Banten

Investor Indonesia hingga India Ramai Simpan Emas di Singapura, Ini Alasannya

Viona Sebastian Nolani | 10 Juni 2026, 13:00 WIB
Investor Indonesia hingga India Ramai Simpan Emas di Singapura, Ini Alasannya
Ilustrasi emas. (Unsplash/Zlaťáky.cz)

AKURAT BANTEN - Singapura tengah memperkuat posisinya sebagai pusat regional untuk perdagangan sekaligus penyimpanan emas, di tengah lonjakan permintaan emas batangan di berbagai negara Asia.

Pelaku industri menyebut ketertarikan menyimpan emas di negara tersebut terus meningkat, terutama dari investor dan institusi asal India, Indonesia, hingga Vietnam.

Daya tarik utama Singapura dinilai berasal dari reputasinya yang kuat dalam hal stabilitas, keamanan, serta tata kelola yang terpercaya.

Tak hanya membidik investor swasta, Singapura juga mengincar bank-bank sentral yang mulai mencari lokasi alternatif untuk penyimpanan dan aktivitas perdagangan emas.

Baca Juga: Aturan Ekspor Baru Prabowo Tuai Polemik, Pelaku Usaha Bingung Soal DSI

Langkah ini dilakukan ketika banyak negara meninjau ulang strategi cadangan mereka akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Sejumlah pengamat menilai Singapura memiliki peluang menjadi opsi regional yang kredibel bagi bank sentral Asia, sebagai alternatif pusat penyimpanan emas tradisional di Eropa dan Amerika Serikat.

Namun, mereka menekankan bahwa kejelasan regulasi tetap diperlukan agar keamanan transaksi dan pertumbuhan industri dapat berjalan lebih optimal.

“Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir, banyak bank sentral benar-benar memikirkan yurisdiksi mana yang paling cocok bagi mereka untuk menempatkan salah satu cadangan nasional terpenting mereka,” kata Shaokai Fan, kepala global bank sentral dan kepala Asia-Pasifik (tidak termasuk China) di World Gold Council.

Baca Juga: Isu Reshuffle Menguat, Chatib Basri Akhirnya Ungkap Fakta Pertemuan dengan Prabowo

“Saya pikir supremasi hukum Singapura, netralitas relatifnya dalam hal urusan dunia, menjadikannya tempat yang sangat menarik,” tambahnya.

Fan menambahkan, apabila bank sentral memutuskan untuk menyimpan emas di Singapura, ada kemungkinan mereka juga akan membeli dan memperdagangkan emas batangan di negara tersebut.

Hal itu diyakini dapat memperkuat pasar domestik sekaligus “meningkatkan visibilitas kemampuan perdagangan emas Singapura”.

“Ini juga dapat berfungsi sebagai semacam fondasi likuiditas,” tambah Fan.

“Jika bank sentral asing ini ingin memperdagangkan emas mereka lebih aktif ketika dipindahkan ke Singapura, maka emas tersebut dapat diedarkan di pasar,” terang Fan.

Di sisi lain, operator brankas pribadi di Singapura saat ini diketahui menyimpan logam mulia bernilai miliaran dolar milik klien dari berbagai negara.

“Orang-orang mencari aset tempat berlindung yang aman karena dunia menjadi semakin tidak dapat diprediksi,” kata Gregor Gregersen, pendiri operator brankas emas batangan The Safe House Singapore.

“Klien kami tidak melihatnya sebagai investasi. Mereka melihatnya sebagai perlindungan kekayaan jangka panjang dan pada dasarnya itulah kami – rencana cadangan, keamanan – di dunia yang semakin tidak pasti,” paparnya.

The Safe House diketahui menyimpan logam mulia dengan nilai sekitar S$4 miliar (US$3 miliar), di mana mayoritas pelanggannya berasal dari Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Perusahaan tersebut juga terus mengembangkan investasi teknologi guna meningkatkan perlindungan terhadap aset yang disimpan.

“Jika Anda memindahkan barang masuk dan keluar, Anda hanya perlu memastikan bahwa emas batangan tersebut sampai ke tempat yang seharusnya,” kata Gregersen.

Ia menambahkan, penyimpanan emas dalam jangka panjang dapat diperkuat melalui sistem bukti cadangan, yang memungkinkan pemilik memverifikasi keberadaan emas mereka sekaligus meningkatkan transparansi.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.