Banten

Mirip Drone Iran, Taiwan Siapkan 'Papa Delta' untuk Hadapi China Senjata Murah Tapi Mematikan?

Aullia Rachma Puteri | 23 April 2026, 08:55 WIB
Mirip Drone Iran, Taiwan Siapkan 'Papa Delta' untuk Hadapi China Senjata Murah Tapi Mematikan?
PAPA DRONE DISEBUT MURAH?

AKURAT BANTEN - Perkembangan teknologi militer kembali mencuri perhatian setelah Taiwan memperkenalkan drone tempur terbaru bernama Papa Delta.

Perangkat tanpa awak ini disebut memiliki desain dan konsep yang menyerupai drone milik Iran, khususnya jenis Shahed yang dikenal luas dalam berbagai konflik.

Drone Papa Delta dirancang sebagai senjata serangan dengan biaya produksi yang relatif rendah.

Konsep ini memungkinkan penggunaan dalam jumlah besar, sehingga dapat memberikan tekanan signifikan terhadap lawan.

Baca Juga: Timur Tengah Tambah Membara! Drone Iran Hantam Jantung Energi Minyak Bahrain, Tangki Raksasapun Meledak Hebat

Model seperti ini dikenal sebagai drone kamikaze, yakni drone yang membawa muatan peledak dan langsung diarahkan ke target.

Kemunculan Papa Delta tidak lepas dari meningkatnya ketegangan antara Taiwan dan China.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan kedua pihak kerap memanas, terutama terkait isu kedaulatan wilayah.

Situasi ini mendorong Taiwan untuk terus memperkuat sistem pertahanannya, termasuk melalui inovasi teknologi militer.

Baca Juga: UEA Aktifkan Pertahanan Udara, Serangan Rudal dan Drone Iran Berhasil Dicegat

Pengembangan drone murah menjadi salah satu strategi yang dinilai efektif.

Dibandingkan sistem persenjataan konvensional yang membutuhkan biaya besar, drone seperti Papa Delta bisa diproduksi secara massal dan digunakan dalam berbagai skenario.

Fleksibilitas ini menjadi keunggulan tersendiri, terutama dalam menghadapi kekuatan militer yang lebih besar.

Kemiripan dengan drone Shahed bukan sekadar kebetulan.

Baca Juga: Ngeri Drone Iran Mengarah ke Ladang Minyak Sejuta Barel, Saudi Langsung Hancurkan di Udara

Desain aerodinamis dengan sayap delta serta kemampuan navigasi otomatis menjadi ciri khas yang diadopsi.

Teknologi ini memungkinkan drone terbang jauh dan menghantam target dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

Selain sebagai alat serangan, penggunaan drone juga dinilai mampu mengurangi risiko bagi personel militer.

Karena dioperasikan dari jarak jauh, potensi korban jiwa di pihak pengguna dapat ditekan.

Baca Juga: PT Dirgantara Indonesia Tancap Gas ke Pasar Global, Garap Drone Pertanian hingga Penumpang

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak negara mulai beralih ke sistem persenjataan berbasis drone.

Meski menawarkan berbagai keunggulan, kehadiran drone kamikaze juga menimbulkan kekhawatiran.

Penggunaan dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan eskalasi konflik, terutama jika digunakan secara agresif.

Selain itu, teknologi ini relatif mudah ditiru, sehingga dapat menyebar ke berbagai pihak.

Baca Juga: Drone TNI AU Menyisir Longsor Cisarua, Harapan Evakuasi Cepat Kian Terbuka

Langkah Taiwan mengembangkan Papa Delta mencerminkan perubahan strategi dalam menghadapi tantangan keamanan.

Alih-alih hanya mengandalkan alutsista konvensional, pendekatan berbasis teknologi kini menjadi pilihan utama untuk menciptakan daya tangkal.

Di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang, inovasi seperti ini diperkirakan akan semakin banyak muncul.

Negara-negara lain kemungkinan akan mengikuti tren serupa dengan mengembangkan drone murah sebagai bagian dari sistem pertahanan mereka.

Baca Juga: BRIN Turunkan Teknologi Canggih Pascabencana Sumatera, Drone Pendeteksi Jenazah Ikut Dikerahkan

Dengan hadirnya Papa Delta, Taiwan menunjukkan kesiapan dalam menghadapi potensi ancaman di kawasan.

Dunia kini menyoroti bagaimana teknologi sederhana namun efektif seperti drone dapat memainkan peran besar dalam menentukan arah konflik modern di masa depan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.