Banten

BRIN Ungkap Peran Strategis Indonesia Pantau Sampah Antariksa, Ada Ancaman bagi Satelit

Viona Sebastian Nolani | 12 Agustus 2026, 15:50 WIB
BRIN Ungkap Peran Strategis Indonesia Pantau Sampah Antariksa, Ada Ancaman bagi Satelit
Ruang Angkasa Makin Padat, BRIN Siapkan Indonesia Ikut Awasi Lalu Lintas Satelit Global. - BRIN

AKURAT BANTEN - Meningkatnya aktivitas antariksa serta jumlah satelit yang mengelilingi Bumi memunculkan tantangan baru dalam menjaga keberlanjutan lingkungan antariksa.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia mempunyai peluang besar untuk berperan dalam pemantauan objek dan lalu lintas antariksa dunia melalui penguatan infrastruktur observasi yang tersedia di Tanah Air.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menjelaskan kehidupan masyarakat modern kini semakin bergantung pada berbagai infrastruktur berbasis antariksa.

Satelit telah digunakan untuk beragam keperluan, seperti telekomunikasi, pengamatan Bumi, navigasi, pemantauan pesawat dan kapal, hingga pelacakan berbagai objek bergerak.

Baca Juga: Jangan Diabaikan, Nyeri Sendi Berulang Bisa Jadi Tanda Penyakit Ini di Tubuhmu

Pertumbuhan layanan telekomunikasi yang memanfaatkan konstelasi satelit orbit rendah juga turut mendorong peningkatan jumlah satelit yang aktif di orbit.

Menurut Heru, pertumbuhan aktivitas antariksa tersebut harus diikuti kemampuan untuk memantau kondisi lingkungan di ruang angkasa.

Sebab, satelit yang sudah berhenti beroperasi maupun bagian wahana peluncur yang telah menyelesaikan tugasnya dapat berubah menjadi puing antariksa dan berisiko mengganggu satelit lain yang masih aktif.

“Setelah satelit tidak lagi beroperasi, ia menjadi puing-puing. Begitu pula wahana peluncur, setelah menyelesaikan misinya mengirimkan satelit, ia juga menjadi puing-puing. Ini perlu diperhatikan karena di masa depan, ketika aktivitas meningkat, hal itu dapat membahayakan aktivitas satelit lain yang masih beroperasi,” jelas Heru.

Baca Juga: Sakit Hati Fotonya Dijadikan Stiker WhatsApp, Pegawai Diskominfo Kukar Nekat Bawa 30 Liter Bensin dan Bakar Ruang Rapat!

Ia menilai ekosistem antariksa perlu dijaga mengingat ketergantungan manusia terhadap teknologi satelit terus meningkat.

Di bidang pertanian, misalnya, data citra satelit dapat membantu memantau kondisi tanaman. Satelit juga dimanfaatkan untuk mendeteksi kapal yang tidak terdaftar, mendukung navigasi, hingga menyediakan akses internet.

Berbagai infrastruktur tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Meski demikian, keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa bisa terancam jika peningkatan aktivitas antariksa tidak dibarengi tata kelola yang tepat.

Heru mengingatkan penggunaan satelit dalam jumlah besar tanpa perencanaan mengenai penanganan setelah masa operasionalnya berakhir dapat membuat orbit semakin padat dan berpotensi menghambat pemanfaatan ruang angkasa di kemudian hari.

“Jika kita tidak dapat menemukan cara untuk menetapkan aturan di ruang angkasa di masa depan, akan ada kesulitan untuk mengerahkan satelit. Dan tentu saja, akan sulit untuk menggunakan aplikasi satelit tersebut,” ujarnya.

Heru menyebut salah satu persoalan yang masih dihadapi saat ini adalah belum adanya tata kelola lalu lintas antariksa global yang setara dengan sistem pengaturan lalu lintas udara maupun pelayaran.

Menurutnya, diperlukan mekanisme pengelolaan objek antariksa seperti pesawat yang dipantau dan diberi arahan untuk melakukan manuver ketika terdapat risiko tabrakan.

Kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring jumlah objek yang berada di orbit terus bertambah.

Untuk mendukung kebutuhan itu, Indonesia memiliki modal berupa sejumlah fasilitas observasi antariksa.

Heru mengatakan terdapat tiga lembaga yang saat ini mempunyai fasilitas observatorium di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Observatorium Bosscha di Lembang, Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dengan observatorium optik di Lampung, serta BRIN melalui Observatorium Nasional di Timau, dekat Kupang.

Masing-masing fasilitas tersebut memiliki kemampuan teleskop yang berbeda.

Observatorium milik BRIN di Timau menjadi fasilitas dengan teleskop terbesar, yakni berdiameter 380 sentimeter dan memiliki panjang fokus 22 meter.

Fasilitas ini pada dasarnya diperuntukkan bagi penelitian ilmu antariksa, tetapi juga dapat digunakan untuk melacak objek di ruang angkasa, termasuk benda buatan manusia, apabila sesuai dengan kebutuhan pengamatan.

Pengamatan terhadap objek antariksa tidak hanya mengandalkan teleskop optik, tetapi juga dapat dilakukan melalui frekuensi radio dengan memanfaatkan antena dan radar.

Heru menjelaskan radar dapat digunakan untuk memantau satelit maupun puing antariksa, khususnya saat objek sulit diamati menggunakan teleskop optik akibat kondisi pencahayaan.

BRIN juga tengah merencanakan pengembangan teleskop radio berbasis susunan antena yagi di area sekitar 100 x 100 meter untuk melakukan pengamatan terhadap radiasi kosmik.

Heru menambahkan kemampuan observasi tersebut memberikan peluang bagi Indonesia untuk ikut membangun kesadaran situasional antariksa secara global.

Tidak semua negara mempunyai fasilitas dan kemampuan untuk melakukan pemantauan ruang angkasa, sedangkan posisi geografis serta infrastruktur yang dimiliki Indonesia dapat mendukung pengamatan objek yang melintas di wilayah langit Indonesia.

“Kapasitas observatorium nasional ini dapat berkontribusi pada kesadaran situasi ruang angkasa global. Karena tidak setiap negara memiliki kapasitas dan infrastruktur untuk memantau ruang angkasa seperti Indonesia,” ungkapnya.

Ia mencontohkan Observatorium BRIN di Timau dapat dimanfaatkan untuk mengamati berbagai objek antariksa yang melintasi wilayah langit Indonesia.

Pada masa mendatang, hasil pengamatan tersebut berpotensi diteruskan kepada otoritas lalu lintas antariksa global sehingga Indonesia dapat mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan ekosistem ruang angkasa.

“Indonesia dapat berkontribusi dengan infrastruktur kita di Timau, misalnya, untuk mengamati objek ruang angkasa yang melintas di langit kita dan mengirimkan data tersebut ke otoritas lalu lintas ruang angkasa global,” kata Heru. Dengan begitu, fasilitas observasi antariksa Indonesia tidak hanya mendukung riset astronomi dan ilmu antariksa, tetapi juga dapat berperan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan ruang angkasa.

Bertambahnya aktivitas antariksa juga memungkinkan masyarakat semakin sering melihat fenomena benda buatan manusia yang kembali memasuki atmosfer Bumi.

Heru menerangkan fenomena tersebut berbeda dengan meteor yang berasal dari objek alami, karena benda yang terlihat jatuh dapat berupa bagian roket atau satelit yang sudah tidak digunakan dan kemudian memasuki atmosfer sebagai bagian dari proses pembuangan.

Menurutnya, sebagian besar objek tersebut memiliki ukuran yang terlalu kecil sehingga tidak sampai ke permukaan Bumi.

Akan tetapi, objek dengan ukuran lebih besar perlu diarahkan agar jatuh di wilayah perairan, bukan di daerah yang dihuni masyarakat.

Hal ini menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem antariksa ketika kegiatan peluncuran dan pengoperasian satelit terus berkembang.

Heru menegaskan kemampuan observasi Indonesia dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan aktivitas antariksa tersebut.

Penguatan observatorium nasional bukan hanya mendukung kemajuan riset astronomi dan ilmu antariksa, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pemantauan objek antariksa serta menjaga agar pemanfaatan ruang angkasa dapat berlangsung secara aman dan berkelanjutan di masa depan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.