BENCANA EKOLOGI BATANGTORU: Ketika Emas Dinikmati Korporasi, Bencana Ditanggung Rakyat

-
Sorotan Tajam: Banjir Batangtoru Bukan Lagi Bencana Alam Biasa, Melainkan Tragedi Ekologis.
AKURAT BANTEN-Bencana banjir yang melanda Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel), telah berulang kali terjadi, namun dampaknya kian dahsyat.
Ini bukan sekadar air meluap, melainkan sebuah tragedi ekologis di mana masyarakat lokal harus menanggung akibat dari eksploitasi kekayaan alam di hulu.
Di tengah hutan, jauh dari permukiman, beroperasi raksasa penambangan emas, PT Agincourt Resources (AAR ), pengelola Tambang Emas Martabe.
Mereka sibuk meraup emas dari perut bumi, sementara di hilir, masyarakat Batangtoru dipaksa menghadapi luapan air bercampur lumpur, kehilangan harta, dan dihantui trauma.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Ancam 'Bekukan' Bea Cukai Jika Gagal Reformasi: Batas Waktu 1 Tahun!
Di Balik Tambang Emas: Siapa yang Untung, Siapa yang Buntung?
Kepemilikan PT Agincourt Resources perlu dicermati, sebab di sinilah letak jantung dari pertanggungjawaban korporasi:
Pemilik Mayoritas (95%): Grup Astra Internasional.
PT Danusa Tambang Nusantara, anak perusahaan dari PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT United Tractors Tbk, yang merupakan bagian integral dari Grup Astra Internasional, menguasai nyaris seluruh saham (95%) PT AAR.
Saham Daerah (5%): Pemerintah Tapsel dan Sumut.
Sisa 5% saham dimiliki oleh PT Artha Nugraha Agung (ANA), sebuah BUMD yang di dalamnya terdapat saham Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (70%) dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (30%).
Artinya, sebagian besar keuntungan dari emas Batangtoru mengalir ke korporasi raksasa. Sementara itu, 100% dampak buruk ekologis dan sosial (banjir, longsor, kerusakan lingkungan) harus ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah daerah yang hanya memiliki saham minoritas.
Baca Juga: SKANDAL AUDIT INTERNAL PBNU: Dugaan TPPU Rp100 Miliar dan Jejak Uang Panas di Tahun Politik!
Batangtoru Cermin Bencana Tapanuli
Bencana di Batangtoru, Tapsel, memiliki resonansi yang sama dahsyatnya dengan tragedi yang belum lama ini melanda kawasan Tapanuli.
Tapanuli Tengah dan Sibolga juga dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan kerugian besar: korban jiwa, hilangnya harta benda, dan lumpuhnya fasilitas umum. Pola bencana yang terjadi serupa: kerusakan di hulu akibat deforestasi dan perubahan tata ruang lahan memicu bencana yang menghancurkan di hilir.
Suara Kritis WALHI: Lingkungan Hancur, Siapa Bertanggung Jawab?
Kerusakan lingkungan di kawasan Tapanuli, terutama di ekosistem Batangtoru yang dikenal sebagai habitat penting satwa endemik seperti Orangutan Tapanuli, sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.
Organisasi lingkungan hidup seperti WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) telah berulang kali menyoroti bahaya eksploitasi di kawasan hulu.
"Banyak lingkungan yang rusak dan hancur, bukan hanya karena faktor alam, tetapi karena aktivitas yang merusak daya dukung ekosistem. Deforestasi masif dan penambangan di kawasan sensitif adalah 'bom waktu' yang meledak menjadi bencana banjir bandang. Pemerintah dan korporasi harus bertanggung jawab penuh atas kerusakan ini," tegas salah satu pegiat lingkungan.
Pertanyaan Krusial: Evaluasi Total Tambang Emas Martabe
Tragedi Batangtoru menuntut sebuah pertanyaan mendasar: Apakah manfaat ekonomi dari penambangan emas sebanding dengan kerugian ekologis dan sosial yang ditanggung masyarakat lokal?
Mendesak dilakukan evaluasi total terhadap izin, operasional, dan dampak lingkungan dari PT Agincourt Resources di Batangtoru. Pemerintah daerah dan pusat harus memastikan bahwa keuntungan korporasi tidak berdiri di atas air mata dan penderitaan rakyat.
Sudah saatnya, raup untung korporasi emas tidak lagi berarti tanggung bencana bagi masyarakat Batangtoru (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tak Ada Izin Pemkot Tangerang, Pembangunan Lahan Parkir RS Royal Mandaya Sudah Berjalan
- 2Naik DAMRI dari Grand Metropolitan Bekasi ke Bandara Soekarno-Hatta Cuma Rp 100 Ribu, Ini Jadwalnya
- 3Pemkot Tangerang Minta Satpol PP Segel Proyek RS Mandaya, Ini Sebabnya
- 4Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Bikin Heboh Istana! Cuma Ada Satu di Dunia, Tas Eksklusif Chanel Métiers d'Art yang Dijinjing Iriana Jokowi
- 7Kemenkes Perkuat Deteksi Penyakit Menular di Pintu Masuk Bandara Soekarno-Hatta
- 8Anak Cleaning Service Jadi Pembawa Baki di Istana, Kisah Celine Olivia Bikin Bangga Kalbar
- 9Mourinho Beri Peringatan Keras kepada Mbappe, Vinicius, dan Bellingham: Tak Ada Bintang yang Kebal Aturan!
- 10Arsenal Sudah Juara Premier League, tapi Ambisinya Malah Makin Gila: The Gunners Siap Naik ke Level Berikutnya!










