Banten

Langit Indonesia Bersiap Sambut Fenomena Langka Gerhana Bulan Total dan Worm Moon 3 Maret 2026

Riski Endah Setyawati | 28 Februari 2026, 13:49 WIB
Langit Indonesia Bersiap Sambut Fenomena Langka Gerhana Bulan Total dan Worm Moon 3 Maret 2026
Ilust\trasi gerhana bulan total (Istimewa)

Akurat Banten - Fenomena langit yang jarang terjadi akan menghiasi malam Indonesia pada Selasa, 3 Maret 2026.

Peristiwa ini berupa gerhana bulan total yang bertepatan dengan fase purnama Maret yang dikenal sebagai Worm Moon.

Masyarakat di berbagai wilayah Tanah Air diperkirakan dapat menyaksikan momen ini secara langsung tanpa alat khusus.

Kejadian ini menjadi salah satu fenomena astronomi paling dinanti pada awal tahun 2026.

Baca Juga: Kejati DKI Geledah Tiga Lokasi Kasus Dugaan Korupsi Proyek PLN Bernilai Ratusan Miliar

Gerhana bulan total terjadi saat posisi Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan.

Kondisi tersebut membuat bayangan Bumi menutupi seluruh permukaan Bulan yang sedang berada pada fase purnama.

Ketika mencapai puncaknya, Bulan tidak sepenuhnya gelap melainkan berubah warna menjadi kemerahan.

Warna merah tersebut muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.

Baca Juga: 300 Ribu Lansia Diusulkan Terima MBG, Kemensos Siapkan Uji Coba Distribusi

Fenomena ini kerap disebut sebagai blood moon atau Bulan berdarah.

Meski terlihat dramatis, kejadian ini merupakan proses ilmiah yang dapat diprediksi dengan akurat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut gerhana ini berlangsung cukup lama jika kondisi cuaca cerah.

Fase awal gerhana sebagian diperkirakan dimulai sekitar pukul 16.10 WIB.

Baca Juga: Heboh! Virgoun Resmi Menikah Lagi, Mantan Pacar Malah Lempar Bom Isu 'Hamil Duluan': 'Perutnya Belendung'

Puncak gerhana total terjadi pada rentang pukul 18.04 hingga 19.04 WIB.

Seluruh rangkaian fenomena ini diperkirakan berakhir sekitar pukul 20.17 WIB.

Wilayah Indonesia bagian tengah dan timur akan mengalami penyesuaian waktu sesuai zona masing-masing.

Istilah Worm Moon sendiri memiliki sejarah panjang dalam tradisi penamaan bulan purnama.

Baca Juga: Tragedi Berdarah di Kelapa Gading: Adik Tewaskan Kakak, Ibu Histeris dan Trauma

Nama tersebut berasal dari kebiasaan masyarakat di belahan bumi utara yang menandai munculnya kembali cacing tanah saat musim dingin berakhir.

Fenomena ini menjadi lebih istimewa karena tidak semua purnama bertepatan dengan gerhana total.

Kombinasi keduanya menciptakan pemandangan langit yang unik dan memukau.

Astronom dari National Geographic menyebut peristiwa ini sebagai salah satu atraksi langit paling menarik di awal 2026.

Baca Juga: Tragedi Berdarah di Kelapa Gading: Adik Tewaskan Kakak, Ibu Histeris dan Trauma

Fenomena tersebut bahkan melengkapi rangkaian kejadian astronomi lain seperti parade planet yang terjadi sebelumnya.

Waktu pengamatan yang berlangsung sejak sore hingga malam hari membuat fenomena ini mudah disaksikan.

Masyarakat tidak perlu bangun dini hari untuk melihat proses gerhana seperti pada kejadian lainnya.

Cukup dengan mengamati langit dari tempat terbuka saat Bulan mulai muncul di ufuk timur.

Perubahan warna Bulan dapat diamati secara perlahan hingga mencapai fase totalitas.

Baca Juga: Polemik MBG 2026: Ujian Transparansi dan Kedewasaan Demokrasi

Beberapa komunitas astronomi telah menyiapkan kegiatan pengamatan bersama.

Salah satunya adalah Observatorium Astronomi ITERA yang membuka akses bagi masyarakat untuk mengamati menggunakan teleskop.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman visual yang lebih detail.

Gerhana bulan total dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus.

Berbeda dengan gerhana matahari, fenomena ini aman untuk diamati secara langsung.

Namun, penggunaan teleskop atau teropong tetap disarankan bagi yang ingin melihat detail permukaan Bulan.

Baca Juga: 300 Ribu Lansia Diusulkan Terima MBG, Kemensos Siapkan Uji Coba Distribusi

Selain sebagai tontonan menarik, fenomena ini juga memiliki nilai edukasi yang tinggi.

Pelajar dapat memanfaatkan momen ini untuk memahami konsep pergerakan benda langit.

Peristiwa ini juga membantu menjelaskan hubungan antara Bumi, Matahari, dan Bulan dalam sistem tata surya.

Sekolah dan komunitas sains kerap menjadikan gerhana sebagai sarana pembelajaran langsung.

Minat generasi muda terhadap ilmu astronomi pun dapat meningkat melalui pengalaman ini.

Baca Juga: Polemik MBG 2026: Ujian Transparansi dan Kedewasaan Demokrasi

Di sisi lain, fenomena ini juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas langit malam.

Polusi cahaya yang tinggi dapat mengurangi kejelasan pengamatan benda langit.

Lingkungan yang lebih gelap akan memberikan pengalaman observasi yang lebih optimal.

Fenomena gerhana juga memberikan perspektif luas tentang posisi manusia di alam semesta.

Untuk menikmati gerhana ini, masyarakat disarankan memilih lokasi dengan pandangan terbuka ke arah timur.

Baca Juga: Tragedi Berdarah di Kelapa Gading: Adik Tewaskan Kakak, Ibu Histeris dan Trauma

Area yang jauh dari cahaya kota menjadi pilihan terbaik untuk mengamati perubahan warna Bulan.

Penggunaan kamera dengan mode malam dapat membantu mengabadikan momen langka ini.

Ponsel pintar juga dapat digunakan selama memiliki fitur fotografi malam yang memadai.

Kegiatan menyaksikan gerhana dapat menjadi ajang berkumpul bersama keluarga atau teman.

Momen ini juga bisa dimanfaatkan sebagai aktivitas edukatif di luar ruangan.

Baca Juga: 300 Ribu Lansia Diusulkan Terima MBG, Kemensos Siapkan Uji Coba Distribusi

Beberapa komunitas astronomi kemungkinan akan mengadakan acara khusus di berbagai daerah.

Partisipasi dalam kegiatan tersebut dapat menambah wawasan sekaligus pengalaman baru.

Fenomena langit seperti ini menjadi pengingat bahwa alam semesta selalu menyimpan kejutan menarik untuk disaksikan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.