Banten

Sejarah 'PONTIANAK' Sebuah Kota Dibawah Naungan Garis Katulistiwa

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 26 November 2023, 00:30 WIB
Sejarah 'PONTIANAK' Sebuah Kota Dibawah Naungan Garis Katulistiwa

AKURAT BANTEN - Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia memiliki 38 provinsi yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Provinsi-provinsi ini mencerminkan kekayaan budaya, geografis, dan alam yang luar biasa yang dimiliki oleh Indonesia. Salah satu penambahan terbaru adalah Provinsi Papua Barat Daya, yang melengkapi daftar provinsi-provinsi di Indonesia.

Dilansir dari dppkbpppa.pontianak.go.id, Kota Pontianak adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Bagian dari sejarah kota ini, oleh etnis Tionghoa, kota tersebut dikenal dengan nama Pinyin (Kundian).Kota Pontianak dilalui Sungai Kapuas sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak yang membelah kota yang dikenal dengan nama Kota Khatulistiwa.

Pada artikel kali ini, Penulis ingin mengajak para pembaca setia Media Akurat Banten untuk mengenal lebih dekat dengan sejarah Kota Pontianak yang pada jaman Orde lama menjadi impian Soekarno untuk menjadikannya Ibukota negara setelah Jakarta.

Alkisah, Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman pada 23 Oktober 1771. Pendirian ini ditandai dengan pembukaan hutan di pertigaan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar. Secara geografis, kota ini dilalui oleh dua sungai terbesar di Pulau Kalimantan, yakni Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kedua sungai ini pun diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak.

Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadriyah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

Adapun Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak:

  1. Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808
  2. Syarif Kasim Alkadrie memerintah dari tahun 1808-1819
  3. Syarif Osman Alkadrie memerintah dari tahun 1819-1855
  4. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tahun 1855-1872
  5. Syarif Yusuf Alkadrie memerintah dari tahun 1872-1895
  6. Syarif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944
  7. Syarif Thaha Alkadrie memerintah dari tahun 1944-1945
  8. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tabun 1945-1950

Menurut V.J. Verth, seorang penulis buku sejarah 'Borneos Wester Afdeling', dijelaskan bahwa Belanda masuk ke Pontianak pada tahun 1194 (1773 Masehi) dari Batavia. Kemudian, putra ulama dari Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie yakni Syarif Abdurrahman atau Al Habib Husin lantas meninggalkan kerajaannya dan memilih untuk merantau ke Banjarmasin.

Di Banjarmasin, Syarif menikah dengan adik Sultan Banjar, Sunan Nata Alam dan menjabat sebagai pangeran. Dengan kemampuan berdagang yang mumpuni, Syarif berhasil mengumpulkan modal untuk mempersenjatai kapal pelancang dan kapal miliknya untuk melawan Belanda.

Dibantu Sultan Pasir, Syarif akhirnya berhasil membajak kapal milik Belanda di Bangka, lalu kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir, Setelah berhasil memukul mundur Belanda, Syarif mendirikan pemukiman di Sungai Kapuas. Di sana, ia menemukan cabang dari Sungai Landak lalu mengembangkannya menjadi pusat perdagangan yang maju. Selanjutnya kawasan ini dikenal dengan nama Pontianak.

Dikutip dari pariwisataindonesia.id dan buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe yang ditulis Zaenuddin HM nama Pontianak tak lepas dari kisah-kisah hantu kuntilanak yang selalu mengganggu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie lahir pada tahun 1142 Hijriah/1729/1730 Masehi. Ia adalah putra dari Al Habib Husin seorang penyebar ajaran Islam yang berasal dari Arab, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah para pendiri serta menjadi sultan pertama di Kerajaan Pontianak.

Ada cerita yang berkembang di masyarakat Pontianak sampai saat ini adalah tentang Sungai Kapuas, Dimana pada saat itu Sultan Syarif selalu diganggu kuntilanak, Lalu dengan segera melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu kuntilanak tersebut. Dan kemudian dia berjanji, bahwa dimana lokasi peluru meriam yang ditembakkan jatuh, Maka akan didirikan sebuah kesultanan, Peluru meriam yang di tembakkan sebanyak dua kali itu, ternyata jatuh tepat di dekat perempatan Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini dikenal dengan nama Bering.

Sang Raja kemudian menembakkan meriam ke tiga dan jatuh ditempat yang kemudian menjadi titik pembangunan Pontianak. Adapun efek suara dari 3 tembakan suaranya sangat menggelegar itu berhasil menakuti para kuntilanak sehingga mereka pergi dari hutan Pontianak.

Pada titik ketiga adalah Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Abdurrahman, dan pemakaman anggota keluarga Kesultanan Pontianak. Sedangkan mengapa kota ini kemudian bernama Pontianak, karena dahulu banyak hantu kuntilanak yang mendiami tempat ini.

Warga lokal sering disebut dengan nama puntianak. Nama “puntianak” merupakan singkatan dari “perempuan mati beranak”. Namun, ada juga yang menceritakan bahwa sebenarnya suara Kuntilanak tersebut berasal dari kumpulan perompak yang diketahui bersembunyi di dalam hutan agar tidak oleh siapa pun.

Versi yang lain menyebutkan nama Pontianak berasal dari pohon punti atau pohon yang sangat tinggi. Hal ini karena pulau Kalimantan dahulu terkenal dengan kepulauan yang banyak ditumbuhi pepohonan yang tinggi maka lahirlah nama puntianak tersebut.

Penyebutan pohon ponti ini terbukti dari isi surat antara Husein bin Abdul Rahman Al-Aidrus kepada Syarif Yusuf Al-Kadrie. Selanjunya ada juga legenda versi keempat yang menyebutkan Pontianak berasal dari kata Pontian, Hal ini dilatarbelakangi dari posisi Kota Pontianak yang strategis sebagai Pontian. Pontian artinya pemberhentian atau tempat singgah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.