Ketegangan Global Tekan Rupiah di Pasar Valas, Kurs Ditutup Melemah ke Rp16.905 per Dolar AS
Akurat Banten - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis.
Mata uang Garuda ditutup melemah sebesar 13 poin atau sekitar 0,08 persen ke posisi Rp16.905 per dolar Amerika Serikat.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp16.892 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang cenderung melemah tidak lepas dari situasi global yang memanas, khususnya terkait konflik geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Iran Tegaskan Menolak Negosiasi dengan Amerika Serikat di Tengah Tawaran Mediasi Internasional
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurutnya, ketidakpastian global akibat potensi konflik terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut memicu sentimen negatif di pasar keuangan.
“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh tren peningkatan index dollar yang masih berlanjut terus mendekati 100 masih dipengaruhi risiko perang terbuka AS-Israel dan Iran,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa ketika indeks dolar AS menguat, investor global biasanya cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan di pasar valuta asing.
Baca Juga: Getir tapi Bangga, Pesan Menyentuh Ikang Fawzi Saat Putri Bungsunya Nekat Menuju Gaza
Di sisi lain, perkembangan terbaru dari Iran juga turut memperkeruh situasi geopolitik global.
Pemerintah Iran menegaskan tidak memiliki rencana untuk membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mohammad Mokhber, ajudan dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Mokhber menegaskan bahwa Iran tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Amerika Serikat.
Ia bahkan menegaskan bahwa Iran memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi konflik militer.
Pengalaman tersebut merujuk pada perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun, yakni dari 1980 hingga 1988.
Menurut Mokhber, pengalaman tersebut membuat Iran memiliki kesiapan untuk menghadapi konflik yang berkepanjangan.
Situasi semakin memanas setelah sebelumnya Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengeluarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel.
IRGC bersumpah tidak akan tinggal diam terhadap serangan yang dilancarkan kedua negara tersebut.
Serangan yang terjadi pada Sabtu itu menargetkan sejumlah wilayah strategis di Iran, termasuk di ibu kota Tehran.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa serangan tersebut menimbulkan kerusakan di berbagai fasilitas serta memicu jatuhnya korban sipil.
Baca Juga: Getir tapi Bangga, Pesan Menyentuh Ikang Fawzi Saat Putri Bungsunya Nekat Menuju Gaza
Televisi pemerintah Iran bahkan mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei gugur dalam serangan tersebut.
Peristiwa itu memicu reaksi keras dari pihak Iran.
Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
IRGC juga menuding bahwa serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel menyasar berbagai fasilitas publik.
Menurut mereka, sejumlah lokasi seperti sekolah, rumah sakit, stadion olahraga, restoran, hingga gedung pernikahan menjadi target serangan.
IRGC menilai langkah tersebut dilakukan untuk menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat Iran.
Dalam laporan yang disampaikan, jumlah korban sipil akibat serangan tersebut disebut telah melampaui 700 orang.
Di tengah situasi global yang tidak menentu, faktor domestik juga ikut mempengaruhi pergerakan rupiah.
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah penurunan outlook rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat Fitch.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait prospek ekonomi dan stabilitas keuangan.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam karena adanya peningkatan minat investor terhadap surat utang pemerintah.
Obligasi pemerintah Indonesia dinilai masih menawarkan imbal hasil yang kompetitif bagi investor.
Rully menjelaskan bahwa peningkatan permintaan terlihat terutama pada obligasi dengan tenor pendek hingga menengah.
“Peningkatan paling besar pada tenor 7 tahun dengan yield turun 4,4 bps (basis points), kemudian 8 tahun turun 4,1 bps, 9 tahun turun 3,1 bps, serta 10 tahun turun 2,1 bps,” ungkap Rully.
Ia menilai daya tarik obligasi pemerintah masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.
“Obligasi pemerintah masih menawarkan yield yang cukup menarik dan likuiditasnya yang masih tinggi,” kata dia.
Sementara itu, data referensi kurs dari Bank Indonesia menunjukkan pergerakan yang sedikit berbeda.
Berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah justru tercatat menguat.
Pada perdagangan hari ini, JISDOR berada di level Rp16.886 per dolar AS.
Angka tersebut lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya yang tercatat sebesar Rp16.911 per dolar AS.
Perbedaan pergerakan antara pasar spot dan JISDOR menunjukkan bahwa volatilitas rupiah masih cukup tinggi di tengah dinamika global yang berkembang cepat.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










