Banten

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Naik Ngeri Usai Serangan Amerika Serikat ke Iran

Aullia Rachma Puteri | 26 Mei 2026, 10:40 WIB
Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Naik Ngeri Usai Serangan Amerika Serikat ke Iran
HARGA MINYAK DUNIA NAIK PESAT

AKURAT BANTEN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi internasional.

Harga minyak dunia tercatat mengalami kenaikan signifikan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap wilayah Iran.

Reaksi pasar berlangsung cepat menyusul meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya distribusi minyak global.

Konflik yang melibatkan dua negara tersebut dinilai berisiko memicu ketidakstabilan pasokan energi, terutama di kawasan Teluk.

Baca Juga: Tangis Pecah Saat Kakek Mujiran Bebas dari Penjara, Kasus Getah Karet Berakhir Damai

Dalam perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent dilaporkan bergerak naik hingga mendekati 98 dolar AS per barel.

Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga ikut menguat seiring meningkatnya tensi politik dan militer di Timur Tengah.

Pelaku pasar menilai situasi ini dapat berdampak besar terhadap rantai pasok energi dunia.

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah posisi strategis Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak internasional yang berada di dekat wilayah konflik.

Baca Juga: Trump Klaim Kesepakatan AS dan Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Disebut Segera Dibuka

Selat Hormuz selama ini menjadi lintasan penting ekspor minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan berbagai kawasan lainnya.

Ketika ancaman keamanan meningkat di area tersebut, pasar biasanya langsung merespons dengan lonjakan harga minyak.

Pengamat energi menyebut kondisi geopolitik saat ini membuat pasar menjadi sangat sensitif.

Bahkan eskalasi kecil sekalipun dapat memicu aksi beli besar-besaran karena investor khawatir pasokan energi global terganggu.

Baca Juga: Trump Korbankan Pernikahan Anak Demi Krisis Iran, Ada Apa dengan Negosiasi AS?

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat memang telah beberapa kali memicu gejolak harga minyak sepanjang tahun 2026.

Ketegangan regional juga semakin meningkat setelah sejumlah insiden militer dan ancaman terhadap jalur distribusi energi internasional.

Tidak hanya minyak, ketidakstabilan kawasan Timur Tengah sebelumnya juga sempat berdampak pada pasar gas dunia.

Gangguan produksi LNG di kawasan Teluk membuat harga energi di Eropa ikut mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Gila! RUU Baru Iran Hargai Nyawa Trump dan Netanyahu Rp1 Triliun

Analis ekonomi memperkirakan lonjakan harga minyak berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi global.

Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, dapat menghadapi tekanan inflasi apabila harga energi terus bertahan tinggi.

Kenaikan harga minyak biasanya berdampak langsung terhadap biaya transportasi, logistik, dan produksi industri.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok masyarakat.

Baca Juga: Gila! RUU Baru Iran Hargai Nyawa Trump dan Netanyahu Rp1 Triliun

Saat ini, pelaku pasar masih menunggu perkembangan lanjutan terkait respons Iran maupun langkah diplomatik internasional untuk meredakan konflik.

Jika ketegangan terus meningkat, harga minyak diperkirakan masih berpotensi naik dalam beberapa waktu ke depan.

Sebaliknya, apabila tercapai kesepakatan damai atau penurunan tensi geopolitik, pasar energi diperkirakan dapat kembali stabil.

Namun hingga kini, konflik di Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama investor global karena dampaknya yang sangat besar terhadap ekonomi dunia.

Baca Juga: Perang Dunia Ketiga Siap Mulai? Siaran TV Iran Laporkan Latihan Perang untuk Pertahankan Timur Tengah dan Selat Hormuz

Situasi tersebut membuat pasar internasional terus waspada terhadap setiap perkembangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi kestabilan energi global.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.