Banten

Krisis Selat Hormuz Bisa Ubah Ekonomi Global Selamanya, Dunia Mulai Tinggalkan Minyak Teluk

Viona Sebastian Nolani | 13 Juni 2026, 21:26 WIB
Krisis Selat Hormuz Bisa Ubah Ekonomi Global Selamanya, Dunia Mulai Tinggalkan Minyak Teluk
Ilustrasi kapal tanker melintasi Selat Hormuz di tengah konflik kawasan yang mengganggu jalur distribusi minyak dunia. (iStock)

AKURAT BANTEN - Krisis yang melanda Selat Hormuz selama lebih dari tiga bulan berpotensi menjadi momen penting yang mengubah arah ekonomi dan industri energi global.

Gangguan berkepanjangan di salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia itu menunjukkan betapa rentannya perekonomian internasional terhadap gangguan di satu titik strategis.

Meski terdapat harapan bahwa kesepakatan politik dapat segera tercapai dalam beberapa hari ke depan, persoalan mendasar belum terselesaikan.

Krisis serupa bisa kembali terjadi sewaktu-waktu, sehingga negara-negara di seluruh dunia kini mulai mempertimbangkan langkah-langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi mereka.

Baca Juga: Perang Berbalik Arah? Ukraina Mulai Rebut Wilayah Rusia Berkat Serangan Drone Mematikan

Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Ketika lalu lintas kapal tanker terganggu dan situasi keamanan memburuk, negara-negara di Asia dan Eropa mulai menyadari bahwa ketergantungan besar terhadap jalur tersebut membawa risiko yang sangat tinggi.

Sistem distribusi energi global yang selama ini bergantung pada satu titik rawan terbukti tidak cukup aman menghadapi krisis berkepanjangan.

Dampak gangguan tersebut langsung terasa pada negara-negara pengekspor minyak utama seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Baca Juga: Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang

Mereka terpaksa mengurangi produksi akibat hambatan distribusi dan ketidakpastian pasar.

Secara keseluruhan, hampir 10 juta barel minyak per hari atau sekitar 10 persen dari kebutuhan global terpaksa dipangkas sejak krisis berlangsung.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), pemulihan produksi tidak bisa dilakukan secara instan meskipun situasi keamanan kembali normal.

Dalam laporan yang dirilis pada Maret lalu, lembaga tersebut memperingatkan bahwa kerugian produksi akan tetap meningkat bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia, Shell Prediksi Pemulihan Butuh Setahun

“Penghentian produksi hulu akan memakan waktu berminggu-minggu dan, dalam beberapa kasus, berbulan-bulan untuk kembali ke tingkat sebelum krisis, tergantung pada tingkat kompleksitas lapangan dan waktu kembalinya pekerja, peralatan, dan sumber daya ke wilayah tersebut,” jelas lembaga tersebut.

Memasuki Juni, kondisi tersebut justru semakin memburuk.

Sekalipun kesepakatan damai tercapai dalam waktu dekat, proses mengembalikan produksi ke tingkat sebelum perang diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Berdasarkan rata-rata proyeksi sejumlah lembaga yang dihimpun Reuters, negara-negara produsen di kawasan Teluk kemungkinan hanya mampu memulihkan sekitar 70 persen produksi yang hilang dalam tiga bulan pertama.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Ungkap Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2027 Capai 6,5 Persen

Artinya, meskipun perbaikan mulai dilakukan, dampak ekonomi yang ditimbulkan sudah terlanjur meluas.

Kawasan Asia menjadi wilayah yang paling merasakan tekanan akibat krisis ini. Sekitar 89 persen minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz selama ini dikirim ke pasar Asia.

Karena itu, gangguan pasokan langsung memengaruhi sejumlah negara dengan tingkat konsumsi energi yang sangat besar.

China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi negara yang paling terdampak karena ketergantungan mereka terhadap minyak dari kawasan Teluk.

Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan Narkoba dari Malaysia di Karimun, Sita 1 Kg Sabu dan 582 Ekstasi

Kondisi tersebut memicu tekanan ekonomi yang signifikan di masing-masing negara.

Bank Pembangunan Asia (ADB) bahkan memperingatkan bahwa kawasan tersebut kini menghadapi "skenario terburuk".

Pada April lalu, ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2026 menjadi 4,7 persen dan menaikkan perkiraan inflasi menjadi 5,2 persen.

Selain itu, sebanyak 15 negara di Asia telah mengajukan bantuan darurat dengan total nilai mencapai 4 miliar dolar AS untuk mengatasi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok.

Baca Juga: Illegal Fishing Masih Marak, DPR Dorong Kapal Modern di Natuna dan Laut Arafura

Sementara itu, Eropa menghadapi tantangan yang berbeda.

Ketergantungan kawasan tersebut terhadap minyak mentah Teluk memang relatif lebih kecil dibandingkan Asia.

Namun, Eropa sangat bergantung pada pasokan gas alam cair atau LNG, sehingga tetap terkena dampak gejolak pasar energi global.

Bank Dunia memperkirakan harga gas acuan di Eropa dapat meningkat hingga 25 persen sepanjang tahun ini karena negara-negara Eropa harus bersaing dengan pembeli Asia untuk mendapatkan pasokan alternatif.

Badan Energi Internasional juga mencatat bahwa harga gas alam TTF Belanda melonjak lebih dari 40 persen antara akhir Februari hingga Mei.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan! 90 Persen Lalu Lintas Internet RI Masih Lewat Singapura

Sesungguhnya, risiko ketergantungan terhadap Selat Hormuz telah lama diketahui.

Dunia menyadari bahwa gangguan di jalur tersebut dapat mengancam stabilitas energi global, sama seperti risiko pandemi yang telah diperingatkan jauh sebelum tahun 2020.

Bedanya, kini dunia telah mengalami langsung dampaknya sehingga dorongan untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis berikutnya menjadi jauh lebih besar.

Karena itu, respons pascakrisis kemungkinan tidak hanya berupa percepatan penggunaan energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya, meskipun keduanya tetap menjadi bagian penting dari solusi.

Negara-negara besar diperkirakan akan mengembangkan strategi yang lebih beragam untuk meningkatkan keamanan energi nasional mereka.

Baca Juga: Operasi Beladau Sakti-26 Berjalan, KRI John Lie-358 Awasi Ketat Laut Natuna Utara

China, misalnya, terus memperluas penggunaan kendaraan listrik guna menekan pertumbuhan konsumsi minyak.

India juga mempercepat pembangunan energi terbarukan sekaligus memperluas sumber impor energi dari luar kawasan Teluk.

Di sisi lain, Jepang dan Korea Selatan mulai meningkatkan perhatian terhadap energi nuklir sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

Langkah serupa juga dilakukan negara-negara Eropa dengan memperluas sumber pasokan LNG serta membangun terminal regasifikasi tambahan untuk memperkuat infrastruktur energi mereka.

Eropa bahkan mengambil kebijakan memperpanjang masa operasional sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir.

Salah satunya adalah reaktor Doel 4 dan Tihange 3 di Belgia yang disepakati pemerintah setempat untuk tetap beroperasi setidaknya hingga tahun 2035.

Pada akhirnya, krisis Selat Hormuz mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai gangguan pasokan energi sementara, melainkan sebagai peristiwa yang mendorong negara-negara di seluruh dunia untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur pelayaran yang selama ini menjadi titik rawan bagi stabilitas ekonomi global.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.