Banten

Ribuan Sekolah Terdampak Banjir di Aceh hingga Sumut Mulai Pulih, Kemendikdasmen Gelontorkan Rp2,9 Triliun

Viona Sebastian Nolani | 21 Mei 2026, 14:20 WIB
Ribuan Sekolah Terdampak Banjir di Aceh hingga Sumut Mulai Pulih, Kemendikdasmen Gelontorkan Rp2,9 Triliun
Kemendikdasmen terus mempercepat proses rehabilitasi serta rekonstruksi sektor pendidikan di wilayah terdampak bencana. (kemendikdasmen.go.id)

AKURAT BANTEN - Enam bulan setelah bencana banjir besar menerjang Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatra Utara, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mempercepat proses rehabilitasi serta rekonstruksi sektor pendidikan di wilayah terdampak.

Hingga Mei 2026, sebanyak 4.820 dari total 4.922 sekolah yang terdampak banjir telah kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara normal.

Sementara sebagian sekolah lainnya masih menjalankan pembelajaran di ruang darurat, tenda sementara, maupun menumpang di sekolah lain agar aktivitas belajar siswa tetap berjalan tanpa terhenti.

Dalam upaya pemulihan satuan pendidikan pascabencana, per 12 Mei 2026 Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan revitalisasi kepada 3.084 sekolah dengan total anggaran mencapai lebih dari Rp2,9 triliun.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Kebocoran Triliunan Rupiah, Taipan Komoditas Mulai Waswas

Program revitalisasi tersebut dilaksanakan secara swakelola oleh 2.817 sekolah.

Sedangkan 267 sekolah dengan tingkat kerusakan berat dan memerlukan relokasi dikerjakan melalui kerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dengan nilai anggaran lebih dari Rp446 miliar.

Dari total sekolah penerima bantuan revitalisasi, sebanyak 2.085 sekolah berada di Aceh, 332 sekolah di Sumatra Barat, dan 667 sekolah di Sumatra Utara.

Selain itu, sebanyak 2.861 sekolah penerima bantuan telah memperoleh pencairan dana tahap pertama sebesar 70 persen dengan total nilai lebih dari Rp1,9 triliun.

Baca Juga: Dari Klub Medioker Jadi Raja Eropa, Aston Villa Akhiri Kutukan 44 Tahun dengan Cara Fantastis

Tak hanya fokus pada pemulihan infrastruktur sekolah, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan khusus bagi guru dan tenaga kependidikan (GTK) terdampak bencana.

Bantuan tersebut diberikan kepada 53.215 GTK dengan total anggaran lebih dari Rp286 miliar, masing-masing sebesar Rp2 juta per orang setiap bulan selama tiga bulan.

Di samping itu, berbagai tunjangan guru tetap dicairkan tanpa mewajibkan pemenuhan beban mengajar seperti ketentuan normal.

Total dana tunjangan guru yang telah disalurkan mencapai Rp508,9 miliar.

Kemendikdasmen turut memastikan dukungan operasional pendidikan tetap berjalan melalui penyaluran Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).

Hingga kini, dana BOSP telah diberikan kepada lebih dari 29 ribu satuan pendidikan di wilayah kabupaten terdampak banjir dengan total anggaran mencapai Rp1,98 triliun.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga memberikan kelonggaran pada persyaratan penyaluran dan penggunaan anggaran sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan masing-masing sekolah.

“Pada pekan kedua dan ketiga Mei 2026, kami akan menyelesaikan pencairan kepada 223 satuan pendidikan dengan dana bantuan Rp83,3 miliar. Dan juga menyalurkan bantuan operasional pada masa transisi darurat menuju pemulihan dengan dana bantuan Rp17 miliar. Seluruh bantuan ini bertujuan untuk mendukung keberlangsungan layanan pendidikan agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan di tengah proses pemulihan pascabencana,” ungkap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, Sabtu (16/5).

Di sisi lain, Menteri Mu’ti menyampaikan bahwa Kemendikdasmen terus meningkatkan koordinasi bersama pemerintah daerah terkait penyediaan lahan untuk 65 sekolah yang harus direlokasi akibat dampak banjir.

Selain itu, Kemendikdasmen juga tengah melakukan proses verifikasi bantuan bagi 6.055 guru dengan total anggaran mencapai Rp36,3 miliar.

“Saat ini kami sedang melakukan pelatihan dukungan psikososial serta monitoring kehadiran siswa, guru, dan keterlaksanaan pembelajaran di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Pendampingan praktik baik dan penerapan model pembelajaran darurat juga terus dilakukan bagi sekolah-sekolah terdampak bencana di tiga daerah tersebut guna memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung secara optimal,” pungkas Mendikdasmen.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.