Banten

Siswa SMK Samarinda Meninggal Setelah Menahan Sakit karena Sepatu Sempit

Riski Endah Setyawati | 6 Mei 2026, 07:23 WIB
Siswa SMK Samarinda Meninggal Setelah Menahan Sakit karena Sepatu Sempit
Ilustrasi Meninggal (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Di sudut rumah kontrakan sederhana itu, sepasang sepatu hitam usang masih tergeletak tanpa tersentuh.

Sepatu itulah yang selama ini setia menemani langkah Mandala Rizky Syaputra, pelajar 16 tahun asal Samarinda, Kalimantan Timur, menjalani hari-harinya menuju sekolah sekaligus tempat praktik kerja lapangan.

Namun siapa sangka, alas kaki yang terus dipakainya meski sudah tak lagi sesuai ukuran justru menjadi bagian dari kisah pilu yang mengakhiri hidupnya.

Baca Juga: Ponpes Ndholo Kusumo Mendadak Kosong Usai Pengasuh Jadi Tersangka, Santri Dipulangkan Massal

Mandala meninggal dunia pada Jumat dini hari, 24 April 2026, setelah menahan rasa sakit luar biasa akibat pembengkakan pada kakinya yang semakin parah dari waktu ke waktu.

Kepergian siswa kelas 2 SMK tersebut meninggalkan luka mendalam bagi sang ibu, Ratnasari, yang hingga kini masih larut dalam kesedihan.

Ratnasari mengenang putranya sebagai sosok pekerja keras yang selalu berusaha tegar dan tidak ingin menambah beban keluarga.

Baca Juga: Dudung Bongkar Celah Korupsi Program Makan Bergizi Gratis, Praktik Jual Beli Titik Dapur Jadi Sorotan

Sejak sang ayah meninggal dunia, kehidupan Mandala bersama ibu, kakak, dan tiga adiknya dijalani dalam keterbatasan ekonomi.

Ratnasari sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan risoles demi memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

Dalam kondisi serba sederhana, Mandala tumbuh menjadi anak yang memahami situasi rumah tangga mereka.

Baca Juga: Ponpes Ndholo Kusumo Mendadak Kosong Usai Pengasuh Jadi Tersangka, Santri Dipulangkan Massal

Awalnya, Mandala hanya mengeluhkan rasa pegal di bagian kaki.

Namun keluhan tersebut perlahan berubah menjadi nyeri hebat disertai pembengkakan yang terus membesar dalam kurun sekitar tiga minggu.

Meski rasa sakit kian menyiksa, Mandala tetap menjalani rutinitas sekolah dan magang.

Baca Juga: Ade Armando Tinggalkan PSI Usai Diterpa Polemik Laporan 40 Ormas, Pilih Mundur Demi Selamatkan Partai

Aktivitas praktik kerja lapangan di pusat perbelanjaan menuntutnya berdiri selama berjam-jam setiap hari.

Kondisi itu membuat rasa sakit semakin menjadi-jadi.

“Kesusahan apa pun tidak dilihatkan, tetap tersenyum. Buat apa bawa ke rumah sakit, kaki Mandala cuma pegal-pegal saja,” ujar Ratnasari.

Baca Juga: PANAS! 'Saya Enggak Mau Makan Uangmu!' Roy Suryo Mengamuk, Lempar Amplop Uang di Depan Kamera!

Ia mengatakan putranya selalu berusaha terlihat kuat meski sebenarnya sedang menahan penderitaan.

Mandala diketahui telah menggunakan sepatu ukuran 43 sejak duduk di kelas 1 SMK.

Namun seiring pertumbuhan, ukuran kakinya bertambah menjadi 45 saat naik ke kelas 2.

Baca Juga: Ponpes Ndholo Kusumo Mendadak Kosong Usai Pengasuh Jadi Tersangka, Santri Dipulangkan Massal

Sayangnya, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus tetap mengenakan sepatu lama yang sudah sempit.

Untuk mengurangi sesak, bagian dalam sepatu bahkan dimodifikasi menggunakan busa.

Malam sebelum ajal menjemput, Mandala sempat mengungkapkan keinginan sederhana yang kini begitu menyayat hati.

Baca Juga: Ponpes Ndholo Kusumo Mendadak Kosong Usai Pengasuh Jadi Tersangka, Santri Dipulangkan Massal

Ia ingin memiliki sepatu baru.

Namun permintaan itu belum bisa diwujudkan sang ibu karena keterbatasan biaya.

“Siapa orang tua yang tidak ingin keinginan anak terakhir itu dipenuhi,” kata Ratnasari.

Meski demikian, Mandala tetap menunjukkan pengertiannya.

Baca Juga: PANAS! 'Saya Enggak Mau Makan Uangmu!' Roy Suryo Mengamuk, Lempar Amplop Uang di Depan Kamera!

“Mak, InsyaAllah ini masih muat sama Mandala. Kalau nanti Mandala selesai PKL, Mandala bisa beli sendiri,” ucapnya kala itu.

Kalimat tersebut kini menjadi kenangan terakhir yang terus terngiang di benak Ratnasari.

Sayangnya, harapan Mandala untuk membeli sepatu baru dengan hasil jerih payahnya sendiri tak pernah terwujud.

Baca Juga: Misteri Insiden Selat Hormuz: Siapa yang Berbohong Antara Washington dan Teheran?

Rasa sakit yang terus menjalar hingga ke pinggang dan kepala akhirnya merenggut nyawanya.

Kini, sepatu hitam sempit itu hanya tersisa sebagai saksi bisu perjuangan seorang remaja sederhana yang berusaha bertahan di tengah keterbatasan hidup.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.