Banten

Iran Tantang AS Usai Perjanjian Islamabad, Ghalibaf Sebut AS Mengalami Kegagalan Besar

Viona Sebastian Nolani | 25 Juni 2026, 11:02 WIB
Iran Tantang AS Usai Perjanjian Islamabad, Ghalibaf Sebut AS Mengalami Kegagalan Besar
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. (ncr-iran.org)

AKURAT BANTEN - Berbicara dalam konferensi yang digelar di Baku, Azerbaijan, pada 24 Juni, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga memimpin delegasi perundingan Teheran menyebut bahwa Perjanjian Islamabad antara AS dan Iran bukan tercipta karena adanya tekanan maupun paksaan.

Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan hasil dari "perlawanan dan otoritas" Iran.

"Itulah mengapa Memorandum Islamabad menjadi deklarasi kegagalan AS," kata Ghalibaf.

Ghalibaf menilai bahwa hanya negara-negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki hak untuk menentukan bentuk serta sistem keamanan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Belum Reda, Oman Siapkan Jalur Aman Baru di Selat Hormuz

"Kami memandang penarikan pasukan asing dari kawasan ini sebagai tujuan strategis. Kami melihat masa depan kawasan ini bukan sebagai konfrontasi, melainkan interaksi. Pangkalan militer pasukan dari luar kawasan di Asia Barat merupakan sumber ketidakstabilan," katanya.

Ketua Parlemen Iran itu juga menyatakan bahwa Teheran siap membangun kerja sama dengan negara-negara Timur Tengah berdasarkan prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri serta menghormati kedaulatan masing-masing negara.

Selain itu, Ghalibaf kembali menegaskan sikap Iran terkait konflik di kawasan, dengan menyerukan agar Israel menghentikan serangan dan mengakhiri keberadaannya di Lebanon.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Tak Akan Tarik Biaya di Selat Hormuz, Ada Kesepakatan Besar di Baliknya?

"Kami tidak akan meninggalkan teman dan mitra strategis kami dalam keadaan yang paling sulit dan kompleks, Gencatan senjata dan pengakhiran konflik di Lebanon sama pentingnya bagi kami," tegasnya.

Di sisi lain, dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah melakukan negosiasi terkait kemampuan pertahanan maupun sistem pencegahannya.

Pezeshkian menyatakan bahwa kekuatan rudal Iran menjadi salah satu faktor yang membuat negaranya tidak mengalami kondisi seperti yang terjadi di Jalur Gaza.

Presiden Iran tersebut juga menekankan bahwa kemampuan pertahanan merupakan elemen penting untuk menjaga kedaulatan negara dari berbagai ancaman luar.

Karena itu, Teheran tetap menolak segala upaya yang mendorong pembahasan mengenai program pertahanan Iran.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.