Banten

Perang Berbalik Arah? Ukraina Mulai Rebut Wilayah Rusia Berkat Serangan Drone Mematikan

Viona Sebastian Nolani | 13 Juni 2026, 20:33 WIB
Perang Berbalik Arah? Ukraina Mulai Rebut Wilayah Rusia Berkat Serangan Drone Mematikan
Putin pada 1 Juni 2026. (Dok. Creative Commons)

AKURAT BANTEN - Perang Rusia-Ukraina yang telah memasuki tahun kelima menunjukkan perubahan dinamika yang cukup signifikan.

Untuk pertama kalinya sejak serangan balasan pada 2023, Ukraina berhasil merebut kembali sebagian wilayah yang sebelumnya dikuasai Rusia.

Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa momentum pertempuran mulai bergeser ke pihak Kyiv, sementara Moskow menghadapi tekanan yang semakin besar, baik di medan perang maupun di dalam negeri.

Salah satu faktor utama di balik keberhasilan Ukraina adalah peningkatan kemampuan operasi drone jarak jauh.

Baca Juga: Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang

Serangan-serangan ini menyasar target yang berada sekitar 30 hingga 100 kilometer di belakang garis depan.

Akibatnya, Rusia terpaksa memindahkan berbagai fasilitas penting, mulai dari pasokan bahan bakar, amunisi, makanan, hingga sistem persenjataan dan pertahanan udara, lebih jauh dari area pertempuran.

Meski Ukraina masih kalah dalam kapasitas produksi industri perang dan jumlah rekrutan baru dibandingkan Rusia, strategi penggunaan drone terbukti mampu memberikan tekanan besar terhadap pasukan Moskow.

Keunggulan tersebut dinilai menjadi salah satu alasan utama di balik kemajuan terbaru Ukraina di medan tempur.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia, Shell Prediksi Pemulihan Butuh Setahun

Dalam satu tahun terakhir, drone Ukraina disebut berkontribusi terhadap lebih dari 80 persen korban jiwa yang dialami Rusia.

Efektivitas ini tidak lepas dari kemampuan Ukraina menyerang target-target bernilai tinggi, termasuk sistem radar dan infrastruktur peperangan elektronik Rusia.

Serangan tersebut berhasil mengganggu kemampuan pertahanan Rusia terhadap ancaman drone sekaligus menurunkan efektivitas operasional militernya.

Tidak hanya beroperasi di wilayah Ukraina, kampanye drone Kyiv juga semakin sering menjangkau wilayah Rusia.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Ungkap Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2027 Capai 6,5 Persen

Selama lebih dari satu bulan terakhir, sejumlah fasilitas minyak dan gas Rusia menjadi sasaran serangan drone bermuatan bahan peledak yang menyebabkan kerusakan pada infrastruktur energi strategis negara tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melalui akun X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, menyatakan bahwa pasukan negaranya "terus menerapkan sanksi jarak jauh Ukraina terhadap fasilitas militer Rusia dan industri minyak.Secara khusus, tadi malam pesawat FP-5 Flamingo Ukraina menyerang pabrik militer di Cheboksary yang memasok komponen untuk drone dan rudal kepada tentara pendudukan."

Selain mengandalkan drone, Ukraina juga mulai memanfaatkan rudal jelajah yang diluncurkan dari darat.

Meski informasi mengenai sistem senjata ini masih terbatas, rudal tersebut diyakini memiliki jangkauan sekitar 3.000 kilometer atau 1.900 mil.

Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan Narkoba dari Malaysia di Karimun, Sita 1 Kg Sabu dan 582 Ekstasi

Setiap rudal membawa hulu ledak dengan bobot lebih dari 2.000 pon, menjadikannya jauh lebih destruktif dibandingkan drone berukuran kecil yang sebelumnya digunakan untuk menyerang target di Rusia.

Inovasi Ukraina juga terlihat pada penggunaan kendaraan darat tanpa awak.

Sistem ini kini menjalankan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan personel militer, termasuk logistik dan evakuasi medis.

Dalam beberapa operasi, kendaraan tersebut bahkan turut membantu merebut kembali wilayah yang dikuasai Rusia tanpa mempertaruhkan nyawa prajurit Ukraina.

Baca Juga: Illegal Fishing Masih Marak, DPR Dorong Kapal Modern di Natuna dan Laut Arafura

Perkembangan ini dianggap sebagai salah satu transformasi paling menarik dalam peperangan modern.

Sebagian besar operasi drone Ukraina memang difokuskan di belakang garis depan wilayah timur.

Namun, sejumlah target penting di wilayah lain juga menjadi sasaran. Krimea, yang dianeksasi Rusia pada 2014, terus menghadapi tekanan akibat serangan drone Ukraina yang menargetkan berbagai infrastruktur penting serta jalur logistik utama menuju semenanjung tersebut.

Salah satu target utama adalah jalan raya R-280 yang menghubungkan Rostov-on-Don di Rusia dengan Krimea melalui Mariupol dan Melitopol.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan! 90 Persen Lalu Lintas Internet RI Masih Lewat Singapura

Bersama Jembatan Kerch, jalur ini menjadi koridor logistik utama bagi pasokan Rusia menuju Krimea.

Berkat serangan yang menyasar kendaraan tanker dan rantai pasokan, volume lalu lintas di rute tersebut dilaporkan turun lebih dari 70 persen.

Sementara itu, GCHQ, badan intelijen terkemuka Inggris, baru-baru ini merilis perkiraan mengenai korban jiwa Rusia dalam perang di Ukraina.

Hasilnya cukup mencolok, dengan sekitar 500.000 tentara Rusia diperkirakan tewas, sebagian besar akibat serangan drone FPV yang semakin dominan di medan perang.

Baca Juga: Operasi Beladau Sakti-26 Berjalan, KRI John Lie-358 Awasi Ketat Laut Natuna Utara

Sejumlah sumber juga menyebutkan total korban tewas dan luka-luka dari kedua belah pihak kini telah melampaui satu juta orang dan jumlah tersebut terus bertambah seiring berlanjutnya konflik.

Di sisi lain, Rusia masih mampu merekrut puluhan ribu personel baru setiap bulan melalui berbagai insentif, mulai dari bonus pendaftaran dalam jumlah besar, gaji tinggi, hingga program penghapusan utang yang disahkan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Namun, jumlah keseluruhan personel Angkatan Darat Rusia dinilai relatif tidak banyak berubah, yang menunjukkan tingginya tingkat kehilangan pasukan serta efektivitas strategi Ukraina.

Kemajuan teknologi drone dan sistem tanpa awak yang terus berkembang telah memberikan keunggulan baru bagi Kyiv.

Baca Juga: Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah

Dengan inovasi yang lebih cepat dibandingkan kemampuan Rusia mengembangkan langkah antisipasi, Ukraina untuk sementara mampu mempertahankan keunggulan teknologi di medan perang.

Meski keberhasilan tersebut telah menghasilkan keuntungan teritorial yang nyata, pencapaian itu kemungkinan belum cukup untuk mengubah jalannya perang secara keseluruhan.

Namun setidaknya, strategi ini memberikan posisi yang lebih menguntungkan bagi Ukraina sekaligus membuat biaya perang yang harus ditanggung Rusia semakin besar.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.