Banten

Menguak 9 'Dosa' Amerika di Iran: Catatan Kelam Intervensi Gedung Putih Sejak Kudeta 1953

Abdurahman | 1 Maret 2026, 22:33 WIB
Menguak 9 'Dosa' Amerika di Iran: Catatan Kelam Intervensi Gedung Putih Sejak Kudeta 1953
Kolase sejarah Intervensi AS di Iran (dok Istimewa)

AKURAT BANTEN–Hubungan antara Teheran dan Washington kembali berada di titik nadir. Di tengah eskalasi ketegangan global yang melibatkan serangan udara terbaru terhadap infrastruktur vital Iran, Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia merilis pernyataan menohok.

Bukan sekadar retorika politik, Teheran membuka kembali lembaran hitam sejarah yang mereka sebut sebagai "9 Jejak Kelam Intervensi AS".

Dari penggulingan kekuasaan secara paksa hingga tragedi udara yang merenggut ratusan nyawa sipil, berikut adalah rangkuman perjalanan panjang permusuhan yang mengubah wajah Timur Tengah selamanya.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Gugur, Pemerintah Siapkan Pengganti Sementara, Siapa?

1. Operasi Ajax (1953): Titik Nol Pengkhianatan Demokrasi

Sejarah mencatat 1953 sebagai tahun di mana CIA dan intelijen Inggris (MI6) merancang kudeta terhadap Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh. Kesalahannya?

Menasionalisasi industri minyak Iran. AS kemudian mengembalikan kekuasaan absolut kepada Shah Reza Pahlavi, menandai awal mula kebencian rakyat Iran terhadap campur tangan asing.

Baca Juga: Gawat! Ruang Udara Timur Tengah Memanas, 58 Ribu Jemaah Umrah Indonesia Tertahan di Arab Saudi: Begini Nasib Mereka

2. Dukungan Terhadap Rezim Otoriter Shah

Selama puluhan tahun, AS menjadi penyokong utama rezim Shah yang dikenal represif.

Melalui badan intelijen SAVAK yang dilatih AS, ribuan aktivis dan rakyat Iran yang menginginkan perubahan mengalami penyiksaan dan persekusi sistematis.

3. Perang Irak-Iran: Menyuplai 'Tangan Kanan' Saddam Hussein

Saat perang pecah pada 1980-1988, AS berada di belakang Saddam Hussein.

Kedubes Iran menyoroti bagaimana Washington memberikan data intelijen dan dukungan militer kepada Irak, bahkan ketika penggunaan senjata kimia mulai menghancurkan pasukan dan warga sipil Iran.

Baca Juga: Kabar Mengejutkan dari Timur Tengah, Isu Tewasnya Ali Khamenei dalam Serangan AS Israel Bikin Dunia Siaga

4. Tragedi Iran Air 655 (1988): 290 Nyawa Melayang

Salah satu luka paling dalam adalah penembakan pesawat komersial Iran Air 655 oleh kapal perang AS, USS Vincennes. Sebanyak 290 orang, termasuk 66 anak-anak, tewas seketika.

Dari penggulingan demokrasi pada 1953 hingga serangan terhadap warga sipil di udara pada 1988, sejarah mencatat bahwa setiap jengkal krisis di Iran hari ini memiliki akar intervensi yang ditanam oleh Washington puluhan tahun silam

AS menyebutnya "salah identifikasi", namun bagi Teheran, ini adalah kejahatan perang yang tak pernah dimaafkan sepenuhnya.

Baca Juga: Perang Iran-Israel Meletus, Siap-siap Harga BBM di Tangerang Ikut Terkerek?

5. Sanksi Ekonomi yang 'Mencekik' Kemanusiaan

Puluhan tahun sanksi sepihak telah dijatuhkan. Iran menegaskan bahwa sanksi ini bukan sekadar alat politik, melainkan "terorisme ekonomi" yang menghambat akses warga sipil terhadap obat-obatan dan kebutuhan pokok, terutama di masa krisis kesehatan global.

6. Sabotase Program Nuklir dan Ilmuwan Iran

Teheran menuding AS dan sekutunya melakukan serangkaian sabotase siber (seperti virus Stuxnet) dan pembunuhan terhadap ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.

Hal ini dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan yang nyata terhadap kemajuan teknologi sebuah bangsa.

Baca Juga: Dunia Terguncang! Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Dikabarkan Tewas dalam Serangan Udara di Teheran

7. Pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani (2020)

Serangan drone yang menewaskan Jenderal Qasem Soleimani di Baghdad menjadi puncak eskalasi modern.

Bagi Iran, pembunuhan tokoh militer tertinggi mereka di wilayah negara ketiga adalah bentuk terorisme negara yang melanggar hukum internasional.

8. Dukungan Terhadap Kelompok Separatis dan Oposisi Radikal

Kedubes Iran menekankan peran AS dalam mendanai dan memberikan perlindungan bagi kelompok-kelompok yang dianggap teroris oleh Teheran, guna menciptakan instabilitas internal dari dalam negeri Iran.

Baca Juga: Perang Memanas! Iran Balas Serangan AS dan Israel, Incar Pangkalan Militer di Arab Saudi, Qatar dan UEA

9. Agresi Terbaru dan Pelanggaran Piagam PBB

Menutup daftarnya, Iran mengecam agresi militer terbaru yang melibatkan AS dan Israel terhadap fasilitas sipil di Teheran pada akhir Februari 2026.

Teheran menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, mereka memiliki hak sah untuk melakukan pembelaan diri atas kedaulatan yang diinjak-injak.

Analisis: Mengapa Ini Penting bagi Dunia?

Narasi yang dibuka oleh Kedubes Iran ini bukan sekadar nostalgia sejarah.

Ini adalah upaya untuk mengingatkan dunia bahwa ketegangan saat ini memiliki akar yang sangat dalam.

Di tengah tawaran mediasi dari berbagai pihak, termasuk Indonesia, pemahaman atas "jejak kelam" ini menjadi kunci untuk memahami mengapa rasa saling percaya antara kedua negara sulit untuk dipulihkan.

Baca Juga: Bahaya Saweran Paus: Mengapa Live TikTok Menkeu Purbaya Berujung Peringatan Keras dari KPK?

Apakah diplomasi masih punya ruang, ataukah sejarah akan terus berulang dalam siklus kekerasan? (**)

Sumber: diolah dari bernagai sumber

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman