Bayang-Bayang Krisis 1998 Muncul Lagi? Rupiah Terpukul di Tengah Optimisme Prabowo

AKURAT BANTEN - Presiden Prabowo Subianto menyatakan dirinya memahami langkah untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang tengah dihadapi Indonesia.
Namun, kebijakan ekonomi yang dinilai kurang tepat serta kecenderungan kepemimpinan yang dianggap semakin otoriter justru memicu kekhawatiran bahwa Indonesia dapat kembali menghadapi kombinasi yang kerap terjadi antara gejolak nilai tukar dan ketidakpastian politik.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia menghadapi risiko mundurnya berbagai reformasi demokrasi dan iklim usaha yang dibangun dengan susah payah sejak Krisis Keuangan Asia 1997.
Pada periode tersebut, rupiah mengalami kejatuhan drastis, sementara tekanan politik yang semakin besar akhirnya memaksa diktator Suharto meninggalkan kursi kekuasaan.
Baca Juga: Uni Eropa Buka Babak Baru Perdagangan Global, India hingga Indonesia Masuk Radar
Saat ini, pemerintahan Prabowo dinilai belum cukup memperhatikan sejumlah sinyal peringatan yang mulai terlihat.
Kontras situasi itu tampak dalam pidato nasional yang disampaikan pada Rabu (20 Mei), ketika Prabowo kembali memperlihatkan optimisme yang menjadi ciri gaya kepemimpinannya.
Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melesat di bawah pemerintahannya, sekaligus menyebut semakin banyak negara berharap pada dukungan Jakarta, sebagai bukti meningkatnya posisi strategis Indonesia di tingkat global.
Namun, mantan jenderal tersebut terlihat semakin jauh dari keresahan yang berkembang di tengah masyarakat dan pelaku pasar.
Baca Juga: Indonesia Kehilangan Rp 14.000 Triliun Selama 34 Tahun, Prabowo Siapkan Jurus Baru
Ketika pidato berlangsung, indeks saham acuan justru berbalik melemah setelah kehilangan penguatannya, bahkan sempat turun hingga 2,4 persen.
Tekanan juga semakin terasa pada rupiah setelah mata uang tersebut melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada Rabu, bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga sebesar setengah poin persentase, langkah yang lebih agresif dibanding perkiraan mayoritas ekonom untuk menahan tekanan pelemahan itu.
Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi ancaman serius bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang masih bergantung pada impor minyak bersih.
Kondisi tersebut membuat harga bahan bakar berpotensi semakin mahal, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap krisis Selat Hormuz.
Situasi ini juga membangkitkan kembali ingatan pahit pada akhir 1990-an, ketika anjloknya nilai mata uang menyebabkan jutaan masyarakat Indonesia kehilangan tabungan dan daya beli mereka dalam waktu singkat.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026






