Banten

Warga Parung Jaya Kota Tangerang Desak Pengembang Metland Puri Kelola Mitigasi Banjir

David Amanda | 31 Maret 2026, 16:08 WIB
Warga Parung Jaya Kota Tangerang Desak Pengembang Metland Puri Kelola Mitigasi Banjir
Warga Parung Jaya Kota Tangerang Desak Pengembang Metland Puri Kelola Mitigasi Banjir

AKURAT BANTEN - Polemik banjir yang melanda permukiman warga dalam satu Rukun Warga (RW) di Kampung Parung Kored, Kelurahan Parung Jaya, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang disebut bukan lagi bersifat musiman.

Sedikitnya 2.100 kepala keluarga (KK) di tiga RT terdampak, dengan ketinggian air sempat mencapai 1,5 meter dalam beberapa kejadian terakhir.

Hal tersebut terungkap usai warga dan pengembang melangsungkan musyawarah terbuka di Kantor Kelurahan Parung Jaya.

Baca Juga: Warga Bantah Pernyataan Metland Cyber Puri Kota Tangerang, Sebut Pengembang Tidak Kuasai Medan Lapangan

Musyawarah tersebut juga dihadiri oleh unsur TNI, Polri, Pihak Desa dan Polisi Pamong Praja Kecamatan Karang Tengah.

Perwakilan warga, Damanhuri, mengatakan kondisi banjir sebenarnya sudah terjadi sejak 2009, namun dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang signifikan.

"Banjir ini sudah ada sejak 2009, tapi dua tahun terakhir semakin parah. Sekarang bukan lagi tahunan, tapi hampir setiap hari hujan sedikit aja bisa banjir, tidak hujan pun banjir (kiriman)," ujarnya.

Baca Juga: HARAM! Bagi Roy Suryo: Jokowi Buka Pintu Maaf Lebar untuk Pusaran Kasus Ijazah

Damanhuri menegaskan, warga saat ini hanya menuntut solusi konkret dari pihak terkait, terutama pengembang yang diduga menjadi salah satu penyebab terganggunya sistem drainase.

"Harapan kami jelas, ada solusi drainase, pompa air, dan penanggulangan banjir akibat pembangunan. Itu yang kami butuhkan," katanya.

Menurut Damanhuri, buruknya aliran drainase serta tidak adanya penanganan serius dari pengembang membuat banjir terus berulang di wilayah tersebut.

Baca Juga: Metland Puri Akui Banjir Parung Jaya, Soroti Sampah Warga dan Dugaan Kiriman Air Dari Proyek Lain

Ia juga menyinggung minimnya komunikasi dari pihak pengembang dengan warga sebelum aktivitas pembangunan dilakukan.

"Drainase tidak lancar, dan pengembang tidak pernah serius berdiskusi mencari solusi. Baru setelah masalah ini mencuat, pembahasan itu ada," tegasnya.

Selain itu, aktivitas pengurukan lahan di RS Mandaya membuat warga khawatir akan memperparah kondisi banjir di pemukiman karena mengubah kontur tanah.

Baca Juga: Serangan Israel di Markas UNIFIL Tewaskan Prajurit Indonesia, MUI Tuntut Pertanggungjawaban

Selain itu dia menyebut pengurukan yang dilakukan RS Mandaya dilakukan tanpa adanya sosialisasi kepada warga.

"Permukaan tanah diuruk tanpa sosialisasi, dampaknya jelas, air tidak bisa mengalir. Ini yang jadi masalah bagi kami," tambahnya.

Damanhuri juga mengaku, meski persoalan ini telah disampaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) hingga tingkat kecamatan, warga menilai belum ada langkah nyata yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

Baca Juga: Kasus Pembunuhan Ayam Geprek di Bekasi, Polisi Temukan Bagian Tubuh Korban yang Dimutilasi di Bogor

"Data sudah kami sampaikan ke camat dan dewan lewat Musrenbang, tapi sampai sekarang belum ada progres nyata," tegas Damanhuri. Selasa (31/3/26) usai menggelar musyawarah di Kantor Kelurahan Parung Jaya.

Sementara itu, perwakilan Rumah Sakit Mandaya, Fery selaku Proyek Manager, menyatakan pihaknya berada pada posisi yang juga terdampak dan bukan sebagai pengembang kawasan.

"Kami ini hanya pembeli lahan dari Metland untuk lahan parkir, bukan pengembang. Tapi setiap banjir justru kami yang dikomplain, padahal tanah kami gak sampai sana," ujarnya.

Baca Juga: Curi Uang Sedekah dan Modal Dagang, Maling Ini Tinggalkan Surat di Rumah Korban: Maaf, Semoga Banyak Rezeki

Ia menilai tanggung jawab utama penanganan banjir seharusnya berada di pihak pengembang, termasuk Metland dan kawasan Puri 11.

"Seharusnya Metland yang memberikan solusi kepada warga dan kami. Tapi justru dibalik ke kami, itu yang membuat kami bingung," katanya.

Meski demikian, pihaknya mengaku tetap akan berupaya membantu secara terbatas, seperti pembersihan saluran air dan pelebaran drainase.

Baca Juga: Punya NPWP di Akhir Tahun, Penghasilan Masih Rendah: Ini Penjelasan Soal Kewajiban Lapor SPT

"Kami tetap akan membantu sebisa kami, seperti pembersihan dan pelebaran drainase, serta usulan pompa air," ungkap Feri.

Ia juga mengungkapkan temuan penyumbatan drainase yang memperburuk kondisi banjir, termasuk adanya sampah di dalam saluran.

"Masalah utama yang kami lihat adalah drainase yang tersumbat, bahkan ditemukan sampah seperti galon di dalam saluran," ujarnya.

Lebih lanjut kata Feri menegaskan, kontribusi pihaknya hanya bersifat sementara dan tidak dapat menggantikan peran pengembang dalam menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Baca Juga: Sampah Menggunung Tutup Jalan Industri VIII Kota Tangerang, Akses Lumpuh dan Bau Menyengat

"Kami hanya bisa bantu sebagian, tapi solusi besar tetap harus datang dari pihak pengembang, termasuk Metland dan Puri 11," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Akurat.co Banten masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak Metland dan pengelola Puri 11 untuk memberikan keterangan terkait permasalahan tersebut.

Warga Parung Jaya, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, menggelar aksi protes terhadap rencana pengurukan lahan resapan milik RS Mandaya. Aksi tersebut dipicu oleh persoalan banjir yang kerap melanda permukiman warga akibat buruknya sistem drainase di wilayah tersebut. Senin (30/3/26).

Kedatangan warga ke lingkungan RS Mandaya untuk meminta proyek pengurukan dihentikan sebelum ada perbaikan saluran air yang melintas ke area tersebut, sebab saat ini drainase dinilai tidak memadai.

Baca Juga: Timur Tengah Makin Panas! Dunia Sudah Diambang Kiamat? Ini Daftar Negara dan Milisi Raksasa yang Siap Pasang Badan, Bantu Iran Gempur AS-Israel!

Oleh karena itu, mereka khawatir, jika area resapan diurug rata justru akan memperparah kondisi banjir yang selama ini sudah terjadi berulang kali.

"Jangan saling lempar tanggung jawab soal drainase. Kami yang jadi korban setiap hujan. Kalau Mandaya mau bangun danau itu, bereskan dulu saluran airnya, jangan sampai proyek jalan tapi warga terus kebanjiran," ujar AA salah satu warga kepada Akurat.co Banten.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.