Banten

Evaluasi Haji 2026, Menhaj Soroti Masalah Mina dan Perketat Istithaah Kesehatan Jemaah

Viona Sebastian Nolani | 1 Juni 2026, 14:00 WIB
Evaluasi Haji 2026, Menhaj Soroti Masalah Mina dan Perketat Istithaah Kesehatan Jemaah
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Moch Irfan Yusuf. (haji.go.id)

AKURAT BANTEN - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Moch Irfan Yusuf menyampaikan bahwa evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 akan menitikberatkan pada dua aspek penting, yaitu peningkatan layanan jemaah di Mina serta penguatan standar istithaah kesehatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Menhaj saat berbincang dengan tim Media Center Haji di Kantor Daker Makkah, Minggu (31/5/2026).

Menurut Menhaj, kedua aspek tersebut menjadi fokus utama pemerintah dalam upaya meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan kualitas pelayanan bagi jemaah haji Indonesia pada musim haji mendatang.

Ia menilai penyelenggaraan haji tahun ini secara umum berlangsung cukup baik, meski masih terdapat sejumlah hal yang perlu menjadi bahan perbaikan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 1 Juni 2026 Masih Bertahan Tinggi, Beli atau Jual Sekarang?

Salah satu perhatian utama adalah pelayanan dan pengaturan jemaah di Mina.

Kawasan tersebut masih menghadapi tantangan akibat keterbatasan ruang yang harus menampung jumlah jemaah yang terus meningkat setiap tahunnya.

“Jujur untuk Mina kemarin saya jauh dari puas, sehingga tahun depan harus kami cermati lagi bagaimana pergerakan di Mina,” ujarnya.

Selain persoalan di Mina, Menhaj juga menekankan pentingnya memperkuat penerapan istithaah kesehatan bagi calon jemaah haji.

Baca Juga: Temuan BRIN, Sungai Purba yang Tenggelam Ini Mungkin Jadi Rute Migrasi Manusia Modern Awal

Meski jumlah jemaah yang meninggal dunia pada musim haji tahun ini menurun hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, masih ditemukan jemaah yang sesampainya di Arab Saudi langsung memerlukan penanganan medis di rumah sakit.

Karena itu, Menhaj menegaskan bahwa aspek kesehatan harus menjadi prioritas utama dalam proses persiapan keberangkatan haji.

Ia menilai usia tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur kelayakan seseorang untuk berhaji, melainkan kondisi kesehatannya secara keseluruhan.

“Kami tidak bicara usia, tapi bicara kesehatan. Tahun ini ada yang usianya lebih dari 100 tahun dan tetap bisa berangkat karena sehat,” katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Haji dan Umrah berencana memperkuat pembinaan kesehatan bagi calon jemaah sejak jauh hari sebelum keberangkatan.

Bahkan, di beberapa daerah, calon jemaah haji tahun berikutnya sudah mulai dikumpulkan untuk mengikuti manasik sekaligus mendapatkan edukasi tentang pentingnya menjaga kondisi kesehatan agar siap menjalankan rangkaian ibadah haji.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.