MBG Hiu Goreng untuk Anak Bahaya? Ini Fakta Sebenarnya Terjadi di Sekolah Soal Makan Bergizi Gratis Masak Hiu

AKURAT BANTEN – Insiden keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menyulut kehebohan.
Puluhan siswa dan satu guru dikabarkan menjadi korban usai mengonsumsi menu hiu goreng atau produk olahan hiu dalam MBG.
Dugaan bahwa hiu goreng membawa risiko kesehatan membuat masyarakat bertanya: apakah menu ini aman untuk anak-anak sekolah?
Dilaporkan bahwa 25 orang (24 siswa dan satu guru) mengalami gejala seperti mual, muntah, dan sakit perut setelah makan di sekolah.
Baca Juga: Siswa Waswas Konsumsi MBG, SPPG Perketat Pengawasan di Dapur
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang menyebut bahwa dugaan sementara penyebab keracunan adalah penggunaan ikan hiu dalam menu.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) dalam klarifikasinya menyatakan bahwa penyajian menu hiu dalam MBG bersandar pada prinsip “kearifan lokal” karena ketersediaan bahan di daerah itu.
Namun, BGN juga menegaskan bahwa menu hiu hanya disajikan dua kali selama periode MBG berlangsung di sekolah tersebut, dan mereka berkomitmen menanggung biaya pengobatan korban sepenuhnya.
Media kesehatan juga menyoroti bahwa daging hiu berisiko mengandung logam berat seperti merkuri serta zat polutan lain seperti PCB dan dioksin, yang bisa berbahaya terutama bagi anak-anak.
Baca Juga: Keracunan Maut MBG di Cipongkor Terulang, Puluhan Siswa SMK Dilarikan ke Rumah Sakit!
Hiu adalah predator laut puncak yang mengonsumsi banyak ikan dalam rantai makanan.
Karena itu, mereka cenderung mengakumulasi zat berbahaya seperti merkuri, PCB, dan dioksin dalam jaringan tubuhnya.
Bagi anak-anak, paparan merkuri dapat berdampak buruk pada perkembangan otak, sistem saraf, dan fungsi kognitif.
Selain logam berat, hiu juga bisa menjadi akumulator racun laut seperti ciguatoksin melalui rantai makanan, yang punya risiko menimbulkan keracunan makanan laut (ciguatera).
Baca Juga: Ada Kasus Keracunan MBG di Tangerang? Hati-hati Berkaca dari MBG Bermasalah di Kota Besar Lainnya
Bila daging hiu tidak disimpan atau diolah dengan higienis (rantai dingin rusak, sanitasi buruk), risiko kontaminasi bakteri atau racun mikroba bisa meningkat.
Dalam kasus MBG Ketapang, BGN juga menyebut kemungkinan bahwa gejala yang muncul sebagian dapat berasal dari reaksi alergi pada siswa yang sensitif terhadap bahan tertentu bukan semata keracunan hiu.
Untuk daerah seperti Banten, kejadian ini memberi peringatan serius. Sekolah dan penyelenggara MBG perlu mempertimbangkan:
Memprioritaskan bahan pangan lokal yang aman dan sudah terbukti tidak berisiko tinggi.
Melakukan uji keamanan pangan (laboratorium) sebelum menu digunakan luas.
Mencatat alergi setiap siswa sebagai bagian dari prosedur administrasi MBG.
Transparansi proses pemilihan menu dan pengawasan mutu serta penyimpanan makanan.
Penarikan menu atau revisi segera jika ditemukan indikasi risiko.
Baca Juga: Bukan Soal Makanan, Ini Alasan Istana Tolak Mentah Usulan DPR Ganti MBG Jadi Uang Tunai!
Kasus MBG dengan menu hiu goreng ini menunjukkan bahwa niat baik memberi makan bergizi gratis tidak cukup tanpa mitigasi risiko pangan.
Sementara hiu bisa menjadi sumber protein, catatan mengenai kandungan logam berat dan potensi kontaminasi harus menjadi bahan pertimbangan serius, terutama bila menyasar anak-anak sekolah.
Bagi warga Banten dan pengelola MBG di daerah, insiden ini menjadi pelajaran bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama, agar program bergizi tidak berubah menjadi sumber bahaya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






