Banten

Gunung Anak Krakatau Erupsi dan Terdengar Dentuman, BRIN Ungkap Fakta soal Potensi Tsunami

Viona Sebastian Nolani | 9 September 2026, 15:00 WIB
Gunung Anak Krakatau Erupsi dan Terdengar Dentuman, BRIN Ungkap Fakta soal Potensi Tsunami
BRIN Terus Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau Bersama BMKG - BRIN

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan tersebut dilakukan melalui sistem monitoring IDSL/PUMMA yang berada di wilayah Rakata, kawasan kompleks Gunung Anak Krakatau.

Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Semeidi, mengatakan IDSL/PUMMA di Rakata menjadi satu-satunya sistem pemantauan volcano-tsunami yang berada di kawasan Selat Sunda.

Menurutnya, sistem tersebut memiliki peran penting sebagai penghubung antara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan BMKG dalam pemantauan potensi tsunami akibat aktivitas gunung api.

Baca Juga: Bandara Soetta Ditutup, 7 Mahasiswi Malah Kena Tipu Rp5,8 Juta, Polisi Turun Tangan

“Keberadaan IDSL/PUMMA sangat dekat dengan sumber potensi tsunami, sehingga bisa cepat mendeteksi. Keberadaannya juga menjembatani PVMBG dan BMKG dalam monitoring dan peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda,” ujar Semeidi, Senin (07/09).

Semeidi menjelaskan, keunggulan sistem pemantauan saat ini tidak hanya terletak pada posisinya yang dekat dengan sumber potensi tsunami.

Kondisi sistem monitoring volcano-tsunami tersebut juga dinilai lebih baik dibandingkan situasi pada 2018 karena telah memperoleh dukungan jaringan seluler GSM Telkomsel serta Satelit Telekomunikasi BAKTI di kawasan Krakatau.

“Sehingga masyarakat atau nelayan bisa melaporkan langsung kondisi di sana,” ucapnya.

Baca Juga: Bea Cukai Ajukan Anggaran Rp4,98 Triliun di 2027, Dua Target Ini Jadi Fokus Utama

Tim yang bertugas melakukan pemantauan di kawasan Selat Sunda juga terus mengamati aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kemungkinan munculnya anomali pada permukaan air.

Pemantauan terhadap kondisi tersebut telah dilakukan sejak 4 September 2026 hingga sekarang.

“Sejauh ini, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami,” jelasnya.

Sementara itu, Semeidi turut menjelaskan mengenai suara dentuman keras dan getaran yang dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat.

Menurutnya, fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan ledakan maupun aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

“Namun, sejauh ini tidak cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak terjadi potensi Atmospheric-tsunami,” kata dia.

Semeidi mengingatkan masyarakat agar tetap tenang serta tidak langsung mempercayai informasi mengenai Gunung Anak Krakatau yang belum memiliki sumber jelas.

Masyarakat juga diminta terus mengikuti informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi tsunami melalui kanal resmi lembaga yang berwenang.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Tim akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi, apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi,” ucapnya.

Semeidi menambahkan bahwa sistem IDSL/PUMMA sebelumnya juga pernah mendeteksi Atmospheric-tsunami Hunga Tonga pada 2022 di wilayah Indonesia.

Peristiwa tersebut terdeteksi karena ledakan gunung api di kawasan Pasifik Selatan memiliki kekuatan yang sangat besar.

“Seluruh data dan peringatan tsunami saat itu juga tersampaikan ke BMKG,” ujarnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.