HEBOH! Kisah Pilu Hanya Karena Buku Tulis, Bocah SD di NTT Pilih Pergi Selamanya: 'Mama, Jangan Cari Saya Lagi!'

AKURAT BANTEN– Sebuah tragedi memilukan memecah kesunyian di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun, YBR, ditemukan tak bernyawa di sebuah pohon cengkih, hanya beberapa meter dari pondok tempat ia tinggal.
Bukan karena kenakalan remaja atau tekanan teman sebaya, YBR memilih pergi selamanya karena satu alasan yang menyayat hati: Ia tidak bisa membeli buku tulis dan pulpen untuk sekolah.
Baca Juga: Ancaman Diam-diam dari Meja Makan, Virus Nipah Bisa Menyebar Lewat Buah dan Minuman Sehari-hari
Malam Terakhir dan Permintaan yang Tak Terpenuhi
Malam sebelum kejadian tragis itu, YBR sengaja mendatangi rumah ibunya di desa tetangga.
Ia menginap di sana dengan satu harapan besar—mendapatkan sedikit uang untuk membeli alat tulis agar bisa terus belajar.
Namun, kondisi ekonomi keluarga menjadi tembok besar. Sang ibu, yang harus berjuang sendirian menghidupi lima orang anak tanpa suami sejak 10 tahun lalu, terpaksa menolak permintaan putra kecilnya itu.
Kemiskinan yang mencekik membuat uang beberapa ribu rupiah untuk sebuah buku tulis menjadi barang mewah yang tak sanggup dibeli.
"Hidup ibunya sangat susah. Malam itu korban minta uang untuk beli buku dan pulpen, tapi ibunya tidak punya uang," ujar Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa.
Baca Juga: Empat Terduga Pengeroyokan Perempuan di Pinang Dilepas, Kuasa Hukum Pertanyakan Keamanan Warga
"Mama Pelit Sekali": Surat Cinta yang Berujung Luka
Pagi harinya, YBR kembali ke pondok neneknya. Tak ada tanda-tanda kemarahan yang meledak, namun luka di hatinya tertuang dalam secarik kertas.
Polisi menemukan sepucuk surat dalam bahasa daerah Bajawa di dekat lokasi kejadian yang membuat siapa pun yang membacanya merasa pilu.
"Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk Mama Reti), Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)..." tulis YBR dalam salah satu barisnya.
Meskipun menuliskan kata "pelit", baris-baris berikutnya justru menunjukkan kepasrahan seorang anak yang merasa bebannya terlalu berat.
"Molo Mama (Selamat tinggal Mama). Kalau saya meninggal, Mama jangan menangis, jangan cari saya lagi," lanjutnya dalam surat yang juga menyertakan gambar dirinya tengah menangis.
Baca Juga: Laksa Tangerang Bertahan di Tengah Sepi: Cerita Ismail, Pedagang Turun-Temurun Sejak 2011
Alarm Keras bagi Negara
Kisah YBR bukan sekadar berita duka, melainkan tamparan keras bagi sistem pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia.
Anggota Komisi X DPR RI menyebut kejadian ini sebagai "alarm keras" bahwa masih ada anak bangsa yang harus kehilangan nyawa hanya karena urusan alat tulis yang harganya tak seberapa bagi sebagian orang.
Tragedi ini menyoroti betapa dalamnya jurang kemiskinan di pelosok negeri, di mana akses pendidikan yang katanya "gratis" ternyata masih menyisakan beban berat bagi mereka yang berada di garis kemiskinan ekstrem.
Baca Juga: Epstein Files Disorot, Seret Nama Bill Gates hingga Konspirasi Covid-19 Diperdebatkan!
Pelajaran Berharga untuk Kita Semua
Kini, pohon cengkih itu menjadi saksi bisu kepergian seorang anak yang sebenarnya hanya ingin bersekolah.
Kisah YBR mengingatkan kita semua untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Terkadang, bantuan sekecil buku tulis atau perhatian tulus bisa menyelamatkan satu nyawa dari keputusasaan.
Selamat jalan, YBR. Semoga di sana, kamu bisa menulis dan menggambar sepuas hati tanpa harus memikirkan harga sebuah pulpen.
Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan solusi. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan mental atau pikiran untuk mengakhiri hidup, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional di layanan kesehatan mental atau menghubungi layanan darurat terdekat (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










