotisme dan kepahawanan. Hal itu dibuktikan dengan penggunaan alat-alat ketangkasan dan perlengkapan perang seperti parang, tombak, keris dan lain-lain dalam setiap atraksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 3Sengketa Honor LKM Ciomas: Penagihan Kredit Tembus Rp856 Juta, Upah Tim Likuidasi Malah Menggantung
- 4Adik Eks Kepala BNPB Diduga Gunakan Dana Bencana untuk Beli Saham, KPK Bongkar Kasusnya
- 5UMKM Wajib Tahu! Cara Daftar Sertifikat Halal Online, Ada 1,35 Juta Kuota Gratis pada 2026
- 6Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!
- 7Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 8Haaland Langgar Aturan Aneh Maresca di Liga Champions, Tapi Justru Jadi Pahlawan Man City di Tengah Kekalahan
- 9Yarmolyuk Menanduk Jacquet di Kotak Penalti, Kok Liverpool Malah Tak Dapat Penalti? Ini Aturannya!
- 10Chelsea Ketar-ketir Tanpa Reece James, 3 Gelandang Ini Masuk Radar Xabi Alonso untuk Januari 2027









