Banten

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Pemancing Ungkap Detik-detik Kapalnya Dihujani Pasir Hitam

Viona Sebastian Nolani | 7 September 2026, 15:17 WIB
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Pemancing Ungkap Detik-detik Kapalnya Dihujani Pasir Hitam
Pemancing menceritakan pengalamannya saat berada di sekitar Gunung Anak Krakatau ketika erupsi terjadi. - (Instagram/destinasiocy)

AKURAT BANTEN - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut menimbulkan sejumlah dampak, mulai dari persoalan abu vulkanik hingga gangguan terhadap operasional penerbangan dan penutupan sejumlah bandara.

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga sempat terekam kamera seorang pemancing yang berada di sekitar kawasan gunung tersebut.

Erupsi yang terjadi pada Minggu, 5 September 2026 itu memperlihatkan lontaran lava pijar dari kawah aktif GAK.

Rekaman tersebut diunggah oleh pemancing sekaligus konten kreator Ocy melalui akun Instagram @destinasiocy.

Baca Juga: BGN Bertindak! SPPG Talangangin Sidoarjo Kena Suspend 30 Hari, Kepala SPPG Diusulkan Dicopot

Dalam video itu, tampak material pijar keluar dari Gunung Anak Krakatau saat kondisi di sekitar perairan sedang tidak bersahabat.

“Sebelum kejadian, posisi kami sebenarnya di spot Sea Mount Reef (SMR) untuk memancing. Namun, karena cuaca di SMR tiba-tiba memburuk, kami memutuskan memutar arah mencari perlindungan ke arah kepulauan yang ada di sekitar Krakatau,” ujar Ocy dalam video yang diunggah di Instagram @destinasiocy, dikutip pada Minggu, 6 September 2026.

Ocy menjelaskan, kapal yang ditumpanginya bersama rombongan bergerak menuju kawasan kepulauan di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk mencari tempat berlindung dari kondisi gelombang laut.

“Pukul 23.30 WIB, kami sampai di sekitar Gunung Anak Krakatau dan sama sekali tidak tahu kalau sedang mengalami erupsi,” imbuhnya.

Menurut Ocy, ketika rombongannya meninggalkan lokasi Sea Mount Reef sekitar pukul 18.00 WIB, Gunung Anak Krakatau belum menunjukkan aktivitas erupsi.

Baca Juga: Anggaran Dipangkas Rp 30 Triliun, BGN Tetap Targetkan 72,4 Juta Penerima MBG pada 2027

Kondisi serupa juga terjadi ketika mereka berada di sekitar gunung tersebut pada pagi hingga siang hari.

“Di perjalanan dari SMR jam 18.00 WIB, Gunung Anak Krakatau belum erupsi sampai di dekatnya itu setengah 12 malam, baru erupsi. Paginya, aku dari Gunung Anak Krakatau juga dari jam 06.00 WIB sampai jam 14.00 WIB, belum erupsi,” jelasnya.

Ocy mengatakan, informasi mengenai erupsi tersebut baru diketahui rombongannya setelah mendapat pemberitahuan dari pihak Syahbandar.

“Situasi di sana sangat mengejutkan dan dan di saat bersamaan, pihak Syahbandar langsung menghubungi kami agar kami segera kembali ke dermaga,” lanjutnya.

Mendapat peringatan tersebut, kapal yang ditumpangi Ocy dan rombongan kemudian segera meninggalkan kawasan Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: BRIN dan BULOG Gunakan Teknologi Nuklir untuk Perpanjang Umur Simpan Beras, Apa Keuntungannya?

Mereka memilih kembali ke dermaga demi menghindari risiko yang dapat ditimbulkan dari aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Setelah menjauh dari kawasan Gunung Anak Krakatau, Ocy memastikan seluruh rombongan berhasil kembali ke daratan dalam keadaan selamat.

“Kami semua berhasil melalui momen krusial tersebut dan pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun,” imbuh Ocy.

“Saat ini kami semua sudah berada di daratan dalam kondisi yang sehat dan aman,” sambungnya.

Ocy sekaligus meluruskan anggapan bahwa rombongannya sengaja mendatangi kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menyaksikan erupsi dari dekat.

Baca Juga: BRIN Ungkap Teknologi Sayap Pesawat Masa Depan, Ada Winglet hingga Morphing Wing

Ia menegaskan bahwa kedatangan mereka ke wilayah tersebut awalnya hanya untuk mencari perlindungan karena kondisi cuaca dan gelombang laut yang memburuk.

Video yang kemudian viral dan telah ditonton lebih dari 6 juta kali tersebut juga memperlihatkan material yang diduga berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Salah satu material yang terlihat memenuhi bagian kapal adalah pasir berwarna hitam.

Material tersebut terbawa dan masuk ke kapal ketika rombongan berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

“Itu pasir kasar, bukan debu. Pas dateng dikiranya suara hujan, enggak taunya pasir,” tambahnya.

Baca Juga: BRIN Ungkap Cara Satelit Deteksi Karhutla di Indonesia Hanya dalam 30 Menit, Begini Sistemnya

Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) Kementerian Perhubungan turut mengingatkan seluruh kapal yang melintas di Perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan.

Kapal yang melintas juga dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Ketentuan tersebut berlaku selama status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga.

Imbauan itu disampaikan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten setelah aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda mengalami peningkatan.

“Seluruh kapal yang melintas di Perairan Selat Sunda diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk letusan, lontaran material vulkanik, abu vulkanik, maupun potensi gangguan terhadap keselamatan navigasi,” tulis keterangan resmi DJPL pada Minggu, 6 September 2026.

Baca Juga: Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Hebat, Api Membumbung hingga Puncak Gunungan Sampah

Meski terdapat peningkatan aktivitas vulkanik dan larangan mendekati kawah aktif, layanan penyeberangan pada rute Merak-Bakauheni maupun arah sebaliknya masih beroperasi secara normal.

Pengguna jasa dan seluruh pihak terkait tetap diminta mengutamakan kewaspadaan serta keselamatan selama pelayaran.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.