Banten

Ekonomi Digital RI Tembus USD 100 Miliar, Meutya Hafid Ungkap Tantangan Terbesar Indonesia

Viona Sebastian Nolani | 18 Juni 2026, 14:27 WIB
Ekonomi Digital RI Tembus USD 100 Miliar, Meutya Hafid Ungkap Tantangan Terbesar Indonesia
Menkomdigi Meutya Hafid memberikan keynote speech dalam acara Asia Economic Summit by Tech in Asia di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Rabu (17/06/2026). (Foto: Ahmad Tri Hawaari/Komdigi)

AKURAT BANTEN - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya berperan sebagai pasar besar dalam ekonomi digital global.

Menurutnya, Indonesia harus mampu naik ke level yang lebih tinggi sebagai pencipta inovasi sekaligus pemilik nilai ekonomi digital.

Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan sektor digital tidak hanya menghasilkan transaksi besar, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Saat ini, nilai ekonomi digital Indonesia telah mencapai US$100 miliar, terbesar di kawasan ASEAN.

Baca Juga: Deepfake AI Makin Canggih, Wamen Nezar: Penipuan Digital Kini Sulit Dibedakan dari Aslinya

Angka tersebut bahkan diperkirakan meningkat tajam hingga menembus US$360 miliar pada 2030.

Kondisi ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengubah potensi digital menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing dan berkelanjutan.

“Menghubungkan masyarakat adalah bagian yang cukup mudah. Justru bagian yang jauh lebih sulit dan jauh lebih berharga adalah menghubungkan sistem kita serta mengubah seluruh pertumbuhan itu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Inilah babak ketika Asia Tenggara tidak mau hanya menjadi pasar namun juga turut membentuk ekonomi digital dunia,” tegas Meutya Hafid.

Meutya menilai Indonesia memiliki berbagai keunggulan untuk menjadi motor penggerak ekonomi digital di Asia Tenggara.

Baca Juga: Banggakan Indonesia! Tiga Perwira TNI AU Sukses Menyelesaikan Pendidikan Elite ACSC AS

Dengan jumlah penduduk mencapai 281 juta jiwa atau hampir 40 persen dari total populasi ASEAN, didukung sekitar 220 juta pengguna internet, pertumbuhan ekonomi yang konsisten, serta realisasi investasi asing langsung sebesar US$55 miliar pada tahun lalu, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin kawasan.

“Indonesia telah menjadi ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan nilai sekitar US$100 miliar atau hampir sepertiga dari total kawasan. Namun, besarnya angka tidak otomatis berarti kekuatan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah terus mendorong strategi retensi nilai agar manfaat ekonomi digital dapat lebih banyak dinikmati dan berputar di dalam negeri.

Upaya ini dilakukan agar keuntungan dari perkembangan teknologi tidak hanya mengalir keluar, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi nasional.

Pemanfaatan teknologi digital juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas berbagai sektor, termasuk UMKM, nelayan, petani, dan pelaku usaha mikro serta kecil melalui akses pasar yang lebih luas.

“Sebagai contoh, nelayan kini bisa menjual hasil tangkapan langsung ke pasar melalui aplikasi dan mendapatkan pendapatan jauh lebih besar. Produsen kecil dapat menjangkau pelanggan di seluruh negeri bahkan kawasan tanpa perantara yang mengambil sebagian besar keuntungan. Inilah makna sebenarnya dari transformasi digital,” jelas Meutya.

Di akhir pemaparannya, Meutya Hafid menekankan bahwa nilai terbesar kecerdasan artifisial (AI) bukan terletak pada kecanggihan teknologinya semata, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.