Banten

Prabowo Ungkap Strategi Ekonomi 2027, Pasar Langsung Bereaksi Keras

Viona Sebastian Nolani | 21 Mei 2026, 14:39 WIB
Prabowo Ungkap Strategi Ekonomi 2027, Pasar Langsung Bereaksi Keras
Presiden Indonesia Prabowo Subianto. (Instagram/@prabowo)

AKURAT BANTEN - Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada 20 Mei menyampaikan target besar terkait defisit fiskal dan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2027.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan komitmennya memperkuat institusi negara di tengah kekhawatiran yang masih muncul terhadap arah kebijakan pemerintahannya.

Melalui pidato yang cukup jarang dilakukan di hadapan Parlemen, Prabowo yang pemerintahannya mendapat sorotan ketat sepanjang 2026 terkait pengelolaan ekonomi senilai US$1,4 triliun (S$1,79 triliun), menetapkan sasaran defisit fiskal 2027 di kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Angka itu lebih rendah dibanding proyeksi defisit 2026 yang diperkirakan mencapai 2,9 persen.

Baca Juga: Jakarta Menuju Kota Global, Pemprov DKI Gandeng Kopenhagen untuk Tata Kota Masa Depan

Selain itu, Presiden juga mematok target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 5,8 persen hingga 6,5 persen dengan tingkat inflasi berada pada rentang 1,5 persen sampai 3,5 persen.

Pemerintah, kata Prabowo, akan terus mendorong swasembada pangan serta melakukan reformasi kelembagaan guna menarik investasi baru, sambil tetap memastikan sektor swasta memiliki ruang dalam ekonomi yang semakin berorientasi pada peran negara.

“Jika kita tetap bersatu dan bekerja sama, perusahaan swasta, usaha kecil dan menengah (UKM), pemerintah, daerah atau pusat, semua memiliki panggilan yang sama – kita dapat menciptakan kemakmuran yang luar biasa,” kata Prabowo, seraya menambahkan bahwa negara menginginkan dan membutuhkan keterlibatan sektor swasta.

Pidato tersebut muncul setelah beberapa bulan penuh tekanan bagi ekonomi negara anggota G-20 terbesar di Asia Tenggara itu.

Baca Juga: Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata, Alexandra Eala dan Janice Tjen Bangkitkan Tenis Asia Tenggara

Pada awal 2026, Moody’s dan Fitch menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif karena menilai kredibilitas dan konsistensi kebijakan pemerintah mulai melemah, termasuk kekhawatiran terhadap potensi pelanggaran batas defisit fiskal 3 persen.

Situasi itu semakin diperparah setelah penyedia indeks global MSCI pada Januari 2026 menyoroti masalah transparansi dan memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia sebagai pasar negara berkembang.

Pengumuman tersebut memicu tekanan besar di pasar dengan nilai kapitalisasi yang terpangkas lebih dari US$120 miliar.

Wacana perubahan terhadap batas defisit fiskal yang selama ini diterapkan juga ikut memengaruhi kepercayaan investor.

Baca Juga: Ribuan Sekolah Terdampak Banjir di Aceh hingga Sumut Mulai Pulih, Kemendikdasmen Gelontorkan Rp2,9 Triliun

Kekhawatiran muncul karena Prabowo tetap menjalankan sejumlah program kesejahteraan berbiaya besar, termasuk program unggulan makan siang gratis di sekolah senilai US$20 miliar, di tengah kondisi penerimaan pajak yang masih lemah.

Pada 20 Mei, Prabowo menyebut target penerimaan pajak tahun 2027 berada di kisaran 11,82 persen hingga 12,40 persen terhadap PDB.

Sementara itu, belanja negara ditargetkan mencapai 13,62 persen hingga 14,80 persen dari PDB.

Untuk mendongkrak pendapatan negara, Prabowo juga memastikan pembentukan lembaga baru yang akan mengelola ekspor sejumlah komoditas utama Indonesia seperti nikel, minyak sawit, dan batu bara termal.

Langkah tersebut dilakukan guna menekan apa yang disebutnya sebagai potensi kehilangan pendapatan sebesar US$908 miliar selama 34 tahun terakhir.

Sebagai salah satu kekuatan besar komoditas dunia, Indonesia saat ini merupakan eksportir terbesar batu bara termal dan minyak sawit global.

Namun, rumor pembentukan lembaga baru itu sempat memicu kekhawatiran pasar karena dinilai berpotensi mengubah mekanisme harga dan menekan margin perdagangan.

Dampaknya, indeks saham utama Indonesia turun 3,5 persen pada 19 Mei dan kembali melemah hampir 2 persen pada 20 Mei.

“Saya yakin setiap patriot akan mendukung ini – bumi, air, dan semua sumber daya di dalamnya harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia,” kata Prabowo.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.