Banten

Strategi Cerdik Iran: Buka Selat Hormuz di Tengah Nego dengan Trump, Tapi 'Pajaki' Kapal Rp34 Miliar!

Abdurahman | 24 Maret 2026, 13:17 WIB
Strategi Cerdik Iran: Buka Selat Hormuz di Tengah Nego dengan Trump, Tapi 'Pajaki' Kapal Rp34 Miliar!
Ilustrasi perlintasan selat Hormuz (dok Ist)

AKURAT BANTEN – Geopolitik Timur Tengah kembali memanas namun dengan cara yang tak terduga.

Di tengah ketegangan yang melibatkan ancaman militer dari Amerika Serikat, Iran melakukan langkah diplomasi sekaligus bisnis yang mengejutkan dunia: membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, namun dengan syarat yang sangat mahal.

Setiap kapal yang melintas kini wajib membayar "tarif transit" fantastis sebesar 2 juta dolar AS atau setara dengan Rp34 miliar.

Langkah ini diambil tepat saat pintu negosiasi dengan Presiden AS Donald Trump mulai terbuka.

Baca Juga: Tren Pencarian Video Viral Meningkat, Pakar Siber Ingatkan Modus Phishing di Balik Link Pendek

1. "Pajak" Kekuatan di Jalur Minyak Dunia

Selat Hormuz bukanlah sembarang perairan. Jalur sempit ini adalah urat nadi energi global yang dilalui hampir 20% pasokan minyak dunia.

Dengan menetapkan tarif Rp34 miliar per kapal, Iran tidak hanya sedang mencari pemasukan di tengah sanksi, tetapi juga sedang memamerkan kedaulatannya.

"Menarik 2 juta dolar AS sebagai biaya transit mencerminkan kekuatan Iran," tegas Alaeddin Boroujerdi, anggota komite keamanan parlemen Iran.

Kebijakan ini dilaporkan sudah mulai memakan korban, di mana kapal-kapal asal China dikabarkan menjadi yang pertama membayar "upeti" tersebut demi keamanan perjalanan.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan di Balik Pencarian Video 7 Menit Ibu Tiri vs Anak Tiri yang Viral, Netizen Wajib Tahu Ini!

2. Sinyal Damai dari Donald Trump?

Yang menarik, kebijakan "berbayar" ini muncul berbarengan dengan pernyataan mengejutkan dari Donald Trump.

Sang Presiden AS mengonfirmasi adanya tanda-tanda positif menuju deeskalasi konflik.

Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menghancurkan infrastruktur listrik Iran.

Namun, ultimatum tersebut tiba-tiba diperpanjang selama 5 hari karena adanya diskusi informal yang dianggap produktif.

Baca Juga: Tok, Resmi! Pemerintah Tetapkan Jumat Jadi Hari WFH: ASN dan Karyawan Swasta Wajib Simak Aturannya!

3. Diplomasi di Balik Layar: Peran Pakistan dan Mesir

Siapa yang menyangka bahwa ketegangan dua negara raksasa ini dijembatani oleh negara sahabat?

Pakistan dan Mesir muncul sebagai mediator kunci.

Jalur Kairo: Menteri Luar Negeri Mesir mengungkap bahwa utusan khusus AS, Steve Witkoff, telah bertemu dengan Menlu Iran Abbas Araghchi secara informal di Kairo.

Jalur Islamabad: Panglima Militer Pakistan dikabarkan berkomunikasi langsung dengan pihak Trump, sementara PM Pakistan Shehbaz Sharif berdialog intens dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Baca Juga: Pecah Kongsi! Dokter Tifa dan Roy Suryo 'Kunci Barisan', Rismon Sianipar Kena Sindir Telak Soal Ijazah

4. Siapa yang Boleh Lewat?

Meski terbuka, Iran memberikan pengecualian yang sangat tegas.

Presiden Pezeshkian menyatakan bahwa hanya kapal-kapal yang tidak berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat yang diizinkan melintas secara aman, tentu saja setelah membayar tarif yang ditentukan.

Baru-baru ini, Iran mengizinkan kapal tanker Jepang yang membawa 2 juta barel minyak dari Irak untuk melintas, menandakan bahwa "kran" energi mulai dialirkan kembali secara selektif.

Bisnis atau Gencatan Senjata?

Langkah Iran ini dipandang para analis sebagai strategi "dua kaki".

Di satu sisi, mereka bersedia bernegosiasi untuk menghindari kehancuran total akibat serangan AS.

Di sisi lain, mereka memanfaatkan posisi geografisnya untuk menekan ekonomi dunia dan mengisi kas negara lewat tarif transit. (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman