Freeport Temukan 3 Miliar Ton Sumber Daya Baru, Peluang Perpanjangan Tambang Papua Makin Terbuka

AKURAT BANTEN - PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali mengungkap temuan besar yang berpotensi mengubah peta masa depan operasional tambang di Papua. Direktur Utama PTFI, Tony Wenas, menyampaikan bahwa perusahaan menemukan indikasi sumber daya mineral baru yang ditaksir mencapai 3 miliar ton bijih di wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Temuan ini dinilai membuka ruang besar bagi keberlanjutan operasi setelah 2041, yaitu tahun berakhirnya izin tambang yang berlaku saat ini. Pemerintah dan Freeport disebut harus menyiapkan kajian lebih dalam jika ingin memastikan kesinambungan produksi hingga beberapa dekade ke depan.
Baca Juga: Tiga WNA Nigeria Diduga Jalankan Aksi Penipuan Online di Jakarta Pusat
Tony menjelaskan bahwa Freeport selama ini mengandalkan cadangan terverifikasi sebesar 1,3 miliar ton bijih, jumlah yang diproyeksikan akan habis tepat saat izin berakhir. Namun potensi tambahan sebesar 3 miliar ton itu memberikan harapan baru mengenai umur tambang di Grasberg dan wilayah sekitar.
“Cadangan kita yang sekarang sekitar 1,3 miliar ton bijih dan itu yang akan ditambang sampai 2041,” ujar Tony dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI.
“Kemudian ada lagi sumber daya yang jumlahnya kira-kira 3 miliar ton. Tapi ini belum cadangan, masih kategori sumber daya,” lanjutnya.
Baca Juga: RI Tegas Tutup Keran Impor Beras, Mentan: Satu Liter Pun Tidak Boleh Masuk
Sumber daya mineral dan cadangan merupakan dua tahapan berbeda dalam dunia tambang. Sumber daya adalah perkiraan potensi mineral yang belum melalui kajian kelayakan rinci. Untuk bisa disebut cadangan, harus ada studi teknis, ekonomi, dan lingkungan yang menunjukkan bahwa penambangan bisa dilakukan secara aman dan menguntungkan.
Tony menegaskan bahwa proses verifikasi sumber daya menjadi cadangan membutuhkan waktu panjang, termasuk pengeboran tambahan dan penyusunan studi kelayakan. Namun ia menyebut indikasi awal menunjukkan potensi lanjutan yang sangat signifikan.
Baca Juga: Fenomena Warga Pilih Damkar Ketimbang Polisi Bikin Menko Yusril Angkat Bicara
Selain kebutuhan teknis, pembahasan perpanjangan operasi Freeport pasca-2041 juga akan melibatkan pembicaraan intensif antara pemerintah dan perusahaan. Temuan 3 miliar ton tersebut dapat menjadi alasan kuat bagi negara untuk mengatur ulang skema investasi, hilirisasi, hingga penerimaan negara.
Menurut Tony, temuan ini juga sejalan dengan rencana pembangunan pabrik peleburan (smelter) yang akan menghasilkan kapasitas pengolahan lebih besar pada tahun-tahun mendatang. Jika sumber daya tambahan dapat dikonversi menjadi cadangan, smelter tersebut akan memiliki umur operasi yang jauh lebih panjang.
Meski demikian, Tony mengingatkan bahwa semua langkah masih berada pada tahap awal. Ia memastikan Freeport akan terus melakukan kajian teknis dan eksplorasi mendalam untuk memastikan seluruh potensi benar-benar layak dan dapat ditambang secara berkelanjutan.
Dengan adanya temuan ini, masa depan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat. Pemerintah pun diproyeksikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait arah kebijakan jangka panjang tambang di Papua.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










