Banten

Bukan Cuma Soal Nasab, Sikap Gus Salam di Kelas PMKNU Ini yang Bikin Syaifuloh Yusuf Terpikat

Abdurahman | 17 Juni 2026, 19:56 WIB
Bukan Cuma Soal Nasab, Sikap Gus Salam di Kelas PMKNU Ini yang Bikin Syaifuloh Yusuf Terpikat
Figur KH Abdussalam Shohib, sangat tepat dan layak menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, sebut Syaifuloh Yusuf (dok Ist)

Peta kompetisi Muktamar ke-35 NU makin dinamis. Syaifuloh Yusuf membeberkan alasan mengapa KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dinilai sangat layak memimpin PBNU, bukan sekadar faktor garis keturunan.

AKURAT BANTEN - Peta kompetisi menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan bergulir pada Agustus mendatang kian memanas, memicu berbagai kalkulasi politik dan kultural di tubuh organisasi Islam terbesar di dunia ini.

Di tengah keriuhan konsolidasi dan silaturahmi para kandidat ke berbagai wilayah, muncul sebuah testimoni menarik dari arena pengaderan formal yang membedah sisi lain dari bursa calon pemimpin.

Tokoh muda NU, Syaifuloh Yusuf, secara terbuka melemparkan pandangan tajam mengenai konstelasi figur yang ada, dengan menekankan bahwa kepemimpinan masa depan jam'iyyah tidak bisa lagi hanya bersandar pada romantisme masa lalu.

Baca Juga: Kiandra Ramadhipa Menang Dramatis di Estoril, Indonesia Raya Berkumandang di Moto3 Junior World Championship 2026

Sorotan tajam tersebut mengarah langsung kepada KH Abdussalam Shohib, atau yang lebih karib disapa Gus Salam, yang dinilai oleh Syaifuloh Yusuf memiliki kapasitas utuh untuk menduduki kursi Ketua Umum PBNU.

Penilaian ini bukan sekadar melihat latar belakang beliau sebagai cucu dari KH Bisri Syansuri, salah satu ulama besar pendiri NU.

Lebih dari itu, apresiasi ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap integritas personal, kematangan emosional, serta cara sang kiai membumi dan melebur tanpa jarak di tengah-tengah para kader penggerak.

Rekam jejak otentik mengenai gaya kepemimpinan yang memikat ini terlihat jelas saat pelaksanaan PMKNU Soloraya yang berlangsung di UIN Raden Mas Said, Surakarta, baru-baru ini.

Baca Juga: Balik Arah, Ahli Forensik Rismon Sianipar Datangi Jokowi di Solo Bawa Buku 800 Halaman

Dalam diklat kaderisasi tingkat menengah yang diikuti oleh para fungsionaris dari berbagai daerah tersebut, Gus Salam dipilih secara aklamasi oleh 83 peserta untuk bertindak sebagai ketua kelas.

Di mata Syaifuloh Yusuf, kesediaan seorang tokoh papan atas untuk memimpin kelas diklat dan menepis ego sektoral adalah pemandangan langka yang memperlihatkan esensi sejati dari seorang pelayan umat.

Beliau tidak menempatkan dirinya sebagai kiai besar yang minta dilayani, melainkan sebagai santri yang siap berproses bersama. Kedisiplinan dan kerendahan hati Gus Salam selama berhari-hari di ruang kelas adalah alasan kuat mengapa beliau bukan sekadar pemimpin karena faktor nasab, tapi karena kualitas nyata, ujar Syaifuloh Yusuf saat memberikan kesaksiannya.

Baca Juga: Mahfud MD Geram Soal Korupsi MBG, Minta Hukum Mati Koruptor Dadan Hindayana Cs

Atmosfer kepemimpinan di dalam ruang diklat itu sendiri tidak melulu kaku, melainkan kerap mencair berkat kehangatan humor khas pesantren yang membuat dinamika forum kaderisasi menjadi hidup.

Di sela-sela ketatnya aturan kedisiplinan dari pagi buta hingga larut malam, Gus Salam bahkan sempat mengikrarkan sebuah nadzar spontan yang cukup mencuri perhatian jika nantinya dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Komitmen menarik tersebut adalah mengajak seluruh peserta, instruktur, hingga tim asistensi diklat untuk melakukan studi banding kolektif ke Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung.

Baca Juga: Nama PDIP Terseret dalam Polemik Aksi Tolak MBG, Guntur Romli Sebut Ada Penyesatan Opini

Langkah memilih Al-Ittifaq sebagai episentrum studi banding pasca-kelulusan tentu membawa pesan simbolis yang sangat kuat tentang arah kebijakan kemandirian ekonomi umat di lingkungan NU.

Pesantren tersebut telah lama dikenal luas sebagai salah satu pelopor ekosistem agribisnis modern yang sukses memadukan kedalaman ilmu agama dengan kemandirian finansial berbasis pertanian terpadu.

Visi hilirisasi ekonomi inilah yang ingin diakselerasi oleh Gus Salam, agar jam'iyyah mampu melahirkan kemaslahatan nyata bagi santri, alumni, dan masyarakat luas secara berkelanjutan.

Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Jokowi Tidak Restui Gibran Maju Pilpres 2029, Tak Percaya Kemampuan Anak Sendiri?

Di sisi lain, regulasi internal organisasi menjelang forum permusyawaratan tertinggi NU ini dipastikan akan berjalan sangat ketat seiring penegakan aturan administrasi dan kaderisasi yang kaku.

Merujuk pada Bab XIII Pasal 39 ART NU serta Perkum Nomor 3 Tahun 2025, setiap figur yang membidik kursi fungsionaris tinggi wajib memiliki portofolio pengalaman struktur yang matang serta mengantongi sertifikasi kaderisasi resmi.

Aturan ketat inilah yang juga mendasari mengapa sejumlah tokoh besar lain seperti Gus Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, hingga Gus Miftah, terlihat aktif menuntaskan kewajiban kaderisasi mereka di berbagai tingkatan.

Baca Juga: Babak Baru Timur Tengah: Iran Bakal Diguyur Investasi Rp5.310 Triliun Usai Damai dengan AS, Kok Bisa?

Dengan tenggat waktu Muktamar ke-35 NU yang menyisakan hitungan bulan, dinamika dukungan dari pengurus wilayah (PWNU) dan pengurus cabang (PCNU) di seluruh Indonesia dipastikan akan semakin mengerucut pada figur yang teruji.

Argumen kuat yang disuarakan oleh Syaifuloh Yusuf mengenai karakter asli Gus Salam selama di forum PMKNU Soloraya seolah melemparkan bola panas sekaligus standar baru ke tengah arena kompetisi.

Kini, para pemilik suara di tingkat basis diajak untuk kembali menakar secara rasional, siapakah sosok calon Ketua Umum PBNU yang tidak sekadar memiliki kebesaran nama keluarga, melainkan teruji nyata dalam kedisiplinan organisasi dan memiliki cetak biru yang konkret untuk masa depan warga nahdliyin. (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman