Iran Ancam Hantam AS Jika Kapalnya Diserang, Situasi Selat Hormuz Makin Gawat

AKURAT BANTEN - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC melontarkan ancaman keras terhadap Washington.
Iran menegaskan akan melakukan serangan balasan apabila kapal milik mereka menjadi sasaran serangan di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan pejabat militer IRGC di tengah meningkatnya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Iran memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi terhadap kapal tanker maupun armada komersial mereka akan dibalas dengan serangan langsung ke aset militer Amerika Serikat.
Baca Juga: Terungkap! Iran Akhirnya Beberkan Detail Kondisi Mojtaba Khamenei Usai Serangan AS-Israel
Ancaman itu mencakup pangkalan militer AS, kapal perang, hingga berbagai fasilitas strategis yang berada di kawasan Teluk.
IRGC menegaskan pihaknya telah menyiapkan berbagai kemampuan tempur untuk menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas.
Situasi ini muncul di tengah memanasnya hubungan Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir.
Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia kini kembali berada dalam kondisi rawan setelah meningkatnya aktivitas militer di sekitar kawasan tersebut.
Baca Juga: Pesan Misterius di Rudal Iran Bikin Amerika Serikat Panas, Isi Tulisannya Jadi Perhatian Dunia
Selain ancaman dari Angkatan Laut IRGC, pejabat militer Iran lainnya juga mengungkap bahwa rudal dan drone milik mereka telah siap digunakan sewaktu-waktu.
Iran mengklaim berbagai sistem persenjataannya sudah diarahkan ke target strategis dan tinggal menunggu instruksi.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional karena Selat Hormuz memiliki peran penting bagi perdagangan energi global.
Sebagian besar pengiriman minyak dari Timur Tengah diketahui melintasi jalur laut sempit tersebut setiap harinya.
Baca Juga: Laut Merah Membara: Iran Siap Tabrak Aturan Gencatan Senjata demi Usir Blokade AS
Gangguan keamanan di kawasan itu dikhawatirkan dapat berdampak besar terhadap harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi internasional.
Karena itu, ketegangan Iran dan AS terus menjadi perhatian negara-negara besar.
Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan Teluk memang diwarnai sejumlah insiden yang melibatkan kapal dagang dan armada militer.
Beberapa kapal dilaporkan mengalami gangguan pelayaran hingga serangan proyektil yang diduga berkaitan dengan konflik regional.
Baca Juga: Geger Iran Dikabarkan Luluhlantakkan Aset Militer AS, Pesawat Mata-Mata E-3 Sentry Jadi Korban
Iran sendiri dikenal memiliki strategi perang laut asimetris melalui penggunaan kapal cepat bersenjata dan drone tempur.
Strategi tersebut dirancang untuk menghadapi kekuatan militer negara-negara Barat di kawasan Teluk Persia.
Pengamat militer menilai armada cepat milik IRGC bisa menjadi ancaman serius meski ukurannya relatif kecil.
Kombinasi rudal, drone, dan kapal serang cepat dinilai mampu mengganggu kapal perang besar yang beroperasi di Selat Hormuz.
Baca Juga: Kapal Tanker Iran Ditembak Amerika Serikat di Selat Hormuz, Dunia Khawatir Perang Besar Pecah
Sementara itu, sejumlah negara Barat mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Inggris sebelumnya diketahui telah mengirim kapal perang ke Timur Tengah guna mendukung pengamanan jalur pelayaran internasional.
Pengamat hubungan internasional menilai ancaman terbaru dari Iran menunjukkan situasi geopolitik Timur Tengah masih sangat rapuh.
Jika tidak segera mereda, konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi bentrokan terbuka yang memengaruhi keamanan global.
Hingga kini, dunia internasional masih terus memantau perkembangan di Selat Hormuz.
Banyak pihak berharap jalur diplomasi tetap menjadi solusi utama agar konflik Iran dan Amerika Serikat tidak berubah menjadi perang besar yang mengganggu stabilitas dunia.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026







