Deddy Sitorus Sentil Petuah Jokowi soal Kekuasaan, Ada yang Bisa Kasih Kaca

AKURAT BANTEN – Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengenai sikap seseorang ketika memegang kekuasaan menuai respons dari politikus PDI Perjuangan (PDIP) Deddy Yevri Sitorus.
Deddy menilai nasihat tentang kekuasaan seharusnya juga menjadi bahan perenungan bagi pihak yang menyampaikannya.
Pernyataan Jokowi tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan keagamaan di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah.
Dalam kesempatan itu, Jokowi menyampaikan sejumlah ungkapan Jawa yang berkaitan dengan cara seseorang menggunakan kelebihan yang dimilikinya.
Baca Juga: Amien Rais Soroti Video Budi Arie, Hubungan Jokowi-Prabowo Kembali Jadi Sorotan
Tiga petuah yang disampaikan Jokowi adalah “Lamun siro sekti, ojo mateni”, “Lamun siro pinter, ojo minteri”, dan “Lamun siro banter, ojo disiki”.
Pesan tersebut pada intinya mengingatkan seseorang agar tidak menyalahgunakan kekuatan, kecerdasan, maupun keunggulan yang dimilikinya.
Jokowi juga menyinggung sifat kekuasaan yang tidak berlangsung selamanya.
Menurutnya, jabatan pada akhirnya akan berakhir sehingga orang yang sedang memiliki kekuasaan tidak seharusnya bertindak sewenang-wenang terhadap pihak lain.
Pesan itu kemudian mendapat tanggapan Deddy. Politikus PDIP tersebut mempertanyakan apakah petuah yang disampaikan Jokowi juga dapat diterapkan kepada dirinya sendiri.
Deddy menyampaikan kritik tersebut dalam konteks perjalanan politik Jokowi yang dinilainya perlu menjadi bahan evaluasi.
Ia menyiratkan bahwa seseorang yang berbicara tentang etika kekuasaan juga perlu melihat kembali sikap dan keputusan yang pernah diambil ketika berada di dalam lingkaran kekuasaan.
Respons Deddy menambah panjang perdebatan politik yang selama ini berkembang antara sebagian elite PDIP dan Jokowi.
Baca Juga: Geger! Gus Nur Siapkan Gugatan Triliunan Rupiah, Nama Jokowi Disebut Bakal Dibawa ke Pengadilan
Hubungan mantan presiden tersebut dengan partai berlambang banteng itu mengalami perubahan cukup tajam setelah dinamika politik menjelang Pemilu 2024.
Jokowi yang sebelumnya merupakan kader dan tokoh penting PDIP kemudian mengambil posisi politik yang berbeda.
Ia memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto dan putranya, Gibran Rakabuming Raka, dalam Pilpres 2024.
Pasangan tersebut akhirnya memenangkan kontestasi dan kemudian memimpin pemerintahan periode 2024-2029.
Sejak saat itu, hubungan antara Jokowi dan PDIP kerap menjadi perhatian publik.
Dalam situasi tersebut, berbagai pernyataan Jokowi juga sering memperoleh tanggapan dari elite PDIP.
Kritik yang disampaikan Deddy menjadi salah satu contoh bagaimana perbedaan pandangan politik masih berlangsung setelah Jokowi meninggalkan jabatan presiden.
Di sisi lain, pesan Jokowi mengenai penggunaan kekuasaan dapat dipandang sebagai nasihat moral kepada para pemegang jabatan.
Baca Juga: Bukan Cuma UGM, Rekan Seangkatan Jokowi Ikut Buka Suara soal Tudingan Ijazah Palsu!
Kekuasaan, menurut pesan tersebut, seharusnya tidak digunakan untuk menekan orang lain atau mempertahankan kepentingan pribadi.
Jabatan politik juga memiliki batas waktu. Karena itu, seorang pemimpin dinilai perlu menyadari bahwa posisi yang dimiliki tidak bersifat permanen.
Namun, dalam suasana politik yang penuh persaingan, pesan moral semacam itu tidak selalu diterima secara netral.
Rekam jejak dan keputusan politik pemberi nasihat ikut menjadi bahan pertimbangan masyarakat.
Baca Juga: Jokowi Disebut Tak Suka Pernyataan Budi Arie soal Prabowo, Pesan Ini Bikin Geger
Deddy kemudian memilih menyoroti sisi tersebut.
Ia meminta agar nasihat mengenai kekuasaan tidak hanya diarahkan kepada orang lain, tetapi juga digunakan sebagai bahan evaluasi diri.
Polemik tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh politik Jokowi masih cukup besar meski masa jabatannya sebagai presiden telah berakhir.
Setiap pernyataan yang disampaikannya masih menjadi perhatian dan berpotensi memunculkan respons dari berbagai kelompok politik.
Baca Juga: Jokowi Disebut Tak Sabar Hadiri Sidang dr Tifa, Ijazah Asli Siap Ditunjukkan?
Kondisi ini tidak terlepas dari posisi Jokowi sebagai mantan kepala negara sekaligus figur yang memiliki basis pendukung.
Pengaruh tersebut membuat pandangan politiknya tetap diperhitungkan dalam berbagai pembicaraan nasional.
Sementara itu, Deddy merupakan salah satu politikus PDIP yang cukup aktif menyampaikan kritik terhadap isu-isu politik.
Pernyataannya kali ini memperlihatkan bahwa hubungan antara sebagian elite PDIP dengan Jokowi masih menyimpan dinamika.
Persoalan kekuasaan juga diperkirakan akan terus menjadi tema penting menjelang Pemilu 2029.
Munculnya berbagai tokoh dan kelompok yang mulai memetakan arah politik membuat setiap pernyataan elite semakin mudah menjadi bahan perdebatan.
Meski begitu, masyarakat perlu membedakan antara pesan moral, kritik politik, dan kebijakan resmi.
Petuah yang disampaikan Jokowi tidak serta-merta menunjukkan adanya keputusan politik tertentu.
Baca Juga: Bola Panas Kasus Suap Menhut Raja Juli: Menguji Nyali KPK di Antara Bayang-Bayang Prabowo-Jokowi
Begitu pula pernyataan Deddy merupakan pandangan politik yang perlu dilihat dalam konteks hubungannya dengan dinamika antara PDIP dan kelompok politik yang berada di sekitar Jokowi.
Terlepas dari perbedaan tafsir tersebut, pesan mengenai penggunaan kekuasaan tetap relevan dalam kehidupan bernegara.
Pemegang jabatan memiliki kewenangan besar yang seharusnya digunakan untuk kepentingan publik.
Kekuasaan yang tidak disertai kontrol dapat membuka ruang bagi penyalahgunaan.
Baca Juga: Ijazah Jokowi Disebut Cuma 'Selembar Kertas', Sikap UGM Ini Bikin Polemik Makin Panas
Karena itu, pengawasan, kritik, dan evaluasi terhadap pejabat maupun tokoh politik tetap dibutuhkan.
Perdebatan antara Deddy dan Jokowi akhirnya tidak hanya berkaitan dengan satu pernyataan.
Persoalan yang lebih luas adalah mengenai konsistensi antara ucapan dan tindakan seorang tokoh ketika berbicara tentang etika kekuasaan.
Di tengah politik yang semakin dinamis, masyarakat akan terus menilai bagaimana para elite menggunakan pengaruhnya.
Baca Juga: Megawati Buka Suara soal Ijazah Jokowi, PDIP Lepas Tangan? Begini Penjelasannya
Petuah tentang kekuasaan akan memiliki makna lebih kuat apabila berjalan seiring dengan keteladanan dalam praktik.
Sindiran Deddy pun menambah warna dalam perdebatan tersebut.
Ia seolah mengingatkan bahwa sebelum memberikan nasihat kepada orang lain, seorang tokoh juga perlu bersedia melihat kembali perjalanan dan keputusan politiknya sendiri.
Dengan demikian, polemik ini kembali menunjukkan bahwa kekuasaan bukan hanya soal jabatan.
Baca Juga: Ada Apa di Balik Posisi Duduk Gibran yang Jauh dari Prabowo? Ini Jawaban Telak Jokowi
Cara menggunakan kewenangan, menerima kritik, serta mempertanggungjawabkan keputusan menjadi bagian penting yang akan menentukan penilaian publik terhadap seorang pemimpin.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 5Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 6Juventus Tak Terima Kalah dari Cristiano Ronaldo! Kasus Gaji Rp190 Miliar Kini Dibawa ke Pengadilan Tertinggi Italia
- 7Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 8Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!









