Banten

Bikin Geger! 3 Helikopter Raksasa Jepang Turun di Kalbar, Siap Guyur Karhutla dengan Water Bombing

Abdurahman | 10 September 2026, 21:54 WIB
Bikin Geger! 3 Helikopter Raksasa Jepang Turun di Kalbar, Siap Guyur Karhutla dengan Water Bombing
Mengintip sejumlah unit helikopter berat milik Jepang yang tiba di Kalimantan Barat untuk pemadaman karhutla. (Instagram.com/@maju.idn)

AKURAT BANTEN– Pemandangan tak biasa terjadi di Kalimantan Barat. Tiga helikopter raksasa milik Pemerintah Jepang diterjunkan untuk membantu Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah Kalbar.

Tiga unit helikopter berat jenis CH-47 Chinook tersebut dibawa menggunakan kapal perang Jepang JS Kunisaki bersama personel dan berbagai peralatan pendukung.

Kehadiran armada raksasa Jepang itu pun ramai menjadi sorotan publik di media sosial. Ukurannya yang besar dan misi khusus yang dibawanya membuat kedatangan tiga Chinook tersebut menjadi perhatian.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyambut kedatangan armada Jepang tersebut di Mempawah, Kalbar, Kamis, 10 September 2026.

Krisantus menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Jepang yang telah mengirimkan kapal, personel, serta peralatan untuk membantu penanganan karhutla di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.

Terima kasih kepada Pemerintah Jepang yang sudah mengirimkan kapal, personel dan peralatan untuk membantu Indonesia, secara khusus Kalimantan Barat.

Kedatangan tiga Chinook ini diharapkan memberikan tambahan kekuatan dalam operasi pemadaman dari udara. Helikopter tersebut juga dapat mendukung pengangkutan personel maupun logistik menuju wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Baca Juga: Buruh Banten Bawa 10 Tuntutan ke DPRD Kota Tangerang, Terkait UU Ketenagakerjaan Putusan MK 168

Tiga Chinook Disiapkan untuk Water Bombing

Bantuan Jepang kali ini bukan sekadar pengerahan personel.

BNPB menjelaskan, tiga unit CH-47 Chinook yang dibawa JS Kunisaki dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing dengan kapasitas besar.

Metode tersebut memungkinkan air dijatuhkan dari udara ke kawasan yang terdampak kebakaran, terutama ketika akses menuju lokasi sulit dilakukan menggunakan kendaraan darat.

Kehadiran helikopter berat menjadi sangat penting mengingat kondisi geografis dan karakteristik wilayah Kalimantan Barat yang tidak selalu mudah ditembus.

JS Kunisaki sendiri menempuh perjalanan sekitar 11 hari menuju Kalimantan Barat dengan membawa personel serta peralatan yang diperlukan dalam misi kemanusiaan tersebut.

Pengerahan armada Jepang itu merupakan bagian dari kemitraan strategis dan kemanusiaan antara Indonesia dan Jepang, melalui Defence Cooperation Arrangement (DCA) yang berfokus pada Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).

Dengan dukungan tersebut, operasi penanganan karhutla di Kalbar mendapat tambahan kemampuan dari udara, terutama untuk menghadapi lokasi-lokasi yang sulit dijangkau.

Baca Juga: Ribuan Ikan di Situ Cangkring Tangerang Mati, DLH Turun Tangan dan Imbau Warga Tak Mengonsumsinya

Api di Lahan Gambut Tak Bisa Diremehkan

Di balik kobaran api yang terlihat, terdapat persoalan lain yang jauh lebih sulit dideteksi.

Lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Kondisi tersebut membuat api yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar selesai.

Krisantus mengatakan karakteristik lahan gambut menyebabkan proses pemadaman menjadi lebih sulit.

Api tidak mudah padam karena banyak lahan gambut. Api bisa menjalar dari bawah dan sulit dipandang dengan mata.

Artinya, pemadaman tidak cukup hanya dengan mengatasi kobaran api yang terlihat dari permukaan. Petugas juga harus mewaspadai bara yang masih berada di bawah tanah dan berpotensi kembali memicu kebakaran.

Kondisi inilah yang membuat dukungan personel dan peralatan menjadi sangat penting.

Baca Juga: Ribuan Ikan Besar di Situ Cangkring Mabuk, Warga berbondong Ambil Ikan hingga Tonan

Sumber Air Juga Menjadi Kendala

Persoalan berikutnya adalah ketersediaan air.

Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, sumber air untuk pemadaman mengalami keterbatasan. Beberapa sungai bahkan mengalami penyusutan sehingga kondisi tersebut semakin menyulitkan upaya mendapatkan air.

Masuknya air laut ke aliran sungai juga menjadi persoalan karena membuat air menjadi asin dan tidak mudah digunakan untuk pemadaman.

Akibatnya, petugas harus mengambil air dari lokasi yang cukup jauh.

Air untuk memadamkan api juga kita kekurangan sehingga harus mengambil air dari tempat yang cukup jauh, ujar Krisantus.

Situasi tersebut membuat operasi water bombing menjadi salah satu dukungan yang diharapkan dapat memperkuat upaya pemadaman dari udara.

Helikopter dapat menjangkau area yang sulit ditembus dari darat dan membantu mempercepat distribusi air ke titik-titik yang membutuhkan penanganan.

Baca Juga: Bikin Penasaran! Roy Suryo Ajukan Praperadilan Lagi, Prediksi Alumni S2 FH UI Disebut 100 Persen Akurat

Pemilik HGU Diminta Tak Hanya Menonton

Di tengah kedatangan bantuan Jepang, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga menegaskan pentingnya keterlibatan dunia usaha.

Krisantus meminta perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) turut bertanggung jawab terhadap pencegahan dan penanganan karhutla, khususnya di wilayah konsesi masing-masing.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan bantuan dari pihak lain.

Kita mengharapkan para pelaku usaha, pemilik-pemilik HGU untuk ikut membantu. Jangan hanya menonton.

Krisantus menyebut pemerintah pusat telah meminta enam gubernur di wilayah rawan karhutla, termasuk Kalimantan Barat, untuk memperkuat penanganan bersama dunia usaha.

Perusahaan yang tidak menjalankan tanggung jawab dalam menjaga wilayah konsesinya juga akan dievaluasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Semeru Masih Fluktuatif, Warga Diminta Waspada! Benteng Lahar Dikebut untuk Antisipasi Ancaman

Jepang Turun Tangan, Perang Melawan Karhutla Diperkuat

Kedatangan tiga CH-47 Chinook bersama JS Kunisaki menjadi tambahan kekuatan di tengah kompleksnya penanganan karhutla Kalimantan Barat.

Bukan hanya kobaran api yang harus dihadapi. Lahan gambut yang memungkinkan api merambat di bawah permukaan, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menuju sejumlah lokasi menjadi tantangan yang harus ditangani secara bersamaan.

Dukungan Jepang melalui pengerahan helikopter berat diharapkan dapat memperkuat pemadaman dari udara sekaligus membantu mobilisasi personel dan logistik.

Namun, operasi pemadaman tetap membutuhkan kerja sama berbagai pihak.

Tiga Chinook Jepang kini menjadi kekuatan tambahan dari udara. Sementara di darat, pemerintah, petugas, masyarakat, dan perusahaan pemegang HGU dituntut bergerak bersama agar karhutla tidak terus meluas.

Kedatangan armada raksasa tersebut bukan sekadar pemandangan yang mencuri perhatian. Di balik tiga helikopter yang diangkut JS Kunisaki, ada misi kemanusiaan untuk membantu Kalimantan Barat menghadapi salah satu ancaman lingkungan yang paling sulit ditaklukkan: kebakaran di lahan gambut.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman