Banten

Potensi Digital Aceh di Selat Malaka Disorot Wamen Komdigi, Kenapa Gateway Tak Ada di Sabang?

Viona Sebastian Nolani | 8 September 2026, 14:11 WIB
Potensi Digital Aceh di Selat Malaka Disorot Wamen Komdigi, Kenapa Gateway Tak Ada di Sabang?
Wamenkomdigi Nezar Patria - Pey HS/Komdigi

AKURAT BANTEN - Letak Aceh di pintu masuk Selat Malaka dinilai menyimpan peluang besar untuk memperkuat kapasitas teknologi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital di daerah.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menyebut Selat Malaka bukan hanya memiliki peran penting sebagai salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia.

Menurutnya, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari jaringan infrastruktur digital internasional melalui kabel komunikasi bawah laut yang menghubungkan banyak negara.

“Subsea cable yang menghubungkan internet yang kita pakai sekarang itu melintas di bawah Selat Malaka,” tutur Wamen Nezar dalam diskusi Aceh, Selat Malaka, dan Masa Depan Digital Indonesia di Banda Aceh, Minggu (06/09/2026).

Baca Juga: Dewas Perumda Tirta Benteng Disorot, Wali Kota Tangerang Sachrudin Diingatkan Soal Risiko Tata Kelola BUMD

Nezar menegaskan bahwa keunggulan geografis saja tidak otomatis mendatangkan manfaat ekonomi.

Karena itu, Aceh perlu membangun kapasitas agar mampu menghasilkan nilai dari posisi strategis tersebut.

Ia menilai tantangan berikutnya bukan hanya menghadirkan akses internet yang luas, tetapi juga memastikan masyarakat Aceh mampu menguasai teknologi untuk mendukung sektor ekonomi, pemerintahan, hingga kehidupan sosial.

“Yang penting bukan lagi Selat Malaka sebagai anugerah geografis. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menciptakan nilai dari Selat Malaka itu,” tegasnya.

Baca Juga: Progres Polres Metro Tangerang Kota Dipertanyakan Keluarga Korban Tabrak Lari, CCTV Bertebaran, Pelaku Masih Misterius

Sebagai contoh, Nezar menyoroti keberadaan kabel bawah laut yang melintasi Selat Malaka.

Infrastruktur tersebut menjadi jalur utama pertukaran data lintas negara dan memegang peran penting dalam ekosistem internet dunia.

Namun, sebagian besar titik gateway saat ini masih terpusat di Singapura.

Menurut Nezar, kondisi itu perlu menjadi bahan evaluasi agar Indonesia dapat menangkap peluang membangun infrastruktur sekaligus ekosistem digital di wilayah sekitar jalur strategis tersebut.

“Kenapa gateway-nya tidak ada di Sabang atau di tempat-tempat yang berada dalam kontrol kita? Ini menjadi pertanyaan yang perlu kita jawab,” kata Wamen Nezar.

Ia menilai Aceh telah memiliki fondasi yang cukup kuat untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Daerah ini memiliki perguruan tinggi, komunitas teknologi, talenta muda, serta posisi strategis yang langsung menghadap jalur perdagangan dan konektivitas internasional.

Karena itu, Kementerian Komdigi menjadikan pengembangan talenta digital dan kewirausahaan berbasis teknologi sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem digital di daerah.

Melalui Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh, talenta lokal dapat mengakses pembinaan, memperluas jejaring bisnis, mengembangkan produk, hingga memperoleh kesempatan bertemu investor.

Program tersebut menjadi upaya membuka akses talenta di luar Pulau Jawa ke ekosistem digital nasional maupun global.

“Jadi, di sana nanti para talenta digital bisa dilatih dengan berbagai macam ilmu pengetahuan, skill, upscaling bisnis mereka, lalu nanti ditemukan dengan investor untuk dibuka akses finansialnya, lalu nanti di-coaching juga bagaimana dia bertumbuh setelah dapat pendanaan sampai kemudian bisa dilepas untuk bertumbuh,” imbuhnya.

Nezar juga menekankan bahwa teknologi tidak selalu harus hadir dalam bentuk inovasi yang rumit.

Teknologi akan memberikan manfaat ketika mampu menyelesaikan persoalan nyata, termasuk di sektor perikanan, pertanian, perdagangan, hingga layanan pemerintahan.

Ia menilai pendekatan seperti itu penting agar potensi sumber daya Aceh dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

“Yang kita butuhkan adalah value creation. Penciptaan nilai dari berbagai sumber daya yang ada melalui teknologi, keterampilan, dan inovasi,” ujar Wamen Nezar.

Ia berharap generasi muda Aceh dapat memandang posisi geografis daerahnya sebagai kesempatan membangun masa depan.

Kemampuan menguasai teknologi, menciptakan produk, dan terhubung dengan ekosistem global diyakini menjadi modal untuk mengubah keunggulan strategis Aceh menjadi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Jangan hanya melihat Selat Malaka sebagai jalur yang dilewati. Kita harus mampu mengambil nilai dari sana,” tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.