Banten

Biaya Lewat Selat Hormuz Tembus Rp34 M, Ketegangan Bikin Ongkos Gila-Gilaan

Aullia Rachma Puteri | 11 April 2026, 10:49 WIB
Biaya Lewat Selat Hormuz Tembus Rp34 M, Ketegangan Bikin Ongkos Gila-Gilaan
PULUHAN MILYAR UNTUK MELINTAS SELAT HORMUZ

AKURAT BANTEN - Biaya pelayaran di Selat Hormuz mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dalam kondisi terkini, satu kapal dilaporkan harus mengeluarkan biaya hingga sekitar Rp34 miliar hanya untuk satu kali melintas di jalur tersebut.

Kenaikan biaya ini tidak terlepas dari situasi keamanan yang semakin tidak menentu.

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta peran Amerika Serikat membuat risiko pelayaran meningkat tajam.

Baca Juga: Selat Hormuz Belum Bisa Dibuka! Iran Bingung Cari Ranjau yang Hilang

Sebagai salah satu jalur paling penting di dunia, Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam distribusi energi global.

Sebagian besar pengiriman minyak mentah dan gas alam cair melintasi wilayah ini, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasar internasional.

Lonjakan biaya tersebut sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya premi asuransi.

Perusahaan pelayaran kini harus membayar lebih mahal untuk melindungi kapal mereka dari berbagai ancaman, seperti potensi serangan militer maupun bahaya ranjau laut yang masih mengintai di perairan tersebut.

Baca Juga: Trump Kritik Iran Persulit Jalur Minyak di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Gagal?

Selain faktor asuransi, biaya tambahan juga muncul dari kebutuhan pengamanan ekstra.

Banyak operator kapal memilih untuk menambah sistem perlindungan atau bahkan menggunakan pengawalan khusus saat melintasi wilayah berisiko tinggi ini.

Tak sedikit pula kapal yang memutuskan untuk menunda perjalanan atau mencari jalur alternatif.

Namun, pilihan tersebut juga memiliki konsekuensi, seperti waktu tempuh yang lebih lama dan biaya operasional yang meningkat.

Baca Juga: Tak Main-main! Ini 10 Syarat Mustahil Iran Sebelum Buka Kembali Selat Hormuz

Dampak dari kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh industri pelayaran, tetapi juga sektor energi global.

Kenaikan biaya transportasi berpotensi mendorong harga minyak dunia naik, yang pada akhirnya mempengaruhi berbagai sektor ekonomi di banyak negara.

Negara-negara yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah menjadi pihak yang paling terdampak.

Mereka harus menghadapi kemungkinan peningkatan harga serta ketidakpastian pasokan akibat gangguan di jalur distribusi utama.

Baca Juga: Setuju Gencatan Senjata, Iran Siap Buka Kembali Selat Hormuz dengan Syarat, Apa Itu?

Para analis menilai bahwa situasi ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap kondisi geopolitik.

Ketidakstabilan di satu titik strategis seperti Selat Hormuz dapat memicu efek berantai yang meluas ke berbagai sektor.

Sementara itu, perusahaan pelayaran terus beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Mereka harus mempertimbangkan berbagai faktor risiko sekaligus menjaga efisiensi operasional di tengah biaya yang terus meningkat.

Baca Juga: Iran dan Oman Terapkan Tarif Selat Hormuz hingga Rp34 Miliar per Kapal, Dunia Waspada Dampaknya

Pemerintah di berbagai negara juga mulai meningkatkan perhatian terhadap perkembangan ini.

Stabilitas pasokan energi menjadi prioritas utama, mengingat dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Dengan biaya yang kini mencapai puluhan miliar rupiah per perjalanan, Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling mahal sekaligus berisiko di dunia.

Kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung selama ketegangan di kawasan belum mereda.

Baca Juga: Dunia Terbelalak! Ukraina Tawarkan Jasa 'Buka Blokir' Selat Hormuz, Putin & Teheran Terancam?

Ke depan, upaya diplomasi dan stabilisasi kawasan menjadi kunci untuk menekan biaya serta mengembalikan kelancaran distribusi energi global.

Dunia berharap situasi dapat segera membaik agar aktivitas pelayaran kembali normal dan lebih aman.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.