Studi 10 Tahun Ungkap Rahasia Migrasi Hiu Paus, Indonesia Ternyata Jadi Benteng Terakhirnya

AKURAT BANTEN - Hiu paus dikenal sebagai ikan terbesar di dunia.
Meski demikian, pola pergerakan dan kawasan habitat utama spesies yang memiliki kemampuan migrasi sangat tinggi ini masih belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan.
Kini, penelitian selama satu dekade yang memantau pergerakan hiu paus di kawasan Indo-Pasifik berhasil memberikan gambaran yang lebih jelas.
Studi tersebut membantu peneliti Indonesia mengungkap jalur migrasi, area mencari makan, serta memahami bagaimana kelompok hiu paus dengan karakteristik berbeda memanfaatkan perairan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Evaluasi Haji 2026, Menhaj Soroti Masalah Mina dan Perketat Istithaah Kesehatan Jemaah
Hasil penelitian juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu wilayah paling penting bagi kelangsungan hidup hiu paus di Indo-Pasifik.
Dua kawasan, yakni Teluk Saleh di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan Teluk Cenderawasih di Papua Barat yang berjarak sekitar 2.000 kilometer, diketahui menjadi habitat sepanjang tahun bagi spesies yang berstatus terancam punah tersebut.
Bersama masyarakat lokal dan berbagai mitra pemerintah, yayasan nasional Konservasi Indonesia terus mendorong pembentukan kawasan konservasi laut pertama di Indonesia yang secara khusus berfokus pada perlindungan hiu paus di Teluk Saleh.
Kawasan ini telah ditetapkan sebagai area konservasi oleh pemerintah provinsi pada Mei lalu.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 1 Juni 2026 Masih Bertahan Tinggi, Beli atau Jual Sekarang?
Para peneliti juga meyakini Teluk Saleh berpotensi menjadi habitat pembibitan hiu paus.
Dugaan ini menguat setelah ditemukannya individu hiu paus yang baru lahir di perairan tersebut pada tahun 2025, sebuah temuan yang tergolong sangat langka.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa Indonesia memainkan peran sentral dalam konektivitas hiu paus di seluruh Indo-Pasifik, sekaligus mengungkapkan betapa terbatasnya habitat mereka sepanjang tahun,” kata Mochamad Iqbal Herwata Putra, manajer senior konservasi spesies fokus di Konservasi Indonesia.
“Melalui perlindungan 'rumah masa kecil' mereka, kita dapat memastikan bahwa area-area penting bagi hiu paus dapat dikelola secara efektif dan mendukung pemulihan populasinya,” tambah Mochamad Iqbal, yang juga merupakan penulis utama studi tersebut.
Riset yang dipimpin Konservasi Indonesia bersama lembaga penelitian nirlaba Elasmobranch Institute Indonesia dan sejumlah mitra lainnya itu melibatkan pemantauan terhadap 70 hiu paus sepanjang periode 2015 hingga 2025 menggunakan penanda satelit.
Beberapa individu bahkan berhasil dipantau selama lebih dari dua tahun.
Dalam pelaksanaannya, para peneliti bekerja sama dengan nelayan setempat untuk menangkap hiu paus menggunakan jaring sebelum memasang perangkat penanda.
Langkah ini dilakukan karena hiu paus kerap terlihat mendekati dan berinteraksi dengan bagan, yaitu platform penangkapan ikan tradisional berbahan kayu, ujar Mochamad Iqbal.
Hiu paus mudah dikenali dari pola bintik unik pada tubuhnya. Spesies ini merupakan pemakan plankton, krill, dan ikan-ikan kecil.
Lebih dari 60 persen populasi hiu paus dunia diketahui hidup di kawasan Samudra Indo-Pasifik.
Penelitian tersebut menghasilkan salah satu basis data penandaan satelit hiu paus terbesar yang pernah dikumpulkan.
Data tersebut merekam pergerakan hiu paus melintasi perairan di 13 negara.
Edy Setyawan, ilmuwan konservasi utama di Elasmobranch Institute Indonesia, mengatakan, “Dari lokasi pengumpulan di kepulauan Indonesia, mereka melakukan perjalanan jarak jauh, dipandu oleh makanan, arus, dan isyarat lingkungan. Banyak dari perjalanan ini membawa mereka ke perairan internasional dan laut lepas, di mana perlindungan terbatas.
“Di situlah hewan-hewan yang terancam punah ini menghadapi bahaya terbesar dari perikanan yang tidak berkelanjutan dan jalur pelayaran yang ramai," tambahnya.
Menurut Mochamad Iqbal, hiu paus merupakan satwa yang cenderung hidup menyendiri sehingga pola pergerakannya sangat bervariasi antarindividu.
Penelitian menemukan bahwa hiu paus jantan muda lebih sering menghuni wilayah pesisir yang kaya nutrisi dan sumber makanan.
Sebaliknya, hiu paus betina serta jantan dewasa lebih banyak memanfaatkan habitat laut dalam di wilayah lepas pantai.
Mereka umumnya mencari makan di sekitar bentang alam bawah laut seperti gunung laut dan ngarai yang menjadi lokasi berkumpulnya sumber pakan alami.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
- 10Prediksi Australia vs Turki: Adu Generasi Baru di Laga Pembuka Grup D







