Trump Kritik Iran Persulit Jalur Minyak di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Gagal?

AKURAT BANTEN - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik tajam terhadap Iran terkait implementasi gencatan senjata yang baru saja disepakati.
Ia menilai Teheran belum menunjukkan komitmen penuh, terutama dalam hal akses pelayaran di Selat Hormuz yang krusial bagi perdagangan minyak dunia.
Melalui sejumlah unggahan di platform Truth Social pada Kamis (9/4/2026), Trump menuding Iran tidak maksimal dalam membuka jalur tersebut. Ia bahkan menyebut tindakan Iran sebagai sesuatu yang “tidak terhormat”.
Baca Juga: DPRD Dorong Pengambilan Paksa PSU, Aset 1.078 Hektare di Kota Tangerang Terancam Hilang
“Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz,” tulis Trump.
Ketegangan meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran berencana mengenakan biaya atau tarif bagi kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Trump menegaskan bahwa langkah tersebut tidak seharusnya dilakukan.
“Ada laporan Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker. Jika benar, mereka harus segera menghentikannya,” tegasnya.
Baca Juga: Prancis Kirim 39 Kendaraan Lapis Baja ke Lebanon, Konflik Kawasan Kian Memanas
Sejak gencatan senjata diberlakukan sehari sebelumnya, hanya sekitar 10 kapal yang dilaporkan berhasil melintasi jalur strategis tersebut. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan stabilitas distribusi energi global.
Meski tensi meningkat, jalur diplomasi tetap diupayakan. Wakil Presiden AS, JD Vance, dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan pihak Iran di Pakistan. Ia akan didampingi oleh utusan khusus, Steve Witkoff, serta Jared Kushner.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa pemerintah AS masih berharap proses ini dapat menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
“Presiden optimistis kesepakatan yang mengarah pada perdamaian abadi di Timur Tengah bisa tercapai,” ujarnya.
Di tengah upaya diplomasi, kondisi di kawasan Timur Tengah masih belum stabil.
Seperti yang ramai diberitakan sebelumnya, kurang dari dua hari sejak gencatan senjata berlaku, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon yang menewaskan ratusan orang.
Trump mengaku telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menyatakan bahwa Netanyahu sepakat untuk menahan diri setelah serangan tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa perwakilan Israel dan Lebanon akan melanjutkan dialog di Washington pekan depan.
Pertemuan ini bertujuan memperkuat gencatan senjata yang saat ini masih dalam kondisi rapuh.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










