Banten

Guru SMK Didorong Kuasai Kompetensi dan Business Mindset

Viona Sebastian Nolani | 15 September 2026, 11:43 WIB
Guru SMK Didorong Kuasai Kompetensi dan Business Mindset
Guru SMK Tak Cukup Hanya Terampil, Mereka Perlu Belajar Melihat Peluang - kemendikdasmen.go.id

AKURAT BANTEN - Kompetensi guru SMK tidak cukup hanya berupa penguasaan teori dan keterampilan praktik yang diperoleh selama pelatihan.

Guru juga dituntut memahami bagaimana keterampilan tersebut dapat diterapkan, dikembangkan, serta menghasilkan nilai ekonomi dalam kehidupan nyata.

Pesan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan Berbasis Dunia Kerja Moda Luring Angkatan 4 di BBPPMPV Pertanian Cianjur.

Sebanyak 147 guru SMK mengikuti pelatihan yang mencakup tujuh kompetensi keahlian.

Baca Juga: Kemendikdasmen Percepat Pemulihan Sekolah Terdampak Gempa di NTT

Bidang tersebut meliputi Bakery & Pastry, Hidroponik Melon, Pengolahan Buah, Anggrek, Penetasan Telur, Hijauan Pakan Ternak, dan Rekayasa Pakan Buatan.

Pelatihan berlangsung selama 120 jam pelajaran yang terdiri atas 40 JP pembekalan, 70 JP pengalaman di dunia kerja, serta 10 JP uji kompetensi dan sertifikasi.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menekankan bahwa penguasaan kompetensi perlu diikuti business mindset.

Cara berpikir tersebut mendorong seseorang untuk mampu melihat peluang sekaligus menciptakan nilai tambah dari kompetensi yang dimiliki.

Baca Juga: Revitalisasi SMP Negeri 16 Medan Selesai, Pembelajaran Kembali Normal

“Kalau kita punya kompetensi produksi tapi tidak bisa dikomersialisasi itu yang bikin frustasi. Akhirnya kompetensi hanya menutup basa-basi saja,” ujar Atip.

Menurut Atip, business mindset tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan atau mengejar keuntungan.

Lebih luas lagi, pola pikir tersebut mendorong seseorang untuk aktif mencari berbagai kemungkinan agar sesuatu yang dimiliki dapat memberikan manfaat.

Dalam bidang pertanian, kompetensi guru dinilai dapat dikembangkan lebih jauh dari sekadar kegiatan produksi.

Menurut Atip, sektor pertanian dapat berkembang menjadi agribisnis bahkan agrowisata.

Karena itu, kemampuan teknis perlu disertai kemampuan memahami keseluruhan proses dari hulu sampai hilir.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, turut menekankan pentingnya pengalaman langsung.

Pengalaman di dunia kerja diperlukan agar kompetensi guru tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat dipraktikkan dan diterapkan kembali di sekolah.

“Yang paling penting di samping ngajar coba dipraktikkan. Karena kalau upskilling di sini, lalu pulang dan tidak pernah dipraktikkan di kelas, hanya lihat siswa, itu enggak akan banyak berkembang,” ujar Tatang.

Tatang menjelaskan bahwa kompetensi yang diperoleh guru dapat dikembangkan menjadi praktik nyata, termasuk membuka peluang usaha yang melibatkan peserta didik.

Karena itu, guru diharapkan tetap mengembangkan ilmu yang telah diperoleh setelah menyelesaikan pelatihan.

“Jadi, Bapak Ibu klik dengan ilmu dan kalau bisa diimplementasikan,” katanya.

Setelah mengikuti pembekalan, para peserta akan memperoleh pengalaman di dunia kerja selama 70 JP.

Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan uji kompetensi dan sertifikasi.

Melalui pengalaman tersebut, guru dapat melihat secara langsung praktik kerja, proses produksi, serta budaya kerja yang diterapkan di industri.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.