Jenazah Korban KM Arupadhatu Ditemukan di Pulau Enggano, Simulasi BRIN Ungkap Pola Hanyutan

AKURAT BANTEN - Penemuan satu jenazah korban KM Arupadhatu di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026 menjadi data penting bagi Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN.
Data tersebut digunakan untuk mengevaluasi kembali model transpor partikel yang dipakai dalam memetakan kemungkinan pola hanyutan di wilayah perairan Selat Sunda.
Dari hasil perhitungan ulang, lokasi penemuan jenazah ternyata masuk dalam sebaran salah satu kelompok skenario simulasi yang telah dibuat sebelum tim peneliti mengetahui adanya temuan tersebut.
Dalam simulasi tersebut, empat varian skenario memperlihatkan pergerakan partikel menuju kawasan perairan Pulau Enggano pada 12 September 2026.
Baca Juga: Kasus Dugaan Suap HGB di ATR/BPN, DPP ISI Tegaskan Independensi Profesi Surveyor
Tanggal tersebut sama dengan waktu ditemukannya jenazah korban KM Arupadhatu di Pulau Enggano.
“Yang cocok adalah kelompok skenario dengan titik hilang kontak versi Bangka Pos. Dari hasil simulasi kami menggunakan Euler-Lagrangian particle transport, keempat variannya menempatkan korban di perairan Pulau Enggano tepat pada 12 September 2026,” ujar Peneliti PRIMA BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, saat diwawancari Tim Humas BRIN, pada Jum’at (25/9).
Widodo menegaskan bahwa kecocokan hasil simulasi tersebut belum dapat digunakan untuk menentukan titik lokasi korban secara tepat.
Kesesuaian model baru terlihat pada skala kawasan Pulau Enggano karena peneliti belum mendapatkan koordinat geografis secara detail mengenai lokasi jenazah ditemukan.
Informasi mengenai posisi pantai, waktu korban mencapai daratan, hingga penggunaan rompi pelampung dibutuhkan untuk melakukan penelusuran balik atau back trace modeling dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi.
Evaluasi terhadap simulasi juga menemukan adanya perbedaan hasil berdasarkan formulasi data yang digunakan.
Perhitungan terbaru menunjukkan skenario dengan data arus total dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS), tanpa tambahan pengaruh angin melalui formula leeway, justru menghasilkan pola yang lebih sesuai dengan fakta temuan di lapangan.
Menurut Widodo, kondisi tubuh atau benda yang mengapung hampir sejajar dengan permukaan laut dapat menyebabkan pengaruh angin terhadap pergerakannya berbeda dari asumsi yang digunakan sebelumnya.
“Struktur modelnya tidak perlu diubah, bagian itu sudah teruji. Yang kami koreksi adalah bobot skenario, dari delapan skenario berbobot sama menjadi hanya empat skenario Bangka Pos. Kami juga mencoba satu rumus atau formula baru khusus jasad, tetapi rumus itu justru memberi hasil lebih buruk,” jelas Widodo.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, tim PRIMA BRIN kemudian menjalankan simulasi ulang untuk periode 7–21 September 2026 hingga pukul 23.00 WIB.
Periode tersebut mencakup hari ke-14 sejak kejadian dan menggunakan koordinat versi Bangka Pos sebagai fokus utama simulasi.
Pengembangan simulasi selanjutnya akan diperpanjang hingga 5 Oktober 2026 untuk melihat kemungkinan perkembangan pola hanyutan pada periode yang lebih panjang.
Hasil pembobotan ulang sampai hari ke-14 menunjukkan bahwa peluang sebaran model terbagi ke beberapa kawasan.
Sekitar 41 persen sebaran berada di Pulau Enggano dan wilayah sekitarnya, sementara 10 persen berada di perairan lepas sebelah barat Bengkulu Selatan.
Sebanyak 43 persen lainnya mengarah ke kawasan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu.
Secara keseluruhan, sekitar 42 persen sebaran hasil model telah berada dalam kondisi terdampar di wilayah pantai.
Widodo mengingatkan bahwa persentase tersebut merupakan gambaran wilayah peluang berdasarkan simulasi, bukan penanda lokasi individu secara pasti.
Karena itu, hasil pemodelan perlu dipahami sebagai informasi ilmiah mengenai kemungkinan pola transport partikel berdasarkan kondisi arus dan berbagai parameter yang digunakan dalam simulasi.
Penemuan jenazah di Pulau Enggano juga menjadi kesempatan bagi peneliti untuk menguji kembali asumsi serta pembobotan skenario dalam model transpor partikel.
Data lapangan yang lebih lengkap diharapkan dapat membantu memperbaiki simulasi berikutnya sehingga pemodelan mampu menggambarkan dinamika hanyutan di perairan Indonesia secara lebih akurat.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 5Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Juventus Tak Terima Kalah dari Cristiano Ronaldo! Kasus Gaji Rp190 Miliar Kini Dibawa ke Pengadilan Tertinggi Italia
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!








