Banten

Rupiah Terpuruk dan IHSG Ambles 4 Persen, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Viona Sebastian Nolani | 19 Mei 2026, 13:34 WIB
Rupiah Terpuruk dan IHSG Ambles 4 Persen, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Ilustrasi mata uang rupiah Indonesia yang kini mencatat rekor terlemah. (flickr/Adam Cohn)

AKURAT BANTEN - Nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah setelah pasar keuangan domestik terkena dampak aksi jual global yang dipicu kekhawatiran inflasi dunia.

Pada 18 Mei, rupiah sempat anjlok hingga 1,1 persen ke level 17.658 per dolar Amerika Serikat, menjadikannya mata uang dengan performa paling buruk di kawasan Asia pada hari tersebut.

Tekanan juga terjadi terhadap dolar Singapura.

Rupiah turun 1,2 persen menjadi 13.804 per dolar Singapura.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Alasan Indonesia Borong Jet Rafale, Singgung Ancaman Geopolitik Global

Sepanjang tahun 2026, mata uang Indonesia tercatat sudah melemah sekitar 6 persen terhadap mata uang Negeri Singa tersebut.

Di pasar saham, indeks utama Bursa Efek Jakarta merosot lebih dari 4 persen pada 18 Mei ketika perdagangan kembali dibuka setelah libur akhir pekan.

Pelemahan ini juga terjadi setelah penyedia indeks global MSCI menghapus lebih dari belasan perusahaan Indonesia dari indeks acuannya pekan lalu.

Kemerosotan aset Indonesia mencerminkan gelombang aksi jual yang juga melanda sejumlah pasar Asia lain yang bergantung besar pada impor energi.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan Program Makan Bergizi Gratis Prabowo, Ada Dugaan Korupsi hingga Rp40 Triliun Dipangkas

Kondisi itu membuat ekonomi mereka rentan terhadap lonjakan harga minyak akibat konflik Iran.

"Para investor prihatin terhadap posisi fiskal Indonesia karena tingginya tagihan subsidi energi," ujar Khoon Goh, kepala riset Asia di Australia & New Zealand Banking Group.

Ia menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil global turut memberikan "tekanan pada rupiah karena imbal hasil domestik perlu dinaikkan agar cukup menarik bagi arus masuk asing untuk dipertahankan," katanya sambil memprediksi kenaikan suku bunga pada 20 Mei.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings dan Moody's Ratings juga telah menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif sepanjang tahun 2026.

Di sisi lain, Bank Indonesia kini menghadapi tekanan untuk memperkuat langkah menjaga stabilitas rupiah.

Sepanjang 2026, mata uang Garuda sudah melemah lebih dari 5 persen terhadap dolar AS dan menjadi mata uang dengan performa terburuk kedua di Asia setelah rupee India.

Minggu lalu, bank sentral menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing serta memaksimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter guna menahan tekanan terhadap rupiah.

Namun, sejumlah analis menilai efektivitas kebijakan tersebut masih dipertanyakan karena rupiah sedang tertekan oleh lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal dalam negeri.

Pada 17 Mei, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyinggung pelemahan rupiah dalam dua kesempatan saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Timur.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan masyarakat desa tidak terlalu terdampak karena tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.

"Namun, meskipun nilai tukar terhadap dolar mencapai ribuan rupiah, kalian di desa-desa toh tidak menggunakan dolar," kata Prabowo. 

"Percayalah bahwa ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Apa pun yang orang katakan, Indonesia kuat," tambahnya.

Dalam pidato lainnya, Prabowo kembali menegaskan bahwa ekonomi terbesar di Asia Tenggara tersebut masih memiliki ketahanan yang baik dengan dukungan pasokan pangan dan energi yang mencukupi. Ia juga mengkritik pihak-pihak yang menganggap pelemahan rupiah sebagai tanda memburuknya kondisi ekonomi nasional.

"Banyak negara panik, tetapi Indonesia masih baik-baik saja," katanya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.