Kemenkes RI Angkat Bicara soal Wabah Hantavirus Global, Ini Fakta yang Terungkap

AKURAT BANTEN - Otoritas kesehatan dan kalangan dokter di Indonesia mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul merebaknya penyakit akibat infeksi hantavirus di kapal pesiar Eropa.
Terutama setelah dugaan kasus mulai terdeteksi di sejumlah wilayah lain termasuk Asia.
Perhatian terhadap virus zoonosis ini meningkat usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan pada 2 Mei mengenai sejumlah penumpang kapal Belanda MV Hondius yang mengalami gangguan pernapasan berat.
WHO kemudian mengumumkan pada 8 Mei bahwa sedikitnya enam dari delapan kasus suspek yang berasal dari kapal pesiar tersebut telah dipastikan positif hantavirus melalui pemeriksaan laboratorium.
Baca Juga: MBG di Pesantren Tak Harus Sama dengan Sekolah Umum, Wamenag Beberkan Keistimewaannya
Seluruh pasien yang terkonfirmasi diketahui terinfeksi strain Andes, jenis hantavirus yang dapat menular antarmanusia dalam situasi terbatas melalui kontak dekat dan berkepanjangan, terutama yang pernah tercatat di Argentina dan Chili.
Di antara para penumpang kapal terdapat dua warga Singapura yang berada dalam penerbangan yang sama dengan pasien hantavirus terkonfirmasi.
Berdasarkan keterangan Badan Penyakit Menular Singapura (CDA) yang dikutip AFP, mereka terbang dari St Helena menuju Johannesburg pada 25 April.
Pasien hantavirus yang telah dikonfirmasi tersebut diketahui tidak pernah melakukan perjalanan ke Singapura dan meninggal dunia di Afrika Selatan.
Baca Juga: Kemenag Ungkap Baru 50 Persen Pesantren Terima MBG, Kendala Utamanya Sudah Jelas
Sementara itu, dua warga Singapura tadi dinyatakan negatif setelah menjalani karantina sejak awal Mei usai tiba di negara tersebut.
Mereka tetap diwajibkan menjalani masa karantina selama 30 hari sejak paparan terakhir dan akan kembali menjalani tes sebelum diperbolehkan keluar.
WHO menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan dalam kondisi tertentu dapat menular ke manusia.
Penularannya terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, air liur yang terkontaminasi, maupun gigitan tikus yang terinfeksi.
Baca Juga: Roy Suryo dan dr Tifa Minta Kasus Ijazah Jokowi Dihentikan, Jawaban Polisi Langsung Jadi Sorotan
Secara global, WHO memperkirakan terdapat sekitar 10.000 hingga lebih dari 100.000 kasus infeksi hantavirus setiap tahun, terutama di kawasan Asia dan Eropa.
Angka kematian akibat penyakit ini mencapai sekitar 15 persen di Asia dan Eropa, sedangkan di Amerika bisa mencapai 50 persen.
Penyakit yang ditularkan hewan pengerat tersebut juga sempat ditemukan di Indonesia dalam dua tahun terakhir dengan jumlah penderita mencapai puluhan orang.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan setidaknya terdapat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi dari total 251 kasus suspek sejak 2024. Dalam periode tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.
Sepanjang tahun 2026, tercatat lima kasus yang terdeteksi.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman menegaskan bahwa para pasien itu tidak berkaitan dengan kasus di kapal Hondius karena tidak memiliki riwayat perjalanan internasional dalam waktu dekat.
Pada 8 Mei, Kementerian Kesehatan juga memastikan dua pasien suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta dinyatakan negatif setelah melalui pemeriksaan laboratorium.
“Hingga saat ini, kami belum mencatat kasus hantavirus baru di Indonesia,” kata Aji.
Ia menambahkan bahwa sampai sekarang belum ditemukan laporan penularan hantavirus dari manusia ke manusia di Indonesia karena jenis virus yang paling dominan di dalam negeri adalah strain Seoul.
Berbagai jenis hantavirus telah ditemukan di banyak negara, namun hanya sebagian kecil yang diketahui mampu menyebabkan penyakit pada manusia, termasuk strain Andes yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Selatan.
Varian Andes diketahui dapat memicu hantavirus cardiopulmonary syndrome, yakni kondisi serius yang berkembang cepat dan menyerang paru-paru serta jantung.
Sementara itu, strain yang lebih umum di Eropa dan Asia biasanya menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal yang berdampak pada fungsi ginjal dan pembuluh darah.
Gejala infeksi pada orang dewasa maupun anak-anak umumnya muncul dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah terpapar.
Keluhannya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, mual, hingga muntah.
Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin resmi untuk hantavirus.
Penanganan pasien lebih difokuskan pada pengobatan komplikasi yang menyerang sistem pernapasan, jantung, dan ginjal.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026






