Banten

Tragedi Sepatu Sempit di Samarinda, Penyesalan Ibu Pecah Usai Putranya Pergi dalam Keterbatasan

Riski Endah Setyawati | 5 Mei 2026, 18:32 WIB
Tragedi Sepatu Sempit di Samarinda, Penyesalan Ibu Pecah Usai Putranya Pergi dalam Keterbatasan
Ilustrasi Meninggal Dunia (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Di rumah kontrakan sederhana di kawasan Jalan Tramidi RT 13, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Samarinda, Ratnasari menahan tangis saat mengenang sosok putranya, Mandala Risky Syaputra.

Dengan suara pelan dan sesekali terhenti karena emosi, perempuan itu membagikan cerita tentang perjuangan hidup yang selama ini dijalani bersama anak keduanya tersebut.

Mandala, remaja 16 tahun yang dikenal pendiam dan penuh pengertian, tumbuh di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.

Baca Juga: Gencatan Senjata Hanya Formalitas? Serangan Drone Iran ke Jantung Industri UEA Picu Amarah Negara-Negara Arab

Sebagai siswa SMK Negeri 4 Samarinda, ia menjalani kesehariannya tanpa banyak tuntutan.

Ratnasari mengungkapkan, putranya hampir tak pernah meminta sesuatu yang memberatkan.

Bahkan ketika dirinya berniat membelikan kebutuhan pribadi seperti sepatu atau pakaian, Mandala justru lebih memilih mengalah demi kondisi rumah tangga mereka.

Baca Juga: Jokowi Digugat Perdata di PN Solo, Soroti Ijazah dan Ketidakhadiran Sidang

“Tidak usah, Ma. Lebih baik untuk kebutuhan di rumah saja,” ujar Ratnasari.

Kalimat sederhana itu kini menjadi penyesalan mendalam bagi seorang ibu yang merasa belum mampu memberikan hal layak bahkan untuk kebutuhan dasar anaknya.

“Penyesalannya itu… keinginan anak saja tidak bisa kita wujudkan,” katanya.

Baca Juga: TRAGIS! Hanya karena Kaki Tak Sengaja Senggol Motor, Pria di Cengkareng Tewas Dibacok secara Brutal hingga Tewas

Setiap hari, Ratnasari berjuang mencari nafkah dengan berjualan jajanan tradisional keliling.

Sejak pagi buta usai salat subuh, ia mulai menyiapkan dagangan seperti risol, klepon, dan dadar gulung untuk dijajakan dari satu tempat ke tempat lain.

Penghasilan sekitar Rp65 ribu per hari harus cukup untuk menghidupi lima anaknya serta memenuhi kebutuhan dapur.

Baca Juga: Gencatan Senjata Hanya Formalitas? Serangan Drone Iran ke Jantung Industri UEA Picu Amarah Negara-Negara Arab

Dalam kondisi seperti itu, Mandala tumbuh menjadi pribadi yang memahami kerasnya perjuangan sang ibu.

Ia tak pernah menuntut uang jajan berlebih, berjalan kaki ke sekolah setiap hari, dan berusaha menjalani hidup dengan sederhana.

Jarak sekitar 10 menit menuju sekolah ditempuhnya tanpa keluhan.

Mandala juga dikenal memiliki rasa empati tinggi.

Baca Juga: Gencatan Senjata Hanya Formalitas? Serangan Drone Iran ke Jantung Industri UEA Picu Amarah Negara-Negara Arab

Saat keluarga mereka harus pindah rumah, ia justru memikirkan agar lokasi baru lebih dekat ke sekolah demi tidak merepotkan temannya yang sering memberinya tumpangan.

“Dia mikir juga bensin temannya, bolak-balik jemput dia,” tutur Ratnasari.

Meski dikenal tertutup soal penderitaan fisik, Mandala sempat mengeluhkan rasa pegal di kakinya usai menjalani magang.

Baca Juga: Jokowi Digugat Perdata di PN Solo, Soroti Ijazah dan Ketidakhadiran Sidang

Namun keluhan itu hanya disampaikan singkat.

“Cuma bilang pegal saja,” kenang ibunya.

Kini setelah kepergian sang putra, Ratnasari harus berusaha bangkit di tengah luka mendalam.

Ia sempat tetap berjualan demi kebutuhan tahlilan, meski akhirnya memilih berhenti sementara untuk menenangkan diri.

Baca Juga: Amerika Serikat Klaim Tenggelamkan 6 Kapal Iran dan Gagalkan Serangan Rudal

Anak sulungnya kini turut membantu perekonomian keluarga dan meminta ibunya beristirahat.

“Tidak usah kerja dulu, tunggu saya gajian,” kata anaknya.

Meski demikian, Ratnasari menyadari bahwa bekerja adalah satu-satunya cara untuk terus bertahan hidup dan menjaga anak-anaknya yang lain.

Di tengah tekanan hidup dan komentar sosial yang kadang menyakitkan, ia mencoba menerima semuanya dengan lapang dada.

Baca Juga: Gencatan Senjata Hanya Formalitas? Serangan Drone Iran ke Jantung Industri UEA Picu Amarah Negara-Negara Arab

“Ikhlas… sudah kehendak Tuhan,” ucapnya lirih.

Namun di balik keikhlasan itu, tersimpan duka mendalam seorang ibu yang harus hidup dengan kehilangan besar.

Ratnasari kini hanya berusaha melanjutkan hidup, menjaga keluarganya, serta menguatkan hati setiap hari.

Sebab bagi dirinya, meski rasa kehilangan tak akan pernah tergantikan, hidup harus tetap berjalan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.