Banten

Rupiah Menguat ke Rp 17.535 per Dolar AS, Tembus Level Tertinggi dalam Hampir 4 Bulan

Viona Sebastian Nolani | 9 September 2026, 15:06 WIB
Rupiah Menguat ke Rp 17.535 per Dolar AS, Tembus Level Tertinggi dalam Hampir 4 Bulan
Ilustrasi uang rupiah - Mufid Majnun /Unsplash

AKURAT BANTEN - Rupiah Indonesia mencatat penguatan hingga mencapai posisi tertinggi dalam hampir empat bulan pada Rabu, sekaligus menjadi penopang bagi sejumlah mata uang negara berkembang di Asia di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya aliran investasi ke Indonesia.

Indeks MSCI untuk mata uang negara berkembang global turut naik tipis 0,1% terhadap dolar AS setelah mata uang Amerika Serikat berada di bawah tekanan akibat kenaikan harga minyak menjelang rilis data inflasi AS yang dinantikan pasar pada akhir pekan ini.

Di antara mata uang kawasan, rupiah mencatat penguatan paling besar dengan menyentuh level 17.535 per dolar AS, posisi terkuatnya sejak pertengahan Mei.

Kepala Ekonom Trimegah Securities, Fakhrul Fulvian, mengatakan penguatan rupiah pada perdagangan tersebut didorong oleh pelemahan dolar AS secara global serta kondisi arus modal yang semakin membaik.

Baca Juga: Anak Krakatau Kembali Bergejolak, 3 Gunung Api Lain di Indonesia Juga Meletus

"Perkiraan kami tetap sekitar 11 miliar dolar AS, jadi saya tidak akan mengatakan kerentanan rupiah telah hilang."

Sepanjang tahun ini, rupiah masih tercatat melemah sedikit di atas 5%, sehingga menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Tekanan terbesar terhadap rupiah terjadi pada kuartal II 2026 ketika mata uang tersebut terdepresiasi 5,2% akibat perekonomian Indonesia menghadapi gejolak harga minyak mentah serta kekhawatiran mengenai disiplin fiskal, independensi bank sentral, dan aturan di pasar saham.

Menurut Fulvian, Indonesia masih membutuhkan aliran dana asing dalam jumlah besar untuk menjaga kondisi eksternal ekonomi tetap berada pada tingkat yang aman.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi dan Terdengar Dentuman, BRIN Ungkap Fakta soal Potensi Tsunami

"Perkiraan kami tetap sekitar 11 miliar dolar AS, jadi saya tidak akan mengatakan kerentanan rupiah telah hilang."

Sementara itu, ringgit Malaysia mengalami pelemahan ke level 4,0680 per dolar AS dan berada tidak jauh dari posisi terendahnya sejak pertengahan Agustus.

Pergerakan positif juga terlihat di pasar saham Asia dengan indeks MSCI EM Asia yang mencakup pasar utama seperti Korea Selatan dan Taiwan, yang didukung perusahaan teknologi serta industri kecerdasan buatan, sempat naik hingga 1%.

Indeks KOSPI Korea Selatan bahkan menguat hingga 2,3% dalam perdagangan tersebut.

Saham Samsung Electronics ikut naik hingga 2%, sedangkan saham SK Hynix melonjak hingga 5% dan berpotensi mencatat kenaikan selama empat sesi berturut-turut.

Kinerja saham perusahaan chip tersebut turut mendapat dukungan setelah Philadelphia Semiconductor Index menguat 1,3% pada perdagangan sebelumnya.

Di kawasan Asia Tenggara, indeks saham Jakarta justru melemah 0,5%, sementara bursa Taipei dan Manila masing-masing mencatat kenaikan 0,4%.

Pasar saham Thailand bergerak sedikit melemah, sedangkan bursa Malaysia relatif tidak mengalami perubahan berarti.

Indeks FTSE Straits Times Singapura terkoreksi hingga 1,1% dan berada di jalur untuk membukukan penurunan selama tiga sesi perdagangan secara beruntun.

Fulvian menilai pelemahan pasar saham Singapura belakangan ini antara lain merupakan dampak dari penguatan yang sebelumnya telah terjadi.

"Saya melihat pelemahan Singapura baru-baru ini sebagian sebagai konsekuensi dari kekuatannya sebelumnya. Setelah menjadi salah satu pasar terkuat di Asia, memburuknya kondisi global secara alami memicu aksi ambil untung dan penyesuaian valuasi," kata Fulvian.

Menurut Fulvian, koreksi tersebut belum menunjukkan berakhirnya prospek jangka panjang pasar saham Singapura, melainkan lebih mencerminkan proses penyesuaian harga setelah bursa tersebut menjadi salah satu pasar dengan performa terbaik di Asia.

Fulvian menyebut kondisi tersebut sebagai "penyesuaian harga salah satu pasar dengan kinerja terkuat di Asia" di tengah situasi ekonomi global yang semakin kurang mendukung.

Di pasar valuta asing, dolar Singapura masih bergerak stabil, sedangkan baht Thailand juga tidak banyak berubah.

Peso Filipina sedikit melemah ke level 62,421 per dolar AS, sementara won Korea Selatan dan dolar Taiwan bergerak sedikit menguat terhadap dolar AS.

Di sisi lain, yuan China menguat terhadap dolar AS dan bergerak di sekitar level tertinggi dalam 3,5 tahun setelah data inflasi China menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan.

Pertumbuhan ekspor China yang lebih cepat dari ekspektasi turut memberikan sentimen positif terhadap yuan dan membantu menjaga mata uang tersebut tetap berada di level yang kuat.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.