Banten

BRIN Ungkap Cara Satelit Deteksi Karhutla di Indonesia Hanya dalam 30 Menit, Begini Sistemnya

Viona Sebastian Nolani | 6 September 2026, 13:21 WIB
BRIN Ungkap Cara Satelit Deteksi Karhutla di Indonesia Hanya dalam 30 Menit, Begini Sistemnya
Sistem Hotspot BRIN Deteksi Dini Karhutla, Olah Data Satelit dalam 30 Menit. - brin.go.id

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus melakukan pengembangan sistem pemantauan titik panas (hotspot) berbasis data satelit untuk memperkuat deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Teknologi tersebut mampu mengolah informasi dari satelit menjadi data titik panas dalam waktu sekitar 30 menit.

Kecepatan ini memungkinkan indikasi kebakaran segera diketahui sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum api menyebar lebih luas.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Andy Indradjad, mengatakan keberadaan sistem hotspot.brin.go.id sangat dibutuhkan untuk mengawasi wilayah Indonesia yang luas dan tidak seluruhnya mudah dipantau secara langsung.

Baca Juga: Dinkes Kota Tangerang Siagakan Fasyankes Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau Meluas

Sistem ini terutama membantu pemantauan kawasan terpencil yang sulit dijangkau melalui pemeriksaan manual.

Dengan informasi titik panas yang diperoleh lebih cepat, petugas di lapangan dapat segera melakukan verifikasi dan mengambil langkah penanganan.

“Sistem deteksi dini ini memungkinkan kita mengetahui sedini mungkin adanya kebakaran di suatu wilayah di Indonesia,” kata Andy saat ditemui di Kawasan Sains dan Teknologi Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, Selasa (1/9).

Sistem hotspot milik BRIN memanfaatkan prinsip fisika terkait radiasi elektromagnetik yang dipancarkan permukaan bumi.

Baca Juga: HIPPI-LestarX Bidik Jakarta Jadi Pusat Ekonomi Karbon Indonesia lewat Carbon Central Hub

Setiap objek memiliki pancaran radiasi termal yang berbeda sesuai dengan tingkat suhunya. Ketika terjadi kebakaran, muncul anomali suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi lingkungan di sekitarnya.

“Temperatur kebakaran diperkirakan sekitar 1.000 Kelvin sehingga dapat dideteksi dengan baik pada panjang gelombang sekitar 4 mikrometer,” jelasnya.

Saat ini, sumber data utama yang digunakan sistem hotspot BRIN berasal dari sensor VIIRS pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20. Sensor tersebut menjadi pengganti MODIS yang sebelumnya berada pada satelit Terra dan Aqua. MODIS telah digunakan selama lebih dari dua dekade dan mengalami penurunan akurasi dalam mendeteksi titik panas, sehingga tidak lagi menjadi sumber data utama sistem yang digunakan saat ini.

Informasi yang diterima stasiun bumi selanjutnya dikirim menuju pusat pengolahan Cloud BRIN untuk diproses menjadi data titik hotspot. Setelah itu, data menjalani proses penyaringan guna menekan kemungkinan kesalahan deteksi. Beberapa sumber yang dapat menimbulkan kesalahan antara lain aktivitas industri, pertambangan batu bara, hingga kawah gunung berapi. Data yang telah melalui penyaringan kemudian dikelompokkan dan disajikan melalui dasbor pemantauan.

“Waktu yang diperlukan untuk keseluruhan proses ini sekitar 30 menit. Durasi tersebut bergantung pada kecepatan transfer data dari stasiun bumi ke Cloud BRIN,” tuturnya.

Andy menyebut jumlah titik hotspot yang terdeteksi di Indonesia dalam satu hari dapat mencapai ribuan titik. Wilayah Sumatera dan Kalimantan menjadi kawasan yang kerap memiliki jumlah titik panas cukup tinggi. Kondisi ini membuat pemantauan karhutla menjadi semakin penting, terlebih asap akibat kebakaran dapat terbawa angin dan menyebar hingga wilayah negara tetangga.

Untuk membantu menentukan titik yang harus segera diperiksa di lapangan, sistem BRIN dilengkapi indikator tingkat kepercayaan atau confidence level. Selain itu, tersedia pula informasi radius kemungkinan hasil pengelompokan atau clustering. Radius yang semakin besar menunjukkan indikasi cakupan area terbakar yang juga semakin luas sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses verifikasi.

Data hotspot yang dikembangkan BRIN telah digunakan oleh berbagai instansi untuk mendukung pemantauan dan penanganan karhutla. Beberapa di antaranya adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian di wilayah Sumatera dan Kalimantan, Polri, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang berperan sebagai wali data.

Andy menjelaskan bahwa karakteristik dan waktu munculnya karhutla tidak sama di setiap wilayah Indonesia. Di Sumatera bagian utara dan tengah, peningkatan titik hotspot biasanya terjadi pada Januari–Februari serta Juni. Sementara itu, wilayah Sumatera bagian selatan umumnya mengalami puncak titik panas sekitar September. Adapun di Kalimantan, peningkatan kebakaran sering terjadi pada musim kemarau, terutama Juli–Oktober, ketika kondisi lahan gambut semakin kering.

Menurut Andy, fungsi sistem hotspot tidak hanya sebatas mendata kebakaran yang telah terjadi. Teknologi tersebut memiliki peran penting dalam mempercepat waktu antara munculnya indikasi kebakaran hingga respons petugas di lapangan. “Hotspot tidak hanya dilihat sebagai catatan setelah kebakaran terjadi. Sistem ini dapat memperpendek waktu antara munculnya kebakaran dan respons cepat penanganannya,” terangnya.

BRIN juga masih melanjutkan pengembangan sistem pemantauan hotspot tersebut untuk meningkatkan efektivitas deteksi karhutla di Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjajaki pemanfaatan data dari satelit NOAA-21. Selain itu, BRIN memperkuat stasiun bumi cadangan di Rancabungur yang berfungsi menopang stasiun utama di Parepare. Metode penyaringan data berbasis rekam historis juga terus disempurnakan untuk menekan potensi kesalahan deteksi sehingga informasi hotspot dapat semakin akurat dalam mendukung upaya mitigasi karhutla.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.