Ledakan Pemusnahan Amunisi di Garut: Komnas HAM Sebut Ada Perdebatan soal Metode Penanganan Detonator

AKURAT BANTEN - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap sejumlah temuan penting terkait insiden ledakan pemusnahan amunisi tidak layak pakai di Garut, Jawa Barat, yang merenggut 13 nyawa.
Anggota Komnas HAM, Uli Parulian Sihombing, menyampaikan bahwa sebelum tragedi terjadi, sempat terjadi perdebatan antara pihak militer dan koordinator pekerja sipil terkait metode penanganan sisa detonator.
Baca Juga: Gubernur Banten Andra Soni Temui Khofifah, Bahas Kerja Sama BPD dan Strategi Bangun Ekonomi Daerah
Menurut Uli, perdebatan tersebut berlangsung antara Kolonel Cpl Antonius Hermawan yang menjabat sebagai Komandan Gapusmus, dan Rustiawan, koordinator pekerja sipil yang berada di lokasi. Fokus perdebatan adalah bagaimana seharusnya sisa detonator ini ditangani dengan aman.
“Biasanya, detonator sisa akan ditenggelamkan ke dasar laut agar proses disfungsi lebih cepat. Namun pada hari itu, diputuskan untuk menimbun detonator dengan campuran urea,” jelas Uli. Keputusan ini kemudian berujung pada tragedi.
Baca Juga: Buronan Kelas Kakap Belum Tertangkap, KPK Kantongi Titik Lokasi Harun Masiku
Dalam proses pemusnahan, para korban sedang menurunkan detonator yang telah dimasukkan ke dalam drum ke dalam lubang yang sudah disiapkan. Beberapa dari mereka berada di dalam lubang, sementara yang lain ada di sekitarnya, membawa dan mengangkut material detonator.
Tiba-tiba, drum yang berisi detonator itu meledak secara mendadak, menyebabkan kerusakan fatal dan korban jiwa yang cukup banyak.
“Ledakan ini sangat besar dan tidak terduga,” kata Uli.
Selain itu, Uli mengungkap ada sekitar 50 warga yang rutin berkumpul di lokasi setelah proses pemusnahan selesai. Mereka biasanya datang untuk mengambil sisa-sisa amunisi yang sudah dimusnahkan. Hal ini menunjukkan tingginya aktivitas warga di sekitar lokasi pemusnahan, yang berpotensi menambah risiko keselamatan.
Baca Juga: Gibran Tegaskan Pentingnya Makanan Bergizi Gratis: Bekal Fisik dan Mental Anak Bangsa di Masa Depan
Komnas HAM pun menekankan pentingnya investigasi menyeluruh untuk memastikan prosedur keamanan di lapangan dijalankan dengan ketat. Mereka juga mengingatkan agar prosedur standar pemusnahan amunisi kembali diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Baca Juga: Tahan Ijazah Karyawan, Bos CV Santoso Seal Terjerat Kasus Penggelapan
Kasus ini menjadi pengingat keras akan risiko tinggi dalam penanganan bahan peledak dan pentingnya koordinasi yang baik antara aparat militer dan pekerja sipil dalam operasi berbahaya seperti ini.
Pemerintah diharapkan dapat segera menindaklanjuti hasil temuan Komnas HAM demi mencegah kecelakaan serupa di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Juventus Tak Terima Kalah dari Cristiano Ronaldo! Kasus Gaji Rp190 Miliar Kini Dibawa ke Pengadilan Tertinggi Italia
- 7Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 8Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!





