AS Minta Warganya Tinggalkan Iran, Rubio Tegaskan Ancaman Pembatasan Perjalanan
Akurat Banten - Pemerintah Amerika Serikat kembali mengeluarkan peringatan tegas kepada seluruh warganya terkait situasi keamanan di Iran yang dinilai semakin berisiko.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, secara jelas meminta agar tidak ada warga negaranya yang melakukan perjalanan ke Iran dalam kondisi apa pun.
Dalam pernyataannya, ia juga menekankan pentingnya langkah cepat bagi warga AS yang masih berada di wilayah tersebut untuk segera meninggalkan Iran demi keselamatan mereka.
" Tidak ada warga Amerika yang boleh bepergian ke Iran dengan alasan apa pun. Kami kembali menyerukan agar warga Amerika yang saat ini berada di Iran untuk segera pergi," kata Rubio.
Lebih lanjut, Rubio menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak muncul tanpa dasar, melainkan merupakan tindak lanjut dari langkah strategis pemerintah AS dalam melindungi warga negaranya di luar negeri.
Baca Juga: Ramadhan 1447 H dan Pendidikan Karakter: Menata Hati, Mengasah Prestasi
Ia menyebut bahwa Iran kini telah ditetapkan sebagai Negara Pendukung Penahanan yang Tidak Sah, sebuah status yang diberikan berdasarkan kebijakan terbaru pemerintah.
Penetapan ini, menurut Rubio, merupakan bagian dari implementasi perintah eksekutif yang sebelumnya dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk melindungi warga Amerika dari potensi penahanan yang dianggap tidak sah di luar negeri, termasuk di negara-negara dengan risiko tinggi seperti Iran.
Selain itu, Kongres AS juga telah memperkuat langkah tersebut melalui pengesahan Undang-Undang Pemberantasan Penahanan yang Tidak Sah tahun 2025.
Baca Juga: THR Pensiunan 2026 Segera Cair Ini Perkiraan Jadwal dan Besaran yang Dinanti Jelang Lebaran
Dengan adanya payung hukum tersebut, Departemen Luar Negeri memiliki kewenangan lebih luas untuk mengambil tindakan, termasuk menetapkan negara tertentu sebagai berisiko tinggi bagi warga AS.
Rubio menegaskan bahwa jika Iran tidak menunjukkan perubahan sikap, pemerintah AS tidak akan ragu untuk mengambil langkah tambahan yang lebih tegas.
Ia bahkan mengungkapkan kemungkinan diberlakukannya pembatasan perjalanan berbasis geografis terhadap penggunaan paspor AS.
" Jika Iran tidak berhenti, kami terpaksa akan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan, termasuk rencana pembatasan perjalanan geografis pada penggunaan paspor AS ke, melalui, atau dari Iran," kata Rubio.
Baca Juga: THR Pensiunan 2026 Segera Cair Ini Perkiraan Jadwal dan Besaran yang Dinanti Jelang Lebaran
Di sisi lain, pendekatan Amerika Serikat terhadap Iran tidak hanya terbatas pada kebijakan diplomatik, tetapi juga mencakup kesiapan di sektor pertahanan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan bahwa pemerintah membuka berbagai opsi dalam menghadapi dinamika hubungan dengan Iran.
Dalam keterangannya kepada media saat kunjungan ke Colorado, ia menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi prioritas utama pemerintah.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa militer Amerika Serikat telah menyiapkan berbagai skenario sebagai langkah antisipasi apabila negosiasi tidak mencapai hasil yang diharapkan.
Baca Juga: THR Pensiunan 2026 Segera Cair Ini Perkiraan Jadwal dan Besaran yang Dinanti Jelang Lebaran
“ Iran harus membuat kesepakatan. Iran memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan. Itulah hasil yang lebih diinginkan presiden,” ucap Hegseth.
Ia menjelaskan bahwa tugas utama pihaknya adalah menyediakan berbagai opsi strategis bagi presiden, termasuk skenario yang lebih tegas jika diperlukan.
Dengan kata lain, pemerintah AS ingin memastikan bahwa semua kemungkinan telah dipertimbangkan secara matang dalam menghadapi situasi ini.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan tindakan militer, Hegseth tidak menutup peluang tersebut.
Ia menegaskan bahwa seluruh opsi masih berada di atas meja dan dapat digunakan sesuai dengan perkembangan situasi ke depan.
Baca Juga: THR Pensiunan 2026 Segera Cair Ini Perkiraan Jadwal dan Besaran yang Dinanti Jelang Lebaran
Pernyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa meskipun diplomasi diutamakan, Amerika Serikat tetap bersiap menghadapi skenario terburuk.
Situasi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara kedua negara, yang berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas kawasan.
Dengan adanya peringatan ini, pemerintah AS berharap warganya dapat lebih waspada dan memprioritaskan keselamatan dalam setiap keputusan perjalanan internasional.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 3Sengketa Honor LKM Ciomas: Penagihan Kredit Tembus Rp856 Juta, Upah Tim Likuidasi Malah Menggantung
- 4Adik Eks Kepala BNPB Diduga Gunakan Dana Bencana untuk Beli Saham, KPK Bongkar Kasusnya
- 5UMKM Wajib Tahu! Cara Daftar Sertifikat Halal Online, Ada 1,35 Juta Kuota Gratis pada 2026
- 6Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!
- 7Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 8Haaland Langgar Aturan Aneh Maresca di Liga Champions, Tapi Justru Jadi Pahlawan Man City di Tengah Kekalahan
- 9Yarmolyuk Menanduk Jacquet di Kotak Penalti, Kok Liverpool Malah Tak Dapat Penalti? Ini Aturannya!
- 10Chelsea Ketar-ketir Tanpa Reece James, 3 Gelandang Ini Masuk Radar Xabi Alonso untuk Januari 2027









