Banten

Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?

Aullia Rachma Puteri | 16 Agustus 2026, 16:41 WIB
Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
Susana pengupas bawang upah Rp700 ribu

AKURAT BANTEN – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai penghasilan buruh pengupas bawang menjadi perbincangan hangat.

Dalam pidato kenegaraan, Prabowo menyebut seorang pekerja asal Kabupaten Bogor bernama Susana memperoleh bayaran Rp700 ribu untuk setiap kilogram bawang yang dikupas.

Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian karena nominalnya dinilai sangat besar untuk pekerjaan mengupas bawang.

Publik kemudian ramai mempertanyakan apakah angka tersebut benar-benar merupakan tarif yang diterima pekerja di lapangan atau terdapat konteks lain yang belum dijelaskan.

Baca Juga: Geger Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ucapan Prabowo Bikin Blunder, Ada Kaitannya dengan Hukuman Mati, Kok Bisa?

Prabowo memperkenalkan Susana dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI pada 14 Agustus 2026.

Saat itu, Susana disebut sebagai buruh harian sekaligus penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako.

Pemerintah menampilkan kisahnya sebagai gambaran masyarakat yang memperoleh manfaat dari program perlindungan sosial.

Namun, bagian mengenai penghasilan justru menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Gamaba Digadang Jadi Varietas Bawang Merah Super Produktif untuk Dataran Rendah

Pernyataan mengenai upah Rp700 ribu per kilogram dianggap tidak biasa sehingga memunculkan berbagai pertanyaan mengenai kondisi pekerjaan Susana.

Sorotan publik semakin besar setelah sejumlah pihak mencoba membandingkan nominal tersebut dengan harga bawang di pasaran.

Jika benar seorang pekerja menerima Rp700 ribu untuk mengupas satu kilogram bawang, nilai jasa pengupasannya akan jauh melampaui harga komoditas yang diproses.

Perbandingan tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa ada kesalahan penyebutan nominal.

Baca Juga: Pupuk Silika Terbukti Tingkatkan Produktivitas Bawang Merah, Ini Hasil Penelitian BRIN

Salah satu informasi yang beredar menyebut angka dalam naskah pidato berbeda dengan angka yang diucapkan secara lisan oleh Presiden.

Dalam naskah tertulis, nominal yang tercantum disebut Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu.

Perbedaan seribu kali lipat itu membuat persoalan semakin menarik perhatian.

Jika angka Rp700 merupakan nominal yang dimaksud, maka informasi tersebut jauh berbeda dari pernyataan yang terdengar dalam pidato.

Baca Juga: Pupuk Silika Terbukti Tingkatkan Produktivitas Bawang Merah, Ini Hasil Penelitian BRIN

Meski demikian, persoalan tersebut tetap membutuhkan klarifikasi resmi.

Publik perlu mengetahui angka sebenarnya agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai kondisi ekonomi pekerja pengupas bawang.

Dalam rekaman pidato, Prabowo memang menyebut Susana sebagai buruh harian yang memperoleh upah Rp700 ribu per kilogram.

Pernyataan itu juga dikutip dalam sejumlah pemberitaan setelah acara berlangsung.

Baca Juga: Butuh Obat Kuat tapi Malu ke Toko Jamu? Coba Ambil 1 Siung Bawang Putih di Dapur Istri Dijamin Kuat Tahan Lama di Ranjang

Pemerintah kemudian mendapat dorongan untuk melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut.

Langkah verifikasi penting dilakukan karena data yang disampaikan kepala negara dalam forum resmi dapat membentuk persepsi masyarakat mengenai kondisi ekonomi rakyat.

Jika ternyata terjadi kekeliruan penyebutan, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka.

Sebaliknya, jika nominal Rp700 ribu memang benar, masyarakat tentu membutuhkan penjelasan mengenai sistem pembayaran, volume pekerjaan, serta kondisi yang memungkinkan pekerja memperoleh penghasilan sebesar itu.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Jerawat Pakai Bawang Putih, Bye Perawatan Dokter Kecantikan

Perdebatan ini juga memperlihatkan pentingnya konteks dalam menyampaikan data.

Besaran pendapatan pekerja tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan tarif per kilogram.

Ada kemungkinan sistem pembayaran dipengaruhi oleh target produksi, jenis pekerjaan, atau kesepakatan tertentu antara pekerja dan pemberi kerja.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menarik kesimpulan hanya dari angka yang beredar.

Baca Juga: Upaya Penyelundupan 400 Karung Bawang Merah Digagalkan Bakamla di Perairan Batam

Informasi mengenai upah Susana perlu dipastikan melalui data yang jelas dan keterangan pihak terkait.

Di sisi lain, kisah Susana sebenarnya digunakan untuk menunjukkan bagaimana program pemerintah membantu masyarakat berpenghasilan rendah.

Prabowo menyebut bantuan sosial turut membantu menjaga pendidikan anak-anak Susana.

Namun, polemik nominal upah membuat pesan tersebut justru bergeser menjadi perdebatan mengenai akurasi data.

Baca Juga: Mengapa Pedihnya Mata Mengiris Bawang? Ini Rahasia Dibalik Kisah Yang Bikin Kamu Bercucuran Air Mata

Perhatian publik kini lebih banyak tertuju pada pertanyaan sederhana: berapa sebenarnya bayaran yang diterima pengupas bawang tersebut?

Jawaban atas pertanyaan itu menjadi penting agar masyarakat memperoleh informasi yang sesuai dengan kenyataan.

Klarifikasi juga diperlukan untuk mencegah berkembangnya berbagai asumsi di media sosial.

Pada akhirnya, persoalan upah pengupas bawang bukan hanya tentang angka Rp700 atau Rp700 ribu.

Baca Juga: Pemkab Cirebon dan Pemkab Tangerang Kerja Sama Tekan Inflasi Komoditas Bawang Merah

Polemik tersebut menjadi pengingat bahwa setiap data yang disampaikan dalam forum kenegaraan harus dipastikan akurat, jelas, dan memiliki konteks yang memadai.

Publik kini menunggu penjelasan lebih lanjut mengenai nominal sebenarnya.

Dengan adanya klarifikasi, perdebatan mengenai penghasilan Susana diharapkan tidak lagi berkembang berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.