Banten

Rupiah Menyentuh Rp18.000 per Dolar AS, Sejumlah Barang Berpotensi Alami Kenaikan Harga

Aullia Rachma Puteri | 4 Juni 2026, 10:58 WIB
Rupiah Menyentuh Rp18.000 per Dolar AS, Sejumlah Barang Berpotensi Alami Kenaikan Harga
harga Naik karena nilai tukar rupiah ke dollar mengerikan

AKURAT BANTEN – Pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu perhatian publik.

Di media sosial X, banyak pengguna membahas dampak yang mungkin terjadi jika pelemahan mata uang nasional berlangsung dalam waktu yang lama.

Kekhawatiran utama masyarakat tertuju pada potensi kenaikan harga berbagai barang yang masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku maupun komponen impor.

Ketika dolar AS menguat, biaya pembelian produk dari luar negeri menjadi lebih mahal sehingga dapat memengaruhi harga jual di pasar domestik.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS Nyaris Rp18 Ribu, Mata Uang Indonesia Terpukul Sentimen Global

Sejumlah daftar yang beredar di media sosial menyebut puluhan produk berpotensi mengalami penyesuaian harga apabila kurs rupiah terus berada di level tinggi.

Produk makanan menjadi salah satu sektor yang paling disorot karena berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Mi instan termasuk barang yang disebut berisiko terdampak.

Meski diproduksi di dalam negeri, beberapa bahan pendukung dan komoditas tertentu masih berkaitan dengan pasar global.

Baca Juga: Bayang-Bayang Krisis 1998 Muncul Lagi? Rupiah Terpukul di Tengah Optimisme Prabowo

Selain itu, produk lain seperti tepung terigu, susu, daging impor, hingga aneka makanan olahan juga dinilai memiliki potensi menghadapi tekanan harga.

Dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan pada sektor pangan. Barang elektronik yang banyak menggunakan komponen impor juga berpotensi mengalami kenaikan harga.

Smartphone, laptop, komputer, televisi, kamera digital, hingga berbagai perangkat teknologi lainnya menjadi produk yang cukup sensitif terhadap perubahan kurs mata uang.

Sementara itu, sektor otomotif juga diperkirakan menghadapi tantangan serupa.

Baca Juga: Rupiah Terpuruk dan IHSG Ambles 4 Persen, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Harga kendaraan baru, suku cadang, ban, aki, hingga sejumlah kebutuhan pendukung transportasi dapat terdampak apabila biaya impor meningkat.

Kondisi ini biasanya terjadi ketika pelaku usaha harus menyesuaikan biaya produksi maupun distribusi.

Para pengamat ekonomi sebelumnya telah mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor global.

Penguatan dolar AS, ketidakpastian ekonomi internasional, serta pergerakan investasi ke aset yang dianggap lebih aman menjadi beberapa faktor yang ikut memengaruhi nilai tukar.

Baca Juga: Kematian Misterius Haerul Saleh: Tragedi Biasa atau Bungkamnya Sang Penjaga Triliunan Rupiah?

Meski demikian, pemerintah dan otoritas terkait terus memantau perkembangan pasar keuangan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah-langkah pengendalian juga dilakukan guna mengurangi dampak gejolak kurs terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Hingga saat ini, belum semua barang mengalami kenaikan harga secara langsung.

Namun, pelemahan rupiah tetap menjadi indikator yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya impor, produksi, dan konsumsi dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kematian Misterius Haerul Saleh: Tragedi Biasa atau Bungkamnya Sang Penjaga Triliunan Rupiah?

Jika tekanan terhadap nilai tukar berlanjut, masyarakat dan pelaku usaha diperkirakan akan menghadapi tantangan baru berupa meningkatnya harga sejumlah kebutuhan dan barang konsumsi yang memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.