Banten

Bandara Soetta Ditutup, 7 Mahasiswi Malah Kena Tipu Rp5,8 Juta, Polisi Turun Tangan

Handrian Setiawan | 9 September 2026, 14:26 WIB
Bandara Soetta Ditutup, 7 Mahasiswi Malah Kena Tipu Rp5,8 Juta, Polisi Turun Tangan
Bandara Soetta Ditutup, 7 Mahasiswi Malah Kena Tipu Rp5,8 Juta, Polisi Turun Tangan - Istimewa

AKURAT BANTEN – Niat tujuh mahasiswi asal Bukittinggi, Sumatera Barat, untuk segera pulang setelah penerbangan terdampak penutupan operasional akibat abu vulkanik justru berujung masalah baru.

Setelah membatalkan penerbangan dan melakukan refund tiket, ketujuh mahasiswi tersebut memilih melanjutkan perjalanan melalui jalur darat. Namun, saat mencari tiket bus, mereka diduga menjadi korban penipuan dengan kerugian mencapai Rp5,8 juta.

Peristiwa itu bermula ketika ketujuh mahasiswi yang hendak kembali ke Bukittinggi mencari tiket bus melalui media sosial. Mereka menemukan sebuah akun TikTok yang menawarkan tiket perjalanan dan kemudian berkomunikasi dengan pihak tersebut melalui WhatsApp.

Baca Juga: Bea Cukai Ajukan Anggaran Rp4,98 Triliun di 2027, Dua Target Ini Jadi Fokus Utama

Setelah sepakat, ketujuhnya kemudian mentransfer uang dengan total sekitar Rp5,8 juta untuk pemesanan tiket. Namun, setelah pembayaran dilakukan, keberangkatan yang dijanjikan tidak kunjung mendapatkan kepastian.

Komunikasi pun terputus setelah nomor WhatsApp mereka diduga diblokir oleh pihak yang menawarkan tiket. Dalam kondisi tersebut, ketujuh mahasiswi akhirnya mendatangi Polresta Bandara Soekarno-Hatta untuk meminta bantuan.

Karena hari sudah malam dan seluruh korban merupakan perempuan, personel Satreskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta kemudian memberikan tempat aman bagi mereka untuk beristirahat di Ruang Pelayanan Khusus Polresta Bandara Soetta.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Pelanggan KAI Tak Perlu Cemas? Begini Kondisi Perjalanan Kereta Api

Di saat bersamaan, polisi berupaya mencarikan alternatif transportasi agar ketujuh mahasiswi tersebut tetap dapat melanjutkan perjalanan ke kampung halaman dan kembali mengikuti aktivitas perkuliahan di Bukittinggi.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Polisi kemudian membelikan tiket bus tujuan Bukittinggi, Sumatera Barat, melalui Terminal Bus Kalideres, Jakarta Barat.

Pada Selasa, 8 September 2026 sekitar pukul 10.00 WIB, personel Polresta Bandara Soekarno-Hatta mengantarkan ketujuh mahasiswi tersebut menuju Terminal Kalideres untuk melanjutkan perjalanan menggunakan armada PO Lampung Jaya.

Baca Juga: Potensi Digital Aceh di Selat Malaka Disorot Wamen Komdigi, Kenapa Gateway Tak Ada di Sabang?

Bantuan tersebut mendapat apresiasi dari ketujuh mahasiswi. Mereka menyampaikan terima kasih kepada jajaran Polresta Bandara Soekarno-Hatta yang telah membantu mereka di tengah situasi sulit.

Sementara itu, terkait dugaan penipuan tiket bus yang menyebabkan kerugian Rp5,8 juta, Satreskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta Kompol Muhammad Esha mengatakan, kepolisian berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami kendala selama berada di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Pemancing Ungkap Detik-detik Kapalnya Dihujani Pasir Hitam

“Kami berupaya memberikan pelayanan dan membantu masyarakat yang mengalami kendala selama berada di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, personel kami akan berupaya mencari solusi sesuai kewenangan dan kondisi yang ada,” ujar Esha.

Kisah tujuh mahasiswi tersebut menjadi gambaran bahwa gangguan perjalanan akibat kondisi penerbangan dapat menimbulkan persoalan berantai.

Selain harus mencari moda transportasi alternatif, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap tawaran tiket perjalanan melalui media sosial untuk menghindari menjadi korban penipuan. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.