Banten

Dinkes Yogyakarta Ungkap Fakta Kasus Hantavirus di Indonesia, Beri Penjelasan Ini

Viona Sebastian Nolani | 9 Mei 2026, 13:28 WIB
Dinkes Yogyakarta Ungkap Fakta Kasus Hantavirus di Indonesia, Beri Penjelasan Ini
Ilustrasi Hantavirus. (rs-jih.co.id)

AKURAT BANTEN - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan adanya 23 kasus positif Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi di Indonesia, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menanggapi laporan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan lebih menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menyebut pihaknya masih melakukan koordinasi terkait detail kasus terbaru yang diumumkan pemerintah pusat.

Baca Juga: Dulu Lawan Orba, Kini UGM Dituding Bonjowi Malah Lindungi Rezim Jokowi, Ada Apa?

“Belum tahu pasti, apakah itu yang tahun lalu, ataukah tahun ini ada lagi. Sementara belum ada laporan untuk yang tahun ini. Ini kami konsulkan ke Dinkes DIY juga belum ada jawaban pasti, masih dalam proses konfirmasi ke pusat atau Kemenkes,” ujar Lana saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).

Menurut Lana, Kota Yogyakarta sebelumnya pernah mencatat satu kasus positif Hantavirus pada 2025.

Namun hingga kini, belum ditemukan laporan tambahan kasus baru sepanjang 2026.

Baca Juga: Heboh Isu Dana 5 Miliar, Rismon Sianipar Dalam Bidikan Bareskrim? Ini Fakta Terbaru!

"Pernah ada kasus tahun lalu (2025) yaitu satu kasus positif, kalau yang tahun ini belum ada laporan,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa pengawasan penyakit yang ditularkan melalui tikus tersebut dilakukan lewat fasilitas kesehatan sentinel.

Di wilayah DIY, RSUP Dr. Sardjito menjadi rumah sakit rujukan utama untuk pemeriksaan laboratorium pasien dengan gejala yang mengarah ke Hantavirus maupun Leptospirosis.

Baca Juga: Hendak Lunasi Pinjaman, Nasabah Kupedes Kaget Ditagih Ratusan Juta Tanpa Pegang Perjanjian Kredit

“Untuk Hantavirus, selama ini faskes sentinel di DIY itu RS Sardjito. Jadi jika ada pasien dengan gejala atau indikasi mengarah ke Lepto atau Hantavirus yang periksa ke Sardjito, itu yang dites laboratoriumnya,” jelas Lana.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena penyakit tersebut masih dapat ditangani secara medis.

“Intinya tidak perlu panik ya. Masih bisa diobati secara intensif. Sama halnya seperti Leptospirosis karena dua-duanya dari tikus,” katanya.

Baca Juga: Anggota Komisi IV DPRD Kota Tangerang Minta Satpol PP Tutup Lapak Sampah Liar di Ciledug

Lana turut memastikan bahwa sampai saat ini belum ada program vaksinasi khusus untuk Hantavirus seperti saat penanganan COVID-19.

Karena itu, Dinkes mengingatkan masyarakat agar lebih fokus pada langkah pencegahan dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan supaya tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus.

“Intinya jaga kebersihan di rumah dan lingkungan,” pungkasnya.

Sebelumnya, media internasional The Guardian melaporkan bahwa kapal ekspedisi MV Hondius memulai pelayaran dari Ushuaia pada 1 April 2026 dengan membawa sekitar 150 penumpang dan kru menuju wilayah Atlantik Selatan hingga Tanjung Verde.

Baca Juga: Polisi Tahan Tersangka Penganiayaan Petugas Damkar di Pinang Kota Tangerang

Dalam perjalanan tersebut, kapal sempat singgah di beberapa kawasan satwa liar terpencil yang diduga menjadi sumber awal paparan virus, meski asal pasti wabah belum diketahui.

Beberapa hari setelah pelayaran dimulai, sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gejala mirip flu seperti demam, nyeri otot, dan gangguan pernapasan yang kemudian diduga berkaitan dengan Hantavirus. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.