Banten

Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar, Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Ekonomi Indonesia?

Viona Sebastian Nolani | 4 Juni 2026, 14:08 WIB
Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar, Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Ekonomi Indonesia?
Ilustrasi uang rupiah. (Mufid Majnun /Unsplash)

AKURAT BANTEN - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan menyentuh level terendah pada Kamis (4/6/2026).

Mata uang Rupiah bahkan menembus angka psikologis Rp 18.000 per dolar AS di tengah kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional serta lonjakan biaya energi global.

Pada perdagangan terbaru, rupiah tercatat berada di posisi Rp 18.028 per dolar AS meski Bank Indonesia sebelumnya telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas pasar.

Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah lebih dari 7 persen dan menjadi mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia.

Baca Juga: Prabowo Beberkan Fakta MBG, 3 Ribu Dapur Ditutup demi Jaga Kualitas Program

Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan perang AS-Israel di Iran yang mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan level Rp 18.000 menjadi "ambang batas psikologis" bagi pelaku pasar dan investor.

Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu tingginya permintaan dolar AS akibat kenaikan harga minyak serta menyusutnya surplus perdagangan Indonesia.

Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia.

Baca Juga: Ganoderma Mengintai Perkebunan Sawit, BRIN Siapkan Inovasi Deteksi Dini Berbasis Molekuler

Kondisi itu terjadi meskipun pemerintah memastikan harga bahan bakar bersubsidi tetap dipertahankan tanpa perubahan.

Surplus perdagangan Indonesia juga mengalami tekanan.

Pada April lalu, surplus tercatat hanya sebesar US$89 juta, turun drastis dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$3,3 miliar.

Kondisi tersebut ikut mengurangi pasokan dolar di pasar domestik, kata Josua.

"Pasokan dolar dari perdagangan barang semakin berkurang, sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, bahan baku, dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap signifikan," katanya.

"Inilah sebabnya mengapa kenaikan suku bunga pinjaman dan intervensi BI (Bank Indonesia) tidak cukup untuk membalikkan depresiasi rupiah," tambahnya.

Untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia bulan lalu menaikkan suku bunga sebesar 0,5 basis poin menjadi 5,25 persen.

Kebijakan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir.

Sementara itu, juru bicara Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pada Rabu bahwa bank sentral terus mengoptimalkan "semua instrumen kebijakan yang tersedia" guna "mempertahankan likuiditas valuta asing yang memadai".

Selain itu, Bank Indonesia juga memperketat aturan pembelian dolar AS.

Sejak Mei, pembelian dolar di atas US$25.000 dalam satu bulan wajib disertai dokumen pendukung yang menjelaskan kebutuhan transaksi tersebut.

Sebelumnya, batas pembelian tanpa dokumen telah lebih dulu diturunkan dari US$100.000 menjadi US$50.000 pada April lalu.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.