Bank Indonesia Kejutkan Pasar! Suku Bunga Naik Jadi 5,50 Persen Saat Rupiah Tertekan

AKURAT BANTEN - Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Selasa (9/6/2026) melalui kebijakan di luar jadwal rutin.
Langkah ini membuat suku bunga acuan naik menjadi 5,50 persen sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah yang terus tertekan hingga mencetak rekor pelemahan baru.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di situs webnya, Bank Indonesia (BI) menyebut keputusan kenaikan suku bunga di luar siklus tersebut diambil karena "nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari yang diperkirakan" sejak rapat kebijakan terakhir digelar.
Padahal, BI sebenarnya dijadwalkan mengadakan pertemuan kebijakan pada pekan depan.
Baca Juga: Mulai Berlaku! Aturan Baru Ekspor Sawit dan Batu Bara Bikin Pengusaha Deg-degan
Namun, tekanan terhadap rupiah semakin meningkat setelah mata uang Indonesia itu anjlok sekitar 8 persen sepanjang tahun ini dan turun 7 persen sejak pecahnya perang Iran, sehingga menempatkannya sebagai salah satu mata uang berkinerja terburuk secara global.
Pasca keputusan tersebut, rupiah sempat bergerak menguat tipis ke level 18.075 per dolar AS, sehari setelah menyentuh posisi terendah baru di angka 18.190 per dolar AS.
Dalam kurun tiga minggu terakhir, pelemahan rupiah tercatat menjadi yang paling tajam sejak tahun 2020.
Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada rapat Mei, lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar.
Baca Juga: Investor Indonesia hingga India Ramai Simpan Emas di Singapura, Ini Alasannya
Namun, kebijakan tersebut, ditambah penggunaan cadangan devisa sebesar US$12 miliar sepanjang tahun ini untuk menopang rupiah, belum berhasil menghentikan tekanan terhadap mata uang domestik.
"Kenaikan suku bunga ini merupakan langkah lebih lanjut untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dampak volatilitas global yang tinggi akibat perang di Timur Tengah dan sebagai tindakan pencegahan untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 dalam kisaran target," kata BI.
Tekanan terhadap rupiah juga dipicu berbagai kekhawatiran investor.
Beberapa di antaranya mencakup rencana belanja besar Presiden Prabowo Subianto, membengkaknya subsidi bahan bakar setelah perang Iran, hingga munculnya keraguan terkait independensi bank sentral dan kebijakan ekspor komoditas baru yang menuai kontroversi.
Di sisi lain, intensitas intervensi BI di pasar valuta asing juga berdampak pada menyusutnya cadangan devisa Indonesia ke titik terendah dalam hampir dua tahun terakhir.
Pada Mei, cadangan devisa turun US$1,3 miliar menjadi US$144,9 miliar, meskipun pemerintah sebelumnya telah menerbitkan obligasi dolar AS dan euro senilai US$3,5 miliar bulan lalu.
Bank Indonesia juga menegaskan bahwa kebijakan kenaikan suku bunga tersebut bertujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik guna menarik arus investasi portofolio asing masuk ke Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menilai imbal hasil obligasi di negara-negara dengan ekonomi sebanding seperti Meksiko, India, dan Filipina memang sudah berada pada level tinggi.
"Untuk itu, mungkin kita memang perlu lebih agresif karena jika kita melihat suku bunga SRBI (sekuritas berdenominasi rupiah BI), sudah mencapai 7,25 persen, yang bahkan lebih tinggi," tambah Sumual, merujuk pada tenor suku bunga 12 bulan.
Dalam catatan analisnya, Barclay's menilai BI juga mengoptimalkan sejumlah instrumen lain guna menarik aliran modal asing.
Strategi itu meliputi pemangkasan 10 persen suku bunga swap lindung nilai bagi investor asing serta menawarkan imbal hasil SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan yang lebih menarik.
Lembaga tersebut juga memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada rapat pekan depan menjadi 5,75 persen.
Bahkan, peluang kenaikan lebih agresif sebesar 50 basis poin juga masih terbuka.
BI mencatat bahwa kebijakan beruntun semacam ini bukan pertama kali dilakukan.
Pada 2013, bank sentral pernah menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 50 basis poin dalam rapat di luar jadwal reguler, sebelum memangkasnya lagi sebesar 25 basis poin beberapa hari setelahnya pada pertemuan resmi.
Barclay's menilai peluang pemangkasan suku bunga tetap terbuka apabila kondisi rupiah kembali stabil dalam beberapa waktu mendatang.
Saat berbicara di parlemen dalam pembahasan proyeksi ekonomi tahun depan, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa bank sentral sebenarnya tidak ingin menaikkan suku bunga.
Namun, langkah itu tetap dilakukan demi meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia.
Ia juga memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran 16.800 hingga 17.500 per dolar AS pada tahun 2027.
Perry menegaskan bahwa BI akan terus memprioritaskan stabilisasi rupiah melalui intervensi valuta asing, baik di pasar domestik maupun internasional.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
- 10Prediksi Australia vs Turki: Adu Generasi Baru di Laga Pembuka Grup D







