Gagal Bayar Pinjol Bukan Solusi Ini Risiko Besar yang Mengintai Debitur

Akurat Banten - Masyarakat yang memanfaatkan fasilitas pinjaman, baik dari perbankan maupun layanan pinjaman online, perlu memiliki kesadaran penuh terhadap kemampuan finansial sebelum mengambil keputusan berutang.
Hal ini penting karena tanggung jawab pelunasan tidak hanya soal waktu, tetapi juga menyangkut stabilitas kondisi keuangan pribadi ke depannya.
Hingga kini, kasus gagal bayar atau kredit macet masih menjadi persoalan yang cukup sering terjadi di tengah masyarakat.
Penyebabnya pun beragam, mulai dari keterbatasan penghasilan, pengelolaan keuangan yang kurang terencana, hingga minimnya pemahaman terkait ketentuan pinjaman yang disepakati sejak awal.
Fenomena ini semakin mudah ditemui terutama pada layanan pinjaman online yang menawarkan proses cepat dan persyaratan yang cenderung sederhana.
Kemudahan tersebut kerap membuat sebagian orang kurang berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.
Akibatnya, banyak yang terjebak dalam situasi utang tanpa perhitungan matang.
Lalu, apa saja dampak yang harus dihadapi ketika seseorang tidak mampu atau bahkan sengaja tidak melunasi pinjaman online tersebut?
Ketua ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, mengungkapkan bahwa risiko gagal bayar pinjaman online tidak bisa dianggap sepele.
Ia menegaskan bahwa konsekuensi yang muncul bisa berdampak luas, baik secara finansial maupun psikologis.
Salah satu risiko yang paling terasa adalah munculnya denda yang terus bertambah seiring waktu keterlambatan pembayaran.
Selain itu, tekanan mental akibat beban utang yang menumpuk juga menjadi ancaman nyata bagi para debitur.
Baca Juga: Dikejar Deadline Verival, Dapodik Nasib TPG dan THR Guru 2026 Dipertaruhkan
Tidak hanya berhenti di situ, potensi masalah hukum juga dapat muncul jika kewajiban pembayaran diabaikan.
Indriyatno juga menyoroti maraknya konten di media sosial yang membahas atau bahkan mempromosikan gagal bayar sebagai sesuatu yang seolah-olah wajar dilakukan.
Menurutnya, konten semacam ini mudah viral karena memiliki nuansa negatif yang menarik perhatian publik.
Padahal, narasi tersebut justru berpotensi menyesatkan masyarakat.
Ia menilai penting adanya edukasi finansial yang lebih masif untuk menyeimbangkan informasi yang beredar.
"Kenapa sih ada promosi gagal bayar (galbay)? Perlu disampaikan juga konten-konten untuk meng-counter konten tersebut. Bahwa kalau memang berniat gagal bayar, sampai diniatkan seperti itu, ini ada risiko hukumnya lho," ungkap Indrayatno.
Selain ancaman hukum, dampak lain yang tidak kalah serius adalah penurunan skor kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
Skor kredit yang buruk akan menyulitkan seseorang ketika ingin mengajukan pinjaman di masa depan.
Misalnya saat hendak membeli kendaraan bermotor secara kredit atau mengajukan kredit kepemilikan rumah.
Dengan kata lain, satu keputusan finansial yang keliru dapat berdampak panjang terhadap akses keuangan seseorang di kemudian hari.
Indriyatno pun mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap enteng kewajiban pembayaran pinjaman.
Ia menegaskan bahwa menghindari tanggung jawab bukanlah solusi yang membawa ketenangan.
"Jadi jangan anggap enteng bahwa sekedar melepaskan tanggung jawab, menghindari bayar ke fintech lending (pindar) kemudian hidup tenang," ucap Indriyatno.
Di sisi lain, data dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa nilai outstanding pinjaman online terus mengalami peningkatan.
Per November 2025, total pembiayaan pinjaman daring tercatat mencapai Rp94,85 triliun.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 25,45 persen secara tahunan.
Namun, peningkatan ini juga diiringi dengan naiknya tingkat kredit bermasalah.
Tingkat wanprestasi 90 hari atau TWP90 tercatat berada di angka 4,33 persen, yang berarti risiko gagal bayar masih menjadi perhatian serius.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemudahan akses pinjaman harus diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.
Tanpa pemahaman yang baik, masyarakat berisiko terjebak dalam siklus utang yang sulit diatasi.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mengambil pinjaman, penting bagi setiap individu untuk mempertimbangkan kemampuan bayar secara realistis.
Langkah ini bukan hanya melindungi kondisi finansial, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan masa depan keuangan secara keseluruhan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Perang Berbalik Arah? Ukraina Mulai Rebut Wilayah Rusia Berkat Serangan Drone Mematikan
- 10Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang








